Berita

Kiai Cepu dalam Kajian Fiqih Pertambangan/Tangkapan layar RMOL

Politik

Kiai Cepu Minta Seluruh Warga Muhammadiyah Pelototi Aktivitas Pertambangan

SELASA, 30 JULI 2024 | 09:19 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Berdasarkan disiplin ilmu fiqih, tidak ada aturan yang spesifik bahwa mengelola pertambangan adalah haram. 

Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Kusen alias Kiai Cepu, menyatakan hal itu dan mengingatkan seluruh kader Muhammadiyah untuk mengawasi aktivitas pertambangan dengan kritis dan cermat.

Muhammadiyah sendiri dalam setiap pengambilan keputusan keagamaan menggunakan tiga pendekatan yakni bayani, burhani, dan irfani. 


"Emas itu diperoleh dengan cara apa kalau bukan dengan tambang? Apakah dengan cara mancing? Berarti pertambangan itu boleh. Yang nggak boleh itu kalau merusak. Berarti kalau dalam konteks Bayani, Burhani, menjadi boleh," ujar Kiai Cepu dalam Kajian Fiqih Pertambangan yang disiarkan secara daring pada Senin malam (29/7). 

Ia menegaskan bahwa dalam konteks Bayani dan Burhani, pertambangan menjadi boleh karena ada kaidah fiqih yang menyebut “Al-Wasaailu Lahaa Ahkaamul Maqaasid” yang artinya; sarana itu hukumnya sama dengan tujuan.

"Misalnya bayar zakat pakai emas. Gimana mau bayar zakat emas wong emasnya di dalam perut bumi? Kalau begitu caranya emasnya diambil, caranya ngambil ya ditambang," jelasnya. 

Kiai Cepu pun mencontohkan seperti halnya mencerdaskan manusia yang hukumnya wajib, sehingga sarananya juga wajib. 

"Pertanyaannya adalah, apa sarana dari mencerdaskan orang? Ada kampus, pesantren, madrasah diniyyah. Kalau itu enggak ada, maka tujuan tidak tercapai,” urainya.

Atas dasar itu, kata Kiai Cepu, yang harus dikawal adalah bagaimana menambang tanpa merusak lingkungan. Dalam konteks ini, semua pihak khususnya warga Muhammadiyah harus proaktif mengkritik dan mengawasi pertambangan, jangan sampai merusak lingkungan. 

“Sama seperti di Alquran surat Asy-syu'ara itu disebut bahwa semua penyair itu sesat loh, kecuali penyair yang beriman. Nah, (berarti) semua penambang bajingan kecuali penambang yang beriman. Begitu. Pertanyaannya siapa penambang yang beriman? Nah, buktikan apakah hari ini kita di persyarikatan termasuk yang beriman atau tidak? Kan belum teruji," katanya.

“Nah, ketika hal ini perlu diuji kemudian tiba-tiba belum mengatakan tidak berarti nggak siap dong. Itu tandanya tidak berkemajuan. Katanya berkemajuan, gitu aja kok takut,” imbuhnya menegaskan. 

Kiai Cepu lantas mengingatkan agar seluruh warga Muhammadiyah berkewajiban turut serta memeriksa dengan seksama terkait pertambangan. 

“Kalau ada indikasi bahwa di situ ada mafia, harus dari sekarang disikat. Harus orang yang profesional tapi juga amanah. Yang mafia harus disikat," tegasnya.

Lebih jauh, Kiai Cepu juga kembali mengajak kader Muhammadiyah untuk mengawasi pertambangan sebagai amal saleh yang solutif. 

“Kalau ada lingkungan rusak, yes, justru inilah kesempatan untuk kita, ini tantangan bagi kita di Muhammadiyah untuk buktikan sebagaimana jargon kita Quran surat Al Imron ayat 110; “kuntum khairu ummatin ukrijat linnas”, kita di adalah umat terbaik. Nah itu adalah tugas kita untuk memelototi. Ayok!” pungkasnya.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Nasib Pengalihan Utang Whoosh Tak Jelas, Ini Penjelasan Wamenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 22:20

Ombudsman Soroti Masa Sanggah Data Rumah Rusak Gempa NTT Terlalu Singkat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:55

KPK Dalami Pengurusan HGB PT Bela Parahiyangan hingga ke Pusat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:36

Rafyq Pandjaitan Terpilih Ketua KWP, Ariawan Titip Pesan Ini

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:50

KBRI Singapura Tak Punya Dokumen Pendidikan Gibran

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:20

Jenderal Sigit jadi Bidak Benteng dalam Catur Pemerintahan Prabowo

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:57

Hatta Rajasa Pastikan Wantimpres Beri Nasihat Berkualitas untuk Presiden

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:44

Kapolri Berganti, Jenderal Sigit Serahkan Panji Tribrata ke Jenderal Suyudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:40

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Bersama UI, Peradi Profesional Bidik Pendidikan Advokat Lebih Berkualitas

Jumat, 02 Oktober 2026 | 18:51

Selengkapnya