Berita

Keluarga Joko Widodo/RMOL

Hukum

KPK Harus Serius Usut Dugaan Korupsi Keluarga Jokowi

Sudah Terlalu Banyak Dosa
JUMAT, 20 SEPTEMBER 2024 | 15:05 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diharapkan  serius mengusut dugaan korupsi yang dilakukan keluarga Presiden Joko Widodo. Mengingat, dosa-dosa Jokowi, keluarga dan kroninya sudah tidak terhitung.

Begitu disampaikan Presidium Forum Alumni Kampus Seluruh Indonesia (AKSI), Juju Purwantoro merespons ramainya dugaan penerimaan gratifikasi oleh putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep dan menantu Jokowi, Bobby Nasution.

Menurut Juju, Kaesang merupakan anak kandung Presiden Jokowi. Oleh karenanya, KPK berwenang menangani kasus korupsi yang melibatkan penyelenggara negara (PN), aparat penegak hukum (APH), dan pihak lainnya yang terlibat.


"Hal tersebut tercantum dalam UU 19/2019 Jo UU 30/2002 Pasal 11 huruf (a). Dengan demikian, KPK berwenang memanggil, dan atau memeriksa Kaesang mengenai perjalan dan atau penerbangannya ke AS menggunakan private jet, meskipun beliau bukan PN," kata Juju kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Jumat (20/9).

Juju menilai, kedatangan Kaesang ke KPK beberapa waktu lalu bukanlah dilakukan secara sukarela, tetapi hanya berdalih setelah kasusnya ramai dan berpolemik di publik.

"Setelah kedatangannya ke KPK tersebut, akankah membebaskan dirinya dari jerat hukum? tentu saja sama sekali tidak," terang Juju.
 
Juju menekankan, dibutuhkan keseriusan dari KPK untuk mendalami pemeriksaannya tanpa memandang atau tebang pilih, sekalipun seorang anak presiden.

"Sebagai contoh, KPK bisa mengeksaminasi, mengadili dan menghukum 14 tahun penjara kasus Rafael Alun, pejabat Direktorat Jenderal Pajak, Kemenkeu RI. Bermula dari ulah anaknya, Mario Dandy Satrio yang juga dihukum penjara karena menganiaya seorang remaja berumur 17 tahun di Jakarta Selatan," kata Juju.

Awalnya, kata Juju, KPK juga menolak memproses dengan alasan tidak ada tindak pidana korupsi yang dilakukan Rafael.

"Oleh karenanya tidak ada alasan KPK menolak atau tidak bisa memproses kasus berdasarkan kasus Kaesang. Hal itu akan terkait efek domino kasus korupsi yang juga dilakukan oleh kakak perempuan dan iparnya, Walikota Medan Bobby Nasution di kasus "Blok Medan".

Belum lagi, kata Juju, ada juga kasus fufufafa yang diduga melibatkan kakak kandung Kaesang, Gibran Rakabuming Raka, yang juga menjadi sorotan masyarakat karena diduga menghina Presiden terpilih, Prabowo Subianto.

"KPK dapat segera memeriksa berdasarkan Pasal 2, 3, 5, dan pasal 12 UU Tipikor," kata Juju.

Sementara itu, untuk Bobby kata Juju, KPK juga dapat memproses pidana terkait dugaan gratifikasi pesawat charter milik pengusaha Mesan Asian Capital Grup berinisial RA. Mengingat, Bobby merupakan Penyelenggara Negara sebagai Walikota Medan.

Apalagi, kata Juju, Bobby tidak melaporkan penerimaan gratifikasi dalam waktu 30 hari sesuai dengan UU.

"Faktanya Bobby tidak melapor dalam waktu 30 hari kerja, padahal peristiwanya telah terjadi sejak tanggal 11 Desember 2022," kata Juju. 

"Oleh karenanya kasus ini bukan lagi gratifikasi, tapi sudah bisa berstatus suap kepada penyelenggara negara. Kecuali Bobby mencharter jet pribadi dengan biaya sendiri, dan beliau harus buktikan dari mana asal uang tersebut," sambungnya.

Untuk itu, kata Juju, berdasarkan Pasal 55 KUHP, maka KPK dimungkinkan segera melakukan penyelidikan dan penyidikan terkait Kaesang sebagai saksi yang pernah menumpang jet pribadi, karena turut serta melakukan tindak pidana.

"KPK dalam kasus ini dapat mengundang beberapa orang sebagai saksi, antara lain, Erina Gudono (istri Kaesang), orang yang ikut dalam penerbangan, pihak pemilik pesawat charter, pihak perusahaan Shopee, dan pelbagai pihak terkait," kata Juju.

"Akhirnya, Jokowi dan keluarganya, termasuk Kaesang dapat dilanjutkan pemeriksaannya atau eksaminasi oleh KPK. Mereka bisa dihukum dan dipenjarakan berdasarkan asas kesamaan dalam hukum," demikian Juju.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Ketua KNPI Merauke Ajak Generasi Muda Berkontribusi bagi Kemajuan Daerah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 04:19

Kedaulatan Teknologi Faktor Penting Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:55

PKS Desak Pemerintah Bersikap Proporsional Terkait MSCI

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:25

Solusi Kasus Business Judgement Rule Sektor Perumahan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:57

Waka BRIN Pimpin Delegasi RI Perjuangkan Space Economic di Konferensi PBB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:32

Pertamina Didorong Ambil Alih Proyek Migas Mangkrak Demi Genjot Produktivitas

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:12

KPK Endus Ada Kickback Vendor kepada Pejabat BNPB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:59

Presiden PKS Wanti-wanti Bahaya AI sebagai Senjata Fitnah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:34

Masih Atur Waktu, KPK Bantah Ada Kendala dalam Pemanggilan Nusron

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:04

Polri Utamakan Pendekatan Humanis dan Edukatif Selama Operasi Patuh 2026

Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:42

Selengkapnya