Berita

Istana Negara baru yang dimiliki Vanuatu dari China.

Dunia

Bantuan China Meracuni, Tapi Opini Publik Terdistorsi

MINGGU, 11 AGUSTUS 2024 | 06:21 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Bulan lalu pemerintah Republik Rakyat China (RRC) menghadiahkan Istana Negara untuk Republik Vanuatu, di Samudera Pasifi. Istana baru itu berupa bangunan yang dominasi warna merah dan putih, terletak di puncak bukit Port Vila, ibukota

Istana yang ditempati Presiden Nikenike Vurobaravu itu terbilang strategis, menghadap kantor Perdana Menteri Charlot Salwai yang juga hadiah dari China hampir sepuluh tahun lalu.

Istana Negara merah-putih ini diperkirakan bernilai jutaan dolar AS dan merupakan dari dari hadiah atas proyek infrastruktur yang ditawarkan Beijing kepada neagra berpenduduk sekitar 300 ribu jiwa itu.


Selain Istana Negara, China juga membangun sejumlah gedung kementerian, dan gedung parlemen, serta jalan di sejumlah pulau, dan gedung olahraga serta gedung pertemuan yang dilaporkan lebih sering kosong.

Menurut Menteri Keuangan Vanuatu, John Salong, bangunan-bangunan itu adalah berkah bagi negaranya.

“Kami menggunakan diplomasi sebagai sarana bagi kami untuk memanfaatkan sumber daya yang kami miliki sehingga kami dapat membangun lembaga-lembaga yang kami butuhkan,” kata Salong.

Beberapa hari setelah Perdana Menteri Charlot Salwai menghadiri pembukaan istana presiden yang baru, ia terbang ke Beijing bersama delegasi pejabat untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping. Dalam pernyataan bersama yang dirilis setelah perundingan, China mengatakan pihaknya menyambut baik "partisipasi aktif" Vanuatu dalam Belt and Road Initiative.

“China telah memberikan bantuan kepada Vanuatu tanpa ikatan politik," kata duta besar China untuk Vanuatu, Li Minggang, dalam pidato yang disiarkan oleh media pemerintah China tak lama setelah penyerahan istana baru tersebut.

Namun, tidak sedikit pula warga Vanuatu yang mengkhawatikan berbagai hadiah dari China itu.

Jean Pascal Wahe, seorang pemimpin masyarakat dari pulau Tanna di Vanuatu, mengatakan, jaringan jalan yang didanai China telah memberi warganya akses penting ke pasar, layanan kesehatan, dan bandara lokal. Namun ia juga khawatir tentang keberadaan China Civil Engineering Construction Corporation (CCECC) selama lebih dari satu dekade di pulaunya.

Wahe mengatakan, CCECC  telah memenangkan setiap subkontrak lainnya untuk pekerjaan jalan yang bahkan bukan bagian dari proyek jalan asli.

“Bantuan” China di Pasifik sangat sebetulnya kecil dibandingkan dengan bantuan sejumlah negara lain. Lowy Institute memperkirakan bantuan China hanya 9 persen dari total pengeluaran pembangunan di kawasan. Bandingkan dengan bantuan Australia yang signifikan hingga mencapai 40 persen dari total pendapatan pembangunan Pasifik. Di tahun 2021, ini setara dengan sekitar 15 miliar dolar AS.

Namun, investasi Beijing dalam pembangunan infrastruktur terkemuka, yang sering kali diperkenalkan kepada pemerintah Pasifik melalui upacara mewah, telah mendistorsi opini publik mengenai besarnya kontribusi Tiongkok.

“Australia memberikan bantuan empat kali lebih banyak di Pasifik,” kata Graeme Smith, seorang peneliti senior dari Universitas Nasional Australia yang telah menyelidiki bantuan dan pembangunan infrastruktur Tiongkok di seluruh Pasifik.

“Namun persepsi di Pasifik, ketika Anda melakukan survei sikap ini, orang-orang berpikir bahwa China adalah donor utama, karena Anda memiliki simbol-simbol fisik dari pemberian mereka,” sambungnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya