Berita

Ilustrasi/UNC

Dunia

AS Berusaha Ciptakan NATO Versi Asia Lewat Komando PBB

SENIN, 16 SEPTEMBER 2024 | 16:36 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Amerika Serikat disebut tengah berusaha memunculkan alat perang dan konfrontasi baru di Semenanjung Korea dengan melibatkan badan PBB yang sudah lama tidak berfungsi yakni United Nations Command (UNC).

UNC atau Komando PBB adalah pasukan militer multinasional yang dibentuk  pada 24 Juli 1950 untuk mendukung Korea Selatan selama Perang Korea. Saat itu ada 22 negara menyumbangkan personel militer atau medis ke badan tersebut.

Setelah gencatan senjata tercapai, pada tahun 1975 Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi 3390 (XXX), yang menyerukan perjanjian damai, dan menyatakan harapan bahwa UNC akan dibubarkan pada 1 Januari 1976.


Namun, UNC terus berfungsi setelah itu. Dikomandoi Amerika, tugas badan ini utamanya menjaga gencatan senjata dan memfasilitasi diplomasi antara Korea Utara dan Korea Selatan.

Upaya AS dan Korea Selatan untuk membangkitkan kembali UNC, seperti yang tercermin dalam deklarasi bersama di pertemuan tersebut, tentu memantik amarah Korea Utara.

Juru bicara Lembaga Perlucutan Senjata dan Perdamaian Kementerian Luar Negeri Korea Utara mengecam upaya AS melibatkan negara-negara anggota UNC dalam berbagai latihan gabungan yang bersifat agresif dan mengancam stabilitas kawasan

"Kami menyebut tindakan konfrontatif AS dan pasukan bawahannya sebagai provokasi politik dan militer yang sangat berbahaya yang akan menyebabkan ketidakseimbangan keamanan dan meningkatkan bahaya perang di semenanjung Korea," tegasnya dalam sebuah pernyataan yang diterima redaksi pada Senin (16/9).

Menurut Jubir Pyongyang, membangkitkan UNC sama saja dengan menciptakan NATO versi Asia yang bisa memicu perang dunia baru.

"Perluasan UNC merupakan langkah awal pembentukan NATO versi Asia,  yang akan mendorong kawasan Asia-Pasifik semakin dalam ke dalam struktur perang dingin baru," kata dia.

Untuk itu, Jubir menekankan bahwa Korea Utara tidak akan diam saja menghadapi ancaman tersebut dan akan terus melakukan tindakan perlawanan terhadap segala upaya destabilisasi yang dilakukan Barat.

"(Korea Utara) akan terus mengambil tindakan penanggulangan strategis baru untuk menahan dan menggagalkan gerakan konfrontasi yang sembrono dari pasukan musuh untuk mengganggu perdamaian dan stabilitas di semenanjung Korea," pungkasnya.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Prabowo Desak Bos Batu Bara dan Sawit Dahulukan Pasar Domestik

Sabtu, 14 Maret 2026 | 00:10

Polisi Harus Ungkap Pelaku Serangan Brutal terhadap Aktivis KontraS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 00:10

Aparat Diminta Gercep Usut Penyiraman Air Keras terhadap Pembela HAM

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:55

Prabowo Ingatkan Pejabat: Open House Lebaran Jangan Terlalu Mewah

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:55

Bahlil Tepis Isu Batu Bara PLTU Menipis, Stok Rata-rata Masih 14 Hari

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:38

Purbaya Lapor Prabowo Banyak Ekonom Aneh yang Sebut RI Resesi

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:32

Kekerasan Terhadap Pembela HAM Ancaman Nyata bagi Demokrasi

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:12

Setengah Penduduk RI Diperkirakan Mudik Lebaran 2026

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:07

Mentan: Cadangan Beras Hampir Lima Juta Ton, Cukup Hingga Akhir Tahun

Jumat, 13 Maret 2026 | 22:48

Komisi III DPR Minta Dalang Penyerangan Air Keras Aktivis KontraS Dibongkar

Jumat, 13 Maret 2026 | 22:32

Selengkapnya