Berita

Pembukaan Festival Bedhayan 2024 di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Minggu (18/8)./RMOL

Nusantara

Festival Bedhayan 2024 Meriah dan Istimewa, Dihadiri Perwakilan Amerika Serikat dan Korea Utara

MINGGU, 18 AGUSTUS 2024 | 22:42 WIB | OLEH: DR. TEGUH SANTOSA

FESTIVAL Bedhayan 2024 yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Minggu (18/8), berlangsung meriah dan istimewa. Sebanyak 15 tarian dibawakan kelompok dan sanggar tari yang mengikuti festival. Ini adalah jumlah peserta terbanyak sejak Festival Bedhayan digelar pertama kali pada tahun 2021. 

Kelompok dan sanggar tari yang mengikuti Festival Bedhayan 2024 adalah Jaya Suprana School of Performing Arts, The Ary Suta Center Academy, Mitra Tari Hadiprana, Gemah Wins Production, Sanggar Kamaratih, Arkamaya Sukma, Sanggar Jawa Jawi Java, Sanggar Gending Enem, Ohmm Adyasa Abipura, Sekartanjung Dance Company, Sekar Puri, Sanggar Surya Kirana, Purwakanthi, dan Wulangreh Omah Budaya. 

Direktur Jenderal Kebudayaan pada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Hilmar Farid, dalam sambutan tertulis mengatakan, Tari Bedhaya sesungguhnya merupakan tari sakral yang memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat tinggi dalam budaya Keraton Kasunanan Surakarta. Biasanya tarian ini hanya dipentaskan pada saat-saat penting, seperti penobatan raja dan berbagai upacara adat keraton lainnya. 


Upaya menampilkan Tari Bedhaya di hadapan masyarakat umum Indonesia, sambungnya, merupakan bagian dari dari inisiatif untuk mendemokratisasi dan memodernisasi seni Tari Bedhaya tanpa menghilangkan esensi dan nilai sakral yang dimilikinya. Dia juga mengatakan, Festival Bedhayan ini memperkenalkan Tari Bedhayan dalam format yang lebih terbuka sehingga dapat dinikmati masyarakat umum tanpa mengurangi kekhidmatan dan keagungannya. 

Sebagai Ketua Umum Penyelenggara Festival Bedhaya 2024 adalah Kanjeng Raden Ayu Aylawati Sarwono. Ketika menyampaikan sambutan, Aylawati berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini, mulai dari penari, pelatih, penata busana, juga pihak-pihak yang menangani panggung, pemusik, dan sponsor, serta penonton yang hadir. 

Festival Bedhayan 2024 juga melibatkan sejumlah pengamat, yakni Theodora Retno Maruti, Gusti Kanjeng Ratu Wandansari Koes Moertiyah, Kanjeng Pangeran Sulistyo S. Tirtokusumo, Wahyu Santoso Prabowo, dan Dra. M. Heni Winahyuningsih.

Sebagai contoh kreasi baru Tari Bedhaya, misalnya Bedhoyo Warastri Anidyajati yang ditampilkan Jaya Suprana School of Performing Arts. Tari Bedhaya ini menggambarkan kesetiaan seorang wanita yang menyediakan dirinya sebagai tumpuan duka dan derita seorang pria. Secara khusus tarian ini dipersembahkan Aylawati Sarwono untuk suaminya, Jaya Suprana.

Tari Bedhaya Wilatikta yang ditampilkan penari dari The Ary Suta Center Academy. Tarian ini terinspirasi kemegahan dan kejayaan Wilwatikta atau Majapahit di masa silam. Tari Bedhaya yang medidatif ini dipadukan dengan gerak Tari Legong dari Bali yang dinamis. 

Lalu para penari dari Mitra Tari Hadiprana menampilkan Tari Bedhaya Bedhah Madiun yang mengisahkan upaya Panembahan Senopati dari Mataram merebut Kadipaten Madiun. Walau sempat mendapatkan perlawanan dari Retno Dumillah, putri Adipati Madiun, namun Panembahan Senopati dapat merebut Madiun dan mempersunting Retno Dumillah sebagai istri.

Keistimewaan Lain

Festival Bedhayan 2024 juga istimewa karena kehadiran Duta Besar Amerika Serikat Kamala Shirin Lakhdhir dan diplomat dari Kedutaan Besar Republik Rakyat Demokratik Korea atau Korea Utara di antara tamu-tamu dari sejumlah negara sahabat Indonesia. 

Budayawan Jaya Suprana secara khusus memperkenalkan keduanya saat membuka Festival Bedhayan 2024. 

“Saya mohon tepuk tangan untuk sahabat saya dari Korea Utara yang hari ini menyempatkan hadir. Beliau sudah lama tinggal di Indonesia, dan beliau sangat-sangat menghormati dan menghargai kebudayaan Indonesia,” ujar Jaya Suprana memperkenalkan sang diplomat sambil memintanya berdiri. 

Yang hadir dari Kedutaan Besar Korea Utara itu bukan Duta Besar. Saat ini pos Duta Besar Korea Utara untuk Indonesia masih kosong setelah Duta Besar sebelumnya, An Kwang Il, yang memiliki hubungan sangat baik dengan Jaya Suprana, kembali ke Pyongyang di bulan Desember 2023 lalu. Sampai hari ini belum ada Duta Besar baru yang dikirim Pyongyang untuk bertugas di Indonesia.    

“Kemudian ada wakil dari Presiden Joe Biden hadir bersama kita, Yang Mulia Ibu Duta Besar Kamala. Tolong tepuk tangan untuk Ibu,” sambung Jaya Suprana. 

Dia menambahkan, “Alangkah indahnya dua warga dari negara yang secara politis tidak selalu akur tetapi berada di ruangan ini secara damai.”

Jaya Suprana memang memiliki ketertarikan pada perdamaian di Semenanjung Korea. Pada bulan Agustus 2017 lalu, kami berkunjung ke Korea Utara.

Saya dan Aldi Gultom, kini Pemimpin Redaksi Akurat, tiba sehari lebih dahulu di Pyongyang setelah menempuh perjalanan lebih dari 24 jam dengan kereta api dari Beijing.

Di Bandara Internasional Kim Il Sung, saat menjemput Pak Jaya dan Ibu Ayla, Pak Jaya mengatakan kepada saya, dirinya terkesan dengan profil seorang pianis cilik kelas dunia dari Korea Utara yang dibacanya di Harian Pyongyang Times yang disediakan dalam penerbangan. 

“Bagaimana kalau kita undang dia ke Jakarta tahun depan?” bisiknya. 

Saya mengangguk dan setuju. Lalu dimulailah pembicaraan untuk menghadirkan sang pianis, Choe Hang Hung, yang ketika itu baru berusia 13 tahun. Dia menjuarai sejumlah kejuaraan piano di Moskwa, Warswa, dan Beijing.

Setahun kemudian, di bulan April 2018, “Konser Perdamaian” itu digelar di GKJ dan dihadiri begitu banyak penonton. 

Di masa pandemi Covid-19, Jaya Suprana School of Performing Arts juga berpartisipasi dalam festival budaya yang diselenggarakan Korea Utara secara hybrid. 

Pak Jaya juga berencana mengirimkan tim kesenian ke Pyongyang tahun depan untuk mengikuti festival kebudayaan di sana. Saat ini pembicaraan dengan pihak Pyongyang sedang dilakukan. Semoga bisa terwujud.  



Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya