James David "JD" Vance, yang sebelumnya dikenal sebagai kritikus Donald Trump, kini akan berdampingan dengan Trump sebagai wakil presiden. Ia juga menjadi wakil presiden termuda sejak era Richard Nixon.
Delapan tahun lalu, saat kampanye pemilihan presiden 2016, Vance pernah menyebut Trump sebagai “idiot” dan “tercela.” Bahkan, ia membandingkan pengusaha tersebut dengan Adolf Hitler.
Namun, seiring berjalannya waktu, sikap Vance terhadap Trump berubah drastis. Kini, di usia 40 tahun, Vance menjadi salah satu pendukung gerakan "Make America Great Again."
Profil JD VanceVance dilahirkan dalam keluarga kelas pekerja di Middletown, Ohio. Pengalamannya tumbuh di daerah Rust Belt menjadi inspirasi memoar Hillbilly Elegy yang diterbitkan pada 2016.
Buku tersebut mengungkap kerasnya kehidupan yang dijalani keluarganya, termasuk perjuangan sang ibu melawan kecanduan, dan upayanya memahami dukungan masyarakat miskin kulit putih terhadap Trump.
Memoar ini diadaptasi menjadi film oleh Ron Howard, yang kemudian mendongkrak popularitasnya.
Sebelum terjun ke politik, Vance memiliki latar belakang yang beragam. Ia bergabung dengan Korps Marinir pada 2003-2007 sebagai petugas urusan publik, menerima beberapa penghargaan, termasuk Medali Prestasi Angkatan Laut dan Korps Marinir serta Medali Kampanye Irak.
Setelah bertugas, ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum Yale dan berkarir sebagai kapitalis ventura di San Francisco.
Transformasi Politik JD Vance Pada 2022, Vance mencalonkan diri dan memenangkan kursi Senat di Ohio, mengalahkan kandidat Demokrat Tim Ryan.
Dalam kampanye ini, ia menunjukkan kesetiaannya terhadap Trump, yang membantunya meraih dukungan mantan presiden tersebut.
Vance mengakui bahwa perubahan pandangannya terhadap Trump dipicu kesadaran bahwa kritiknya sebelumnya lebih menyoal gaya daripada substansi kebijakan.
"Saya terlalu fokus pada gaya Trump sehingga mengabaikan bagaimana ia menawarkan kebijakan luar negeri, perdagangan, dan imigrasi yang sangat berbeda," ujar Vance kepada The New York Times pada Juni 2024.
Transformasi politik ini menuai kritik, termasuk dari profesor politik David Niven yang menilainya sebagai bentuk oportunisme.
"Vance adalah gaung Trump," ujar Niven, yang juga pernah bekerja untuk Partai Demokrat, dikutip 11 November 2024. "bukan suara baru." tandasnya.
Namun, dukungan kuat Vance terhadap kebijakan pertahanan dan sikap skeptis terhadap perusahaan besar justru memperkuat simpati dari basis pendukung Trump yang mendambakan perubahan dalam Partai Republik.
Dengan terpilihnya Vance sebagai wakil presiden, Trump menegaskan arah baru Partai Republik yang lebih fokus pada kelas pekerja sekaligus menjadikannya figur utama dalam era baru mendatang.