Berita

Ilustrasi (Foto: bloomberg.com)

Bisnis

Saham Bakrie Unjuk Gigi, IHSG Intai 7.800

RABU, 23 OKTOBER 2024 | 16:36 WIB | OLEH: ADE MULYANA

Untuk kesekian kalinya kinerja saham-saham dalam kelompok konglomerasi Aburizal Bakrie mendominasi jalannya sesi perdagangan. Kali ini, dalam sesi pertengahan pekan, Rabu 23 Oktober 2024, empat saham group Bakrie yang masuk dalam jajaran saham teraktif berdasar nilai perdagangan. Keempat saham tersebut adalah BUMI, BRMS, ENRG dan UNSP.

Yang lebih mengesankan, kinerja saham ENRG yang kali ini membukukan lonjakan sangat fantastis hingga 18,75 persen dengan menjejak posisi Rp304. Sementara saham lainnya, BUMI melonjak 4,25 persen di Rp147, BRMS melompat 1,05 persen di Rp382, dan UNSP yang melambung 9,47 persen di Rp104.

Aksi empat saham group Bakrie yang dominan tersebut sudah barang tentu berkontribusi pada gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berhasil menutup dengan flat alias turun sangat tipis 0,01 persen di 7.787,56 yang sekaligus dekat dengan level psikologis nya di kisaran 7.800. Pantauan RMOL menunjukkan, gerak IHSG yang konsisten menjejak zona pelemahan terbatas. Gerak IHSG secara perlahan mencoba beralih ke zona positif sejak pertengahan sesi perdagangan sore namun kemudian kembali terjebak di zona merah.


Pantauan lebih jauh memperlihatkan, kinerja saham unggulan yang bervariasi dalam sesi kali ini sebagai cermin dari sikap ragu investor di Jakarta dalam merespon serangkaian perkembangan terkini. Sejumlah saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan berhasil menutup dengan kenaikan, seperti: BBCA, ASII, BBNI, INDF, PGAS, JPFA dan LSIP. Namun sejumlah saham unggulan lain masih terjebak di zona merah, seperti: BBRI, ADRO, TLKM, UNTR serta PTBA.

Laporan lebih jauh menyebutkan, kinerja IHSG yang kurang menggigit kali ini terjadi di tengah upaya bursa saham Asia untuk bertahan positif. Minimnya sentimen yang tersedia, membuat investor kesulitan menemukan pijakan untuk melakukan aksi akumulasi dengan agresif. Gerak mixed Indeks di Asia akhirnya menjadi pilihan.

Hingga sesi perdagangan berakhir, Indeks Nikkei (Jepang) terkoreksi 0,8 persen di 38.104,86, sementara indeks KOSPI (Korea Selatan) melambung 1,12 persen di 2.599,62, dan indeks ASX200 (Australia) menguat 0,13 persen di 8.216.

Secara keseluruhan, sikap ragu investor lebih dilatari oleh penantian pada kepastian The Fed untuk melanjutkan penurunan suku bunga. Serangkaian rilis data perekonomian terkini sebelumnya dinilai memperlihatkan terbatasnya peluang The Fed untuk melanjutkan penurunan suku bunga.

Sentimen lain yang ditunggu perkembangan nya adalah tensi di Timur Tengah, di mana serangan balasan Israel terhadap Iran masih dikhawatirkan memperluas cakupan perang.

Dolar AS Masih Ganas

Kinerja lebih buruk terjadi di pasar uang, di mana nilai tukar Rupiah semakin tertekan di sesi perdagangan sore. Tekanan jual yang mendera Rupiah terlihat seiring dengan situasi di pasar global. Pantauan RMOL menunjukkan, seluruh mata uang Asia yang telah kompak menjejak zona pelemahan dalam rentang bervariasi.

Mata uang Asia terlihat kesulitan untuk sekedar mengikis tekanan jual yang hinggap. Sentimen dari ekspektasi kebijakan penurunan suku bunga lanjutan oleh The Fed menjadi latar utama suramnya mata uang Asia.

Laporan lebih jauh menunjukkan, kinerja mata uang utama dunia yang juga suram. Kesuraman tersebut kemudian menghajar mata uang Asia. Rupiah, oleh karenya kembali terseret dalam zona pelemahan. Hingga sesi perdagangan sore ini berlangsung, Rupiah tercatat diperdagangkan di kisaran Rp15.615 per Dolar AS atau melemah 0,39 persen.

Pantauan juga menunjukkan, mata uang Baht Thailand yang menjadi mata uang Asia dengan pelemahan terburuk setelah runtuh hingga 0,66 persen.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Bahaya Tersembunyi Kerikil di Ban Mobil dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:15

PKS: Pemerintah harus Segera Tetapkan Aturan Pembatasan BBM Bersubsidi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:14

Mengupas Bahaya Air Keras Menyusul Kasus Penyerangan Aktivis KontraS di Jakarta

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:52

Kemenhaj Tegaskan Komitmen Haji Inklusif bagi Lansia dan Disabilitas

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:47

Qatar Kutuk Serangan Brutal Israel di Lebanon

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Tembus 103 Dolar AS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:10

AS Kirim Ribuan Marinir ke Timur Tengah, Iran Terancam Invasi Darat

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:41

Wall Street Rontok Menatap Kemungkinan Inflasi Global

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:23

Transformasi Kinerja BUKA: Dari Rugi Menjadi Laba Rp3,14 Triliun di 2025

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:08

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Selengkapnya