Berita

Bank Negara Pakistan (SBP)

Bisnis

Bank Asing Meninggalkan Pakistan, Sebabnya Beraneka Ragam

JUMAT, 22 NOVEMBER 2024 | 23:12 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah bank asing meninggalkan Pakistan. Ini menandakan perubahan signifikan dalam lanskap keuangan negara tersebut. 

Harian berbahasa Inggris terkemuka di Pakistan, Dawn, dalam editorialnya baru-baru ini, menulis sejumlah perusahaan perbankan global, termasuk Barclays, ABN-AMRO, Royal Bank of Scotland, HSBC, Crédit Agricole, dan Société Générale, telah meninggalkan negara tersebut "seperti kebanyakan maskapai penerbangan asing.

Menurut editorial tersebut, beberapa bank internasional lainnya, termasuk Samba yang berkantor pusat di Saudi, juga mencoba untuk menutup operasi dan menarik aset mereka di Pakistan, atau mengurangi operasi bisnis dan cabang mereka.


Tren bank-bank asing yang meninggalkan Pakistan ini dapat dikaitkan dengan beberapa faktor yang kompleks, termasuk ketidakstabilan ekonomi, tantangan regulasi, dan strategi global yang terus berkembang.

Implikasi dari penarikan ini beragam, tidak hanya memengaruhi sektor keuangan Pakistan tetapi juga ekonomi secara keseluruhan, komunitas bisnis, dan kepercayaan investor internasional.

Menurut para ekonom, hengkangnya bank-bank asing dari Pakistan dapat dikaitkan dengan kombinasi tantangan internal, tekanan eksternal, dan penataan ulang strategis oleh bank-bank itu sendiri.

Pakistan telah menghadapi tantangan ekonomi yang terus-menerus, termasuk tingginya tingkat utang publik, rendahnya cadangan devisa, dan depresiasi mata uang. Masalah-masalah ini menciptakan lingkungan volatilitas keuangan yang memengaruhi profitabilitas dan kelangsungan hidup jangka panjang bank-bank asing.

Rupee Pakistan (PKR) telah mengalami depresiasi yang signifikan selama beberapa tahun terakhir, mengikis nilai investasi dan memengaruhi pendapatan bank-bank asing yang beroperasi dalam mata uang lokal.

Ketidakstabilan politik semakin memperparah tantangan ekonomi ini. Ketidakpastian kebijakan, seringnya perubahan dalam pemerintahan, dan keresahan sosial menciptakan lingkungan operasi yang menantang, menjadikan Pakistan tujuan yang kurang menarik bagi bank-bank asing yang memprioritaskan pasar yang stabil.

Lingkungan regulasi di Pakistan sering disebut sebagai rintangan utama lainnya bagi bank asing. Bank Negara Pakistan (SBP) memberlakukan persyaratan ketat pada lembaga keuangan asing, yang dapat membuat kepatuhan menjadi beban dan mahal.

Regulasi anti pencucian uang (AML) dan anti pendanaan terorisme (CTF), meskipun diperlukan, mengharuskan bank untuk berinvestasi besar dalam infrastruktur kepatuhan, sehingga meningkatkan biaya operasional.

Selain itu, persyaratan regulasi yang terus berkembang dan potensi sanksi yang terkait dengan ketidakpatuhan dapat membuat bank asing menghadapi risiko reputasi. Kekhawatiran ini khususnya relevan mengingat Pakistan telah menghadapi pengawasan internasional atas pencucian uang dan pendanaan terorisme, dengan Gugus Tugas Aksi Keuangan (FATF) menempatkan negara tersebut dalam "daftar abu-abu" untuk waktu yang lama.

Selain faktor lokal, bank asing telah meninjau kembali strategi global mereka untuk fokus pada wilayah yang menawarkan pengembalian dan potensi pertumbuhan yang lebih tinggi. Banyak bank internasional, termasuk HSBC dan Citibank, telah mengalihkan fokus mereka ke pasar Asia-Pasifik, khususnya Tiongkok, India, dan Asia Tenggara, tempat tingkat pertumbuhan ekonomi dan peluang keuangan lebih menjanjikan.

Sebaliknya, ukuran pasar Pakistan yang relatif kecil dan prospek pertumbuhan yang moderat membuatnya kurang menarik bagi bank yang ingin mengoptimalkan portofolio global mereka.

Bagi bank-bank ini, divestasi dari Pakistan sejalan dengan tujuan mereka yang lebih luas untuk berfokus pada wilayah dengan indikator ekonomi yang lebih kuat dan risiko operasional yang lebih rendah. Masalah keamanan dan risiko operasional: Bank-bank asing di Pakistan juga menghadapi tantangan operasional yang unik yang berasal dari risiko keamanan.

Situasi keamanan di negara tersebut belum banyak membaik selama dekade terakhir, dan lembaga-lembaga asing di Pakistan menghadapi risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasar-pasar lain.

Masalah yang terkait dengan keamanan fisik, ancaman dunia maya, dan perlindungan data semakin mempersulit operasi bank-bank internasional yang sangat sensitif terhadap faktor apa pun yang dapat membahayakan reputasi global mereka.

Selain itu, biaya keamanan yang lebih tinggi dan risiko gangguan karena ketegangan geopolitik menambah kalkulasi risiko keseluruhan untuk bank-bank ini.

Hengkangnya bank-bank asing berdampak besar pada lanskap keuangan Pakistan, yang berdampak pada segala hal mulai dari akses terhadap modal dan investasi asing hingga persaingan dalam sektor perbankan.

Bank-bank asing sering kali berfungsi sebagai saluran masuknya modal, memfasilitasi investasi dalam proyek-proyek lokal, usaha patungan, dan pembiayaan perdagangan.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Trump Singkirkan Opsi Senjata Nuklir di Perang Iran

Jumat, 24 April 2026 | 16:14

Pengamat Bongkar Motif Ekonomi di Balik Serangan Trump ke Iran

Jumat, 24 April 2026 | 15:44

BPKH Pastikan Nilai Manfaat Dana Haji Kembali ke Jemaah

Jumat, 24 April 2026 | 15:38

40 Kloter Berangkat di Hari Keempat Operasional Haji, Satu Jemaah Wafat

Jumat, 24 April 2026 | 15:31

AHY Pastikan Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja-Solo Berjalan Optimal

Jumat, 24 April 2026 | 15:24

Bahlil Harusnya Malu, Tugas Menteri ESDM Dikerjakan Presiden

Jumat, 24 April 2026 | 15:13

Iran Bebaskan Tarif Hormuz untuk Rusia dan Sejumlah Negara

Jumat, 24 April 2026 | 14:46

KPK Periksa Saksi Terkait Rp8,4 Miliar yang Disebut Khalid Basalamah

Jumat, 24 April 2026 | 14:43

Anak Buah Zulhas Sangkal KPK: Jabatan Ketum Tak Bisa Diintervensi

Jumat, 24 April 2026 | 14:17

Dorong Kartini Melek Digital, bank bjb Genjot UMKM Naik Kelas

Jumat, 24 April 2026 | 14:16

Selengkapnya