Berita

Foto ilustrasi (Reuters.com)

Bisnis

Ancaman Resesi Masih Omon-Omon, IHSG Bangkit 0,99 Persen

SELASA, 06 AGUSTUS 2024 | 19:09 WIB | OLEH: ADE MULYANA

Gerak roller coaster kembali menghampiri Indeks di bursa saham Asia. Investor mulai mengkritisi ancaman resesi yang menjadi dalang kepanikan beberapa hari terakhir sebagai kekhawatiran berlebihan. Sebagian analis sebelumnya tercatat sudah meyakini resesi masih sekedar potensi dan membutuhkan waktu serta parameter lain untuk terjadi.

Namun kepanikan tetap tak terbendung di sesi perdagangan sebelumnya. Kini, sikap investor terlihat mulai lebih rasional dan mencurigai ancaman resesi yang mungkin masih sekedar omon-omon. Peralihan sikap pelaku pasar ini terutama terlihat dari gerak Indeks Wall Street di sesi pre-market yang kompak menginjak zona penguatan signifikan.

Peralihan sikap tersebut kemudian direspon dengan cepat oleh investor di Asia pada sesi perdagangan hari kedua pekan ini, Selasa 6 Agustus 2024. Aksi akumulasi secara agresif hingga melonjakkan indeks dalam taraf sangat tajam, akhirnya terjadi terutama di bursa saham Jepang,  yang pada hari sebelumnya terjungkal dalam koreksi paling brutal sepanjang sejarah.


Hingga sesi perdagangan ditutup, Indeks Nikkei melambung ekstrim 10,23 persen untuk berakhir di 34.675,46. Gerak naik tajam namun dalam taraf yang lebih moderat terjadi di bursa saham Korea Selatan, di mana Indeks KOSPI melompat 3,3 persen setelah parkir di kisaran 2.522,15. Sedangkan indeks ASX 200 (Australia) naik moderat 0,41 persen di 7.680,6.

Laporan terkait dari jalannya sesi perdagangan menyebutkan, gerak naik tajam Indeks Nikkei yang kali ini mendapatkan topangan dari pasar uang, di mana nilai tukar mata uang Yen berbalik melemah setelah melonjak ekstrim pada sesi perdagangan kemarin. Sementara sentimen dari Australia datang dari kebijakan bank Sentral negeri Kanguru itu yang mempertahankan besaran suku bunga.

Secara keseluruhan, rebound teknikal di berbagai indeks di Asia masih jauh dari titik tertinggi yang dicetak beberapa hari sebelumnya. Namun lonjakan signifikan yang terjadi telah membuat gerak koreksi teknikal yang wajar usai membukukan rekor.

Pola yang tak jauh berbeda terjadi di bursa saham Indonesia, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil membukukan lonjakan signifikan. Pantauan menunjukkan, gerak IHSG yang mampu konsisten menapak zona penguatan tajam di sepanjang sesi perdagangan.

IHSG kemudian menutup sesi perdagangan dengan melonjak tajam 0,99 persen untuk menginjak posisi 7.129,2. Pantauan lebih rinci memperlihatkan, seluruh saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan kompak membukukan kenaikan yang bervariasi.

Saham ADRO naik 2,91 persen di Rp3.180, BBRI naik 1,54 persen di Rp4.600, BMRI naik 0,76 persen di Rp6.625, BBCA naik 1,26 persen di Rp10.000, ASII naik 1,09 persen di Rp4.610, BBNI naik 1,31 persen di Rp5.025, ICBP naik 0,91 persen di Rp11.000, SMGR naik 0,26 persen di Rp3.790, dan INDF naik 0,82 persen di Rp6.100.

Pantauan juga menunjukkan, gerak naik IHSG yang kali ini sebanding dengan kenaikan pada indeks IDXHIDIV20, IDXBUMN20, IDXV30 serta IDXG30. IDXHIDIV20 naik 1,0 persen di 538,2,  IDXBUMN20 naik 1,09 persen di 380,2, IDXV30 naik 0,88 persen di 127,7, dan IDXG30 naik 0,99 persen di 147,5.

Rupiah Gagal Melonjak Tajam

Gerak kalem terjadi di pasar uang dengan nilai tukar Rupiah yang sempat menginjak zona pelemahan terbatas namun kemudian mampu beralih ke zona penguatan moderat. Pola gerak Rupiah terlihat seiring dengan irama yang terjadi di pasar global, di mana mata uang utama Dunia terlihat kekurangan energi untuk melanjutkan gerak penguatan lebih jauh.

Hingga sesi perdagangan sore di Asia, mata uang Euro, Pound, Dolar Kanada dan Dolar Australia terlihat masih bergerak bervariasi dalam rentang yang cenderung moderat. Gerak tajam hanya terjadi pada mata uang Yen, pair USDJPY, yang melakukan rebound teknikal usai longsor ekstrim di sesi perdagangan kemarin. Sementara gerak nilai tukar Ringgit Malaysia kini tercatat sebagai yang terlemah di Asia setelah dalam beberapa hari sebelumnya memimpin penguatan di Asia.

Terkhusus pada mata uang Indonesia, hingga sesi perdagangan sore ini berlangsung, Rupiah tercatat diperdagangkan di kisaran Rp16.160 per Dolar AS atau menguat 0,12 persen. Potensi teknikal Rupiah untuk membukukan penguatan tajam terhalangi oleh peralihan sentimen di pasar global yang menghentikan gerak positif lebih lanjut. Pola teknikal pada Rupiah, kini semakin rentan untuk mengakhiri tren penguatan dalam beberapa hari sesi perdagangan ke depan.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya