Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Revolusi Indonesia dan Kaum Muda

Oleh: Dwi Gema Kumara*
KAMIS, 21 NOVEMBER 2024 | 06:12 WIB

REVOLUSI Indonesia tidak hanya berakhir pada saat kemerdekaan diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Menurut Bung Karno, revolusi adalah suatu proses yang terus berlanjut, baik dalam aspek politik, ekonomi, sosial, maupun budaya. 

Revolusi yang dimaksud bukan hanya perjuangan fisik untuk merebut kemerdekaan, tetapi juga perjuangan ideologis dan pembangunan yang tak kunjung selesai. Menurut Bung Karno, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam membangun bangsa yang merdeka dan berdaulat. 

Kaum muda sebagai penerus bangsa, memegang peran penting dalam melanjutkan perjuangan ini. Di era kontemporer, kaum muda dituntut untuk memperkuat kepemimpinan mereka dengan dasar nasionalisme yang kuat, guna menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.


Konsep Revolusi yang Belum Selesai

Bung Karno mengajukan konsep bahwa revolusi Indonesia bukan hanya perjuangan untuk meraih kemerdekaan dari penjajahan Belanda, tetapi juga sebuah proses transformasi yang mencakup revolusi ideologi, sosial, ekonomi, dan budaya. Dalam pandangannya, setelah proklamasi kemerdekaan, Indonesia masih terjebak pada masalah internal yang kompleks, yang menghalangi tercapainya cita-cita kemerdekaan sesungguhnya. Revolusi ini harus terus berlanjut melalui tiga tahapan besar yang dirumuskan oleh Bung Karno.

Revolusi Kemerdekaan: Tahap pertama ini adalah perjuangan fisik untuk merebut kemerdekaan dari penjajah. Ini adalah puncak perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan hak untuk hidup sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.
  
Revolusi Pembangunan: Setelah Indonesia merdeka, tantangan berikutnya adalah membangun negara. Indonesia menghadapi kemiskinan, ketidakmerataan pembangunan, dan perpecahan sosial. Bung Karno percaya bahwa pembangunan yang sejati tidak hanya mengarah pada pencapaian material, tetapi juga pada pembangunan moral dan karakter bangsa. Revolusi pembangunan ini adalah tentang menciptakan keadilan sosial dan meratakan kemakmuran di seluruh Indonesia.

Revolusi Budaya: Menurut Bung Karno, revolusi budaya adalah bagian yang sangat penting dalam memperkuat identitas bangsa Indonesia. Indonesia, dengan beragam budaya dan suku, harus membangun budaya yang mampu mengikat keberagaman menjadi kekuatan yang menyatukan. Revolusi budaya ini bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang memiliki nilai-nilai luhur, berpikiran maju, dan berperadaban tinggi.

Bung Karno menganggap bahwa perjuangan untuk mewujudkan Indonesia yang merdeka secara hakiki dan adil bagi seluruh rakyat masih belum selesai. Baginya, revolusi tidak hanya berhenti pada kemerdekaan politik, melainkan juga pada pencapaian kesejahteraan, keadilan, dan kebudayaan yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa.

Tantangan Kaum Muda di Era Kontemporer

Di era kontemporer, kaum muda Indonesia menghadapi tantangan yang jauh lebih beragam dan kompleks. Seiring dengan perkembangan globalisasi, revolusi teknologi, dan perubahan sosial, peran generasi muda dalam melanjutkan cita-cita Bung Karno menjadi semakin penting. 

Kaum muda saat ini menghadapi banyak tantangan. Di antaranya, pertama, globalisasi yang membawa perubahan besar dalam berbagai bidang, seperti teknologi, komunikasi, ekonomi, dan budaya. Pengaruh budaya asing sangat kuat, dan seringkali mengancam identitas nasional. Di sisi lain, globalisasi juga membuka kesempatan baru bagi Indonesia untuk berpartisipasi dalam percaturan dunia. Kaum muda Indonesia harus mampu memanfaatkan peluang ini tanpa kehilangan jati diri nasional mereka. Nasionalisme yang dibangun oleh Bung Karno harus menjadi landasan yang kokoh bagi generasi muda untuk bersaing di dunia global tanpa meninggalkan akar budaya bangsa.

Kedua, kemajuan teknologi dan perubahan ekonomi. Teknologi membawa perubahan besar dalam cara hidup dan cara kerja. Era digital membuka peluang bagi inovasi dan perkembangan ekonomi yang pesat. Namun, tantangan besar bagi kaum muda adalah bagaimana memanfaatkan teknologi untuk mempercepat pembangunan tanpa memperburuk ketimpangan sosial dan ekonomi. Kaum muda Indonesia dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka harus menguasai keterampilan baru dan mampu bersaing di pasar global yang semakin kompetitif.

Ketiga, kepemimpinan dan keterlibatan politik. Kaum muda harus memiliki kepemimpinan yang visioner dan bertanggung jawab untuk menghadapi berbagai tantangan besar yang dihadapi bangsa. Sebagaimana Bung Karno menegaskan pentingnya kepemimpinan nasional yang memiliki jiwa perjuangan, karakter yang kuat, serta visi yang jelas, generasi muda saat ini juga harus mampu menjadi pemimpin yang berani, jujur, dan berpihak pada kepentingan rakyat. Kaum muda harus terlibat aktif dalam politik, tidak hanya sebagai pemilih, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu menggerakkan masyarakat untuk mewujudkan cita-cita bangsa.

Keempat, pendidikan dan pengembangan karakter. Pendidikan adalah kunci untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya dimaksudkan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga untuk membangun karakter yang kuat. Kaum muda harus didorong untuk menjadi pribadi yang memiliki rasa tanggung jawab sosial, nasionalisme yang tinggi, dan etika kerja yang baik. Sebagaimana Bung Karno menekankan pentingnya pembangunan moral dan mental bangsa, pendidikan yang holistik menjadi hal yang sangat vital untuk menciptakan pemimpin masa depan.

*Penulis adalah Alumni Filsafat Universitas Indonesia, Pengkaji Kebangsaan di Forum Cendekia Muda Bandung

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Pengamat Ingatkan AI hanya Alat Bantu, Bukan Pengganti Manusia

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:15

Menelusuri Asal Usul Ngabuburit

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:15

Din Syamsuddin: Board of Peace Trump Bentuk Nekolim Baru

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:01

Sambut Tahun Kuda Api, Ini Jadwal Libur Imlek 2026 untuk Rencanakan Kumpul Keluarga

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:52

Cadangan Devisa RI Menciut Jadi Rp2.605 Triliun di Awal 2026

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:47

Analisis Kebijakan MBG: Antara Tanggung Jawab Sosial dan Mitigasi Risiko Ekonomi

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:41

ISIS Mengaku Dalang Bom Masjid Islamabad

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:31

Dolar AS Melemah, Yen dan Pound Terdampak Ketidakpastian Global

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:16

Golkar: Indonesia Bergabung ke Dewan Perdamaian Gaza Wujud Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:01

Wall Street Perkasa di Akhir Pekan, Dow Jones Tembus 50.000

Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:52

Selengkapnya