Berita

Ilustrasi/RMOL

Bisnis

Pakistan Punya Utang Dimana-mana, Bikin IMF Ragu Kasih Dana Talangan

SENIN, 09 SEPTEMBER 2024 | 12:42 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintah Pakistan terus berupaya menyelesaikan kesepakatan dana talangan yang masih tertunda senilai 7 miliar Dolar AS dengan Dana Moneter Internasional (IMF) .

Islamabad menandatangani perjanjian dengan pemberi pinjaman internasional yang berpusat di Washington tersebut di tingkat staf pada minggu kedua bulan Juli.

Menteri Keuangan Pakistan Muhammad Aurangzeb awalnya mengatakan bahwa kesepakatan tersebut akan diselesaikan pada Agustus, dan kemudian meralat dengan mengatakan itu akan selesai September. 


Dalam komentar terakhirnya mengenai masalah tersebut, Aurangzeb mengatakan bahwa kesepakatan tersebut masih dalam "tahap lanjutan."

Penundaan ini menimbulkan kecurigaan dan memicu kekhawatiran tentang masa depan kesepakatan tersebut, yang dipandang penting untuk menjaga ekonomi yang goyah agar tetap bertahan.

Muzzammil Aslam, penasihat keuangan utama untuk Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, yang terlibat langsung dalam negosiasi tersebut, mengungkapkan bahwa penundaan tersebut tidak bisa dipahami. 

"Penundaan dewan direksi tidak dapat dipahami," kata Muzzammil, dikutip dari Nikkei Asia, Senin (9/9). 

Seorang mantan pejabat pemerintah yang terlibat dalam pembicaraan pinjaman IMF sebelumnya memperingatkan bahwa IMF mungkin menuntut persyaratan yang lebih ketat sebelum menandatangani kesepakatan kali ini.

"Semakin besar kesenjangan antara kesepakatan tingkat staf dan persetujuan dewan oleh IMF, semakin ketat persyaratan yang harus dipenuhi Pakistan untuk mendapatkan pinjaman," kata pejabat tersebut kepada Nikkei dengan syarat anonim. 

"Penundaan ini pasti akan merugikan kinerja ekonomi Pakistan yang sudah bergejolak," ujarnya.

Para pengamat dan pejabat yang terlibat dalam negosiasi baru-baru ini menunjukkan beberapa rintangan yang belum terselesaikan. Rintangan terbesar adalah kegagalan untuk melunasi utang sebesar 12 miliar Dolar AS dan memperoleh pinjaman sebesar 2 miliar Dolar AS lagi dari negara-negara kreditor, termasuk investor utama Tiongkok.

“Kami sedang berjuang untuk memperoleh pinjaman tambahan sebesar 2 miliar Dolar AS, yang merupakan hambatan utama untuk kesepakatan ini,” kata pejabat yang terlibat dalam pembicaraan baru-baru ini.

Pada Juli, Pakistan meminta Tiongkok untuk menunda tanggal pembayaran utang sekitar 15 miliar Dolar AS yang terutang kepada sektor listrik, tetapi pejabat tersebut mengatakan sejauh ini belum ada tanggapan dari Beijing.

“Ketidakmampuan (Pakistan) untuk meyakinkan (produsen listrik) Tiongkok untuk memberikan keringanan pembayaran utang telah muncul sebagai tantangan yang signifikan bagi Pakistan,” kata Aqdas Afzal, seorang profesor madya bidang pengembangan sosial dan kebijakan di Universitas Habib di Karachi.

Pakistan juga telah meminta pemerintah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk pinjaman tambahan yang dibutuhkannya sebesar 2 miliar Dolar AS.

“Pakistan menghadapi tantangan dalam mengamankan komitmen pembiayaan tambahan dari negara-negara sekutu, karena sebagian besar telah menghabiskan sumber pendanaannya setelah bertahun-tahun bergantung pada pelunasan utang,” kata Naafey Sardar, asisten profesor ekonomi di St. Olaf College yang berbasis di AS. 

“Mengingat perpanjangan yang sedang berlangsung oleh negara-negara sahabat, prospek pinjaman baru tampaknya tidak mungkin," ujarnya.

Populer

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

UPDATE

Kaharuddin Djenod Kembali Pimpin PT PAL Indonesia

Rabu, 27 Mei 2026 | 03:50

Nusron Bersama Wamenhan dan KSAU Bahas Penataan Aset Pertanahan TNI AU

Rabu, 27 Mei 2026 | 03:27

Gatot Nurmantyo Berharap Presiden Keluarkan Dekrit Sesuai Amanat AD/ART Gerindra

Rabu, 27 Mei 2026 | 02:59

Anies Baswedan dan Suara Kentongan

Rabu, 27 Mei 2026 | 02:35

Rocky Gerung: Eksaminasi Putusan Kerry Riza Uji Cara Berpikir Penegak Hukum

Rabu, 27 Mei 2026 | 02:12

Wali Kota Agustina Gelar Nobar Dukung Celyna Grace di Indonesian Idol Season XIV

Rabu, 27 Mei 2026 | 01:54

UUD 2002 Berhasil Bikin Kekayaan Indonesia Dirampok Besar-besaran

Rabu, 27 Mei 2026 | 01:31

PT PAL Indonesia Bukukan Kenaikan Laba Bersih Sebesar 108,58 Persen

Rabu, 27 Mei 2026 | 01:13

Keterwakilan 30 Persen Perempuan Jangan Cuma Formalitas bagi Parpol

Rabu, 27 Mei 2026 | 00:47

Pasal Kerugian Negara Dianggap Tidak Efektif Berantas Korupsi

Rabu, 27 Mei 2026 | 00:25

Selengkapnya