Berita

Ilustrasi foto: Proses pembuatan keramik di dalam negeri/Ist

Bisnis

Polemik BMAD 200 Persen

Produsen Keramik dalam Negeri Belum Cukup Penuhi Kebutuhan

SABTU, 27 JULI 2024 | 22:17 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) sebesar 200 persen atas produk keramik impor dari China diminta untuk segera dibatalkan demi terpenuhinya kebutuhan dalam negeri.

Ketua Komite Arsitek Muda Architects Regional Council Asia (Arcasia), Denny Setiawan, menyatakan meskipun tujuan pengenaan BMAD untuk melindungi industri dalam negeri, namun hal itu perlu dibuktikan terlebih dahulu apakah terjadi dumping atau tidak. 

“Ini upaya yang baik buat pemerintah untuk melindungi pasar dalam negeri utamanya mereka yang memproduksi keramik di dalam negeri. Saya setuju kepada para ekonom itu bahwa ini belum saatnya, belum saat yang tepat karena kesiapan produsen keramik dalam negeri kita belum sesiap itu untuk memenuhi semua kebutuhan keramik pasar dalam negeri sendiri,” ujar Denny kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (27/7).


Dia mengatakan efek lain dari pengenaan BMAD 200 persen biaya membangun rumah menjadi lebih mahal dari biasanya karena estimasi untuk membangun rumah bisa mencapai harga 6-7 juta per meter persegi.

“Jadi kalau kita melihat membangun sekarang tidak bisa lagi dengan biaya yang murah, karena untuk satu meter persegi bangunan itu harganya sudah lebih dari 6 sampai 7 juta dengan keramik yang biasa keramik yang impor dari China itu tadi,” bebernya.

Lanjut Denny, implementasi BMAD bisa saja dilakukan jika produsen keramik dalam negeri sudah mampu memproduksi sesuai dengan kebutuhan pasar, tentunya keramik yang berkualitas dan harganya bisa terjangkau. 

“Jadi rasanya belum tepat di saat masih banyak orang-orang yang belum bisa punya rumah yang layak, dari sisi profesi arsitek saya merasa kebijakan ini sebaiknya ditunda dulu sampai kita benar-benar siap dan produsen dalam negeri siap untuk menggantikan keramik-keramik China yang datang itu,” tegasnya.

Di sisi lain, Denny juga mendorong agar pemerintah bisa membantu menggenjot produksi dalam negeri dengan melakukan hilirisasi bahan baku keramik yaitu kaolin. 

Pasalnya, bahan keramik itu dimiliki Indonesia secara melimpah, namun belum dimanfaatkan secara optimal. 

“Kita sebenarnya bisa melakukan hilirisasi di lini ini, karena sebenarnya kita punya sumber daya yang cukup untuk bisa membuat keramik sendiri. Jadi rasanya pemerintah justru alih-alih menstop produk dari China kita fokuskan kepada bagaimana membesarkan produsen-produsen keramik yang ada di dalam negeri,” tambahnya.

Lebih lanjut, Denny juga mendorong supaya pemerintah membantu produsen keramik rumahan yang banyak tersebar di daerah, perlu untuk diberikan insentif atau pelatihan untuk membuat keramik yang berkualitas dan sesuai kebutuhan pasar.

“Jadi produsen-produsen keramik rumahan misalnya yang ada di banyak tempat di Indonesia itu kita besarkan,” urainya.

Masih kata Denny, risiko dari BMAD 200 persen yaitu generasi milenial terancam tidak bisa membangun atau mempunyai rumah pertamanya.

“Dari pada kita menyetop sekarang, akibatnya adalah banyak teman-teman yang belum punya kesempatan punya rumah yang layak jadi terhambat karena harga membangun rumah yang jadi mahal sekali,” bebernya lagi.

Dijelaskan Denny, apalagi ke depan Indonesia menghadapi bonus demografi, pastinya itu juga akan berimbas terhadap kepemilikan rumah.

“Populasi kita yang terbesar adalah usia 25 hingga usia 45 tahun, kita dalam bonus demografi tapi jangan salah generasi-generasi ini sedang berjuang untuk mempunyai rumah pertamanya untuk mencapai kemapanan ekonomi di level pertama,” ungkapnya.

“Jadi jangan sampai perjuangan mereka untuk bisa mendapatkan rumah pertama ini semakin jauh arangnya karena harga keramiknya semakin mahal. Jadi menurut saya sebagai arsitek tentunya yang banyak membantu teman-teman juga yang ingin punya rumah pertama saran saya tunda dulu deh,” tukasnya.

Populer

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Cek Siaran Langsung Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Selasa, 22 September 2026 | 02:21

DPRD DKI Apresiasi Kebijakan Penutupan TPS Ilegal

Selasa, 22 September 2026 | 02:01

Indonesia Rebut 7 Medali di Aichi-Nagoya

Selasa, 22 September 2026 | 01:42

Ditjen AHU Perkuat Pengawasan Korporasi

Selasa, 22 September 2026 | 01:23

Wamendagri Ribka Haluk Berduka Tiga ASN Jadi Korban KKB

Selasa, 22 September 2026 | 01:01

Hasil Audit BPK Ditunggu dalam Kasus Toba Pulp Lestari

Selasa, 22 September 2026 | 00:37

Tiga Bulan Nganggur, Karyawan De Club Arjuna Geruduk Balai Kota

Selasa, 22 September 2026 | 00:26

Kejagung Periksa Dirut PT Migas Kota Bekasi terkait Dugaan Korupsi KSO

Selasa, 22 September 2026 | 00:01

80 Negara Siap Hadapi Wajib Sertifikasi Halal

Senin, 21 September 2026 | 23:47

KPK Harus Periksa Nusron Wahid demi Kepastian Hukum

Senin, 21 September 2026 | 23:31

Selengkapnya