Berita

Karakter jurnalis hasil ciptaan AI membaca laporan ISIS yang mengklaim adanya serangan teroris pada bulan Maret lalu/Washington Post

Dunia

ISIS Gencar Gunakan AI untuk Rekrut Anggota Baru

JUMAT, 23 AGUSTUS 2024 | 17:29 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, kini gerakan ISIS mulai memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial intelligence (AI) dalam operasi mereka.

Hal itu diketahui pertama kali dari sebuah video yang diunggah ISIS tentang serangan mematikan ISIS di gedung konser Rusia pada bulan Maret.

Dalam video tersebut ditampilkan sosok pria berpakaian seragam militer dan helm melaporkan serangan ISIS yang menewaskan lebih dari 140 orang di Moskow.


"ISIS memberikan pukulan telak ke Rusia dengan serangan berdarah, yang paling dahsyat yang pernah menghantamnya selama bertahun-tahun,” kata pria itu dalam bahasa Arab, seperti dimuat Reuters pada Jumat (23/8).

Sebuah organisasi yang melacak dan menganalisis konten daring, SITE Intelligence Group menyebut pria dalam video itu tidak asli melainkan dibuat dengan AI.

Peneliti di Royal United Services Institute, Federico Borgonovo, melacak video yang dihasilkan AI tersebut ke seorang pendukung ISIS yang aktif dalam ekosistem digital kelompok tersebut.

"Orang ini telah menggabungkan pernyataan, buletin, dan data dari outlet berita resmi ISIS untuk membuat video menggunakan AI," Borgonovo menjelaskan.

Menurut Borgonovo, video itu menunjukkan bagaimana pendukung dan afiliasi ISIS memiliki kemampuan untuk meningkatkan produksi konten AI daring, meskipun kualitasnya biasa saja.

"Cukup bagus untuk produk AI. Namun dalam hal kekerasan dan propaganda itu sendiri, kualitasnya biasa saja," ungkapnya.

Pakar digital mengatakan kelompok seperti ISIS dan gerakan sayap kanan semakin banyak menggunakan AI daring dan menguji batas kontrol keamanan pada platform media sosial.

Sebuah studi pada bulan Januari oleh Combating Terrorism Center di West Point mengatakan AI dapat digunakan untuk membuat dan mendistribusikan propaganda, merekrut menggunakan chatbot bertenaga AI, melakukan serangan menggunakan drone atau kendaraan otonom lainnya, dan meluncurkan serangan siber.

"Banyak penilaian risiko AI, dan bahkan risiko AI generatif secara khusus, hanya mempertimbangkan masalah khusus ini secara sepintas," kata Stephane Baele, profesor hubungan internasional di UCLouvain di Belgia.

Peraturan yang mengatur AI masih dibuat di seluruh dunia dan para pelopor teknologi tersebut mengatakan bahwa mereka akan berusaha keras untuk memastikannya aman dan terlindungi.

Dalam laporan khusus awal tahun ini, pendiri dan direktur eksekutif SITE Intelligence Group Rita Katz menulis bahwa berbagai aktor mulai dari anggota kelompok militan al Qaeda hingga jaringan neo-Nazi memanfaatkan teknologi tersebut.

“Sulit untuk meremehkan betapa bermanfaatnya AI bagi teroris dan komunitas ekstremis, yang mana media adalah sumber kehidupannya,” tulisnya.

Pada puncak kekuasaannya tahun 2014, ISIS mengklaim menguasai sebagian besar wilayah Suriah dan Irak, dan memberlakukan teror di wilayah yang dikuasainya.

Media merupakan alat utama dalam persenjataan kelompok tersebut, dan perekrutan daring telah lama menjadi bagian penting dari operasinya.

Meskipun kekhalifahan yang dideklarasikan sendiri runtuh pada tahun 2017, para pendukung dan afiliasinya masih menyebarkan doktrin mereka secara daring dan mencoba membujuk orang untuk bergabung dengan mereka.

Bulan lalu, Prancis telah mengidentifikasi belasan pengurus ISIS-K, yang bermarkas di negara-negara sekitar Afghanistan, memiliki konten daring digunakan untuk meyakinkan para pemuda di negara-negara Eropa ikut bergabung.

ISIS-K merupakan sayap ISIS yang bangkit kembali, dinamai berdasarkan wilayah historis Khorasan yang meliputi sebagian wilayah Iran, Afghanistan, dan Asia Tengah.

Para analis khawatir bahwa AI dapat memfasilitasi dan mengotomatiskan pekerjaan perekrutan anggota ISIS daring.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya