Berita

Ilustrasi (Foto: msn.com, yonhap)

Bisnis

China Masih Gawat, IHSG Gagal Bangkit

SENIN, 11 NOVEMBER 2024 | 16:35 WIB | OLEH: ADE MULYANA

SERIUSNYA situasi perlambatan ekonomi China terlihat kian mengkhawatirkan. Laporan terkini menyangkut inflasi bulanan memperlihatkan masih lemahnya permintaan di negeri dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu. Sebagaimana dilaporkan, inflasi Oktober lalu yang hanya mencapai 0,3 persen atau lebih kecil dari ekspektasi sebesar 0,4 persen.

Laporan juga menunjukkan, inflasi yang melambat kali ini sebagai kelanjutan dari perlambatan yang terjadi pada September sebelumnya. Data yang jauh dari bersahabat ini, membuat pelaku pasar di Asia kesulitan untuk mengambil sikap optimis dalam mengawali sesi perdagangan pekan ini, Senin 11 November 2024.

Pelaku pasar kini semakin mencurigai bahwa serangkaian langkah yang diambil pemerintahan Xi Jinping masih jauh dari memadai untuk membangkitkan perekonomian China yang sedang lesu berat itu. Laporan terkait sebelumnya menyebutkan, pemerintahan Xi Jinping yang bersiap mengguyur paket stimulus sebesar $1,4 milyar guna menangani suramnya perekonomian. Namun kalangan analis menilai besaran tersebut jauh dari memadai, terlebih dengan rilis data inflasi terkini. Performa perekonomian China, diyakini dalam situasi serius alias gawat.


Akibatnya, di tengah bekal sentimen dari positif nya Wall Street dalam menutup pekan lalu, tekanan jual mendominasi di Bursa Asia untuk menekan Indeks di zona merah. Penurunan Indeks terjadi dalam rentang bervariasi, namun terlihat jelas optimisme yang sulit tumbuh di kalangan pelaku pasar.

Hingga sesi perdagangan ditutup, Indeks Nikkei (Jepang) tercatat mampu beralih untuk menjejak zona kenaikan sangat tipis dengan naik 0,08 persen di 39.533,32 setelah sempat konsisten menapak zona penurunan moderat, sementara indeks KOSPI (Korea Selatan) ambruk tajam 1,15 persen di 2.531,66, dan indeks ASX200 (Australia) terkoreksi 0,35 persen di 8.266,2.

Kabar sedikit melegakan datang dari sesi perdagangan di Jakarta, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu berupaya bangkit dengan mengikis penurunan curam yang telah dibukukan pada sesi perdagangan pagi. IHSG kemudian menutup sesi sore dengan turun moderat 0,28 persen di 7.266,46.

Kemampuan IHSG mengikis koreksi kali ini terlihat belum sepenuhnya mencerminkan pudarnya pesimisme. Sentimen miring dari sesi perdagangan di Asia menjadi latar bertahan kukuhnya pesimisme. Situasi ini menjadi semakin sulit dengan hadirnya sentimen domestik yang kurang bersahabat dari rilis data indeks keyakinan konsumen yang dilaporkan turun pada Oktober lalu di posisi 121,1.

Kinerja IHSG akhirnya karib dengan tekanan jual dan itu tercermin pada pola gerak saham unggulan. Sejumlah besar saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan masih terseok di zona merah, seperti: BBRI, BBCA, ADRO, TLKM, UNTR, PGAS, ISAT, SMGR serta PTBA.

Sementara sejumlah saham unggulan lain mampu beralih positif di penutupan sesi perdagangan sore, seperti: BMRI, INDF, BBNI, dan ASII. Pola gerak saham unggulan ini kemudian secara bersama menghantarkan IHSG terhenti di rentang terbatas.

Rupiah Bergerak Sempit

Pola gerak agak berbeda terjadi pada nilai tukar Rupiah, dengan sentimen global yang melingkupi masih cenderung suram. Pantauan menunjukkan, kinerja mata uang utama dunia yang masih bertahan di level terlemahnya hingga sesi perdagangan sore ini di Asia.

Sentimen dari kemenangan Trump dalam pilpres AS masih menjadi motor utama melemah nya mata uang utama dunia. Akibat lanjutannya, mata uang Asia turut terseret merah dalam menjalani sesi pembukaan pekan ini. Pantauan bahkan memperlihatkan, nyaris seluruh mata uang Asia yang kompak menjejak zona merah.

Sementara pada Rupiah, upaya untuk melawan sentimen global sempat terlihat di awal sesi perdagangan pagi. Namun rilis data domestik dari Indeks keyakinan konsumen yang turun membuat Rupiah akhirnya turut terseret dalam zona pelemahan. Hingga ulasan ini disunting, Rupiah tercatat diperdagangkan di kisaran Rp 15.680 per Dolar AS atau melemah moderat 0,1 persen.

Sementara pada mata uang Asia memperlihatkan, nilai tukar Rupee India dan Dolar Hong Kong yang masih berupaya bertahan di zona penguatan sangat tipis namun rentan untuk beralih merah. Sedangkan Baht Thailand tercatat runtuh hingga 0,7 persen untuk mengukuhkan diri sebagai mata uang dengan pelemahan tersuram di Asia.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Sidang 6 Agustus Bukan Kemenangan yang Dianulir

Jumat, 31 Juli 2026 | 04:05

Jakarta Libatkan Kawasan Aglomerasi dalam Lestarikan Budaya Betawi

Jumat, 31 Juli 2026 | 04:01

Pengurangan Timbulan Sampah Plastik Bisa Dimulai dari Pasar Tradisional

Jumat, 31 Juli 2026 | 03:44

Timnas Garuda Bidik Tiga Poin dari Timor Leste

Jumat, 31 Juli 2026 | 03:17

Hariman hingga Bursah Zarnubi Ramaikan Peluncuran Enam Buku Isti Nugroho

Jumat, 31 Juli 2026 | 03:00

Wakapolri-Wamenhut Konsolidasi Hadapi El Nino dan Karhutla

Jumat, 31 Juli 2026 | 02:23

Pembunuh Perempuan di Kamar Kos di Grogol Petamburan Dibekuk

Jumat, 31 Juli 2026 | 02:13

Fahira Idris Sodorkan Tujuh Rekomendasi Bangun Jakarta

Jumat, 31 Juli 2026 | 02:02

Kawasan Transmigrasi Harus Punya Daya Tarik Investasi

Jumat, 31 Juli 2026 | 01:39

Peluncuran Enam Buku

Jumat, 31 Juli 2026 | 01:28

Selengkapnya