Berita

Bursa Saham Jepang. (THEJAPANTIMES)

Bisnis

Bursa Jepang Tertekan Saham Teknologi, IHSG Terus Melaju

JUMAT, 26 JULI 2024 | 16:24 WIB | OLEH: ADE MULYANA

Sesi perdagangan di Asia akhir pekan ini, Jumat 26 Juli 2024, berhasil ditutup dengan gerak positif. Situasi berbeda hanya terjadi di bursa Saham Jepang yang kembali jatuh dalam pesimisme menyusul sejumlah sentimen domestik. Serangkaian laporan yang berhasil dihimpun menyebutkan, rilis data inflasi negeri sakura itu yang mulai melambat.

Sentimen lain kemudian datang dari sejumlah emiten teknologi, seperti Renesas electronic yang mengalami penurunan tajam perolehan labanya hingga 29 persen di enam bulan pertama tahun ini. Disusul kemudian pernyataan emiten otomotif, yaitu Nissan yang mengalami penurunan laba hingga 72,9 persen dan Honda yang segera menutup pabriknya di China.

Serangkaian sentimen tersebut memaksa pelaku pasar di Bursa Saham Jepang beralih kembali melakukan tekanan jual. Pantauan menunjukkan, gerak Indeks Nikkei yang mengawali sesi perdagangan pagi dengan melemah moderat namun dengan cepat mampu beralih positif hingga siang hari.


Beberapa waktu kemudian Indeks Nikkei kembali memerah hingga menutup sesi dengan merosot 0,53 persen di 37.667,41 Merahnya Bursa saham Jepang terlihat lebih disebabkan faktor domestik hingga tak berimbas ke Bursa regional. Pantauan menunjukkan, Indeks KOSPI (Korea Selatan) yang berhasil melakukan rebound teknikal setelah menutup dengan lonjakan 0,78 persen di 2.731,9. Lonjakan tajam juga terjadi di bursa Saham Australia dengan Indeks ASX 200 melompat 0,76 persen di 7.921,3.

Dengan kecenderungan positif yang sedang melanda Asia, pelaku pasar di Jakarta terlihat maksimalkan untuk melakukan tekanan beli. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemudian mampu konsisten menapak zona positif pada sepanjang sesi perdagangan. IHSG kemudian menutup sesi akhir pekan dengan melompat 0,66 persen di 7.288,17.

Pantauan lebih rinci dari jalannya sesi perdagangan memperlihatkan, kontribusi sangat besar datang dari saham saham yang tergabung dalam IDXV30 atau saham-saham berkinerja mengesankan tetapi dengan valuasi masih sangat murah. Hingga sesi perdagangan berakhir IDXV30 melesat 1,18 persen di 130,07.

Sementara sejumlah saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan terlihat seragam menginjak zona penguatan. Diantaranya: BBRI naik 1,27 persen di Rp 4.760, ASII naik 2,67 persen di Rp 4.610, TLKM naik 0,32 persen di Rp 3.100, BBCA naik 0,24 persen di Rp 10.325, ADRO naik 1,59 persen di Rp 3.180, dan PTBA naik 1,91 persen di Rp 2.660, UNTR naik 0,3 persen di Rp 24.975.

Saham unggulan di jajaran teraktif ditransaksikan,  hanya menyisakan BBNI dan BMRI yang melemah moderat.

Rupiah Gagal Menguat

Kabar menggembirakan di bursa saham tak berseiring dengan Rupiah. Laporan dari pasar valuta Asia memang menunjukkan kabar positif. Namun nilai tukar Rupiah terpantau gagal beralih ke zona penguatan di tengah kecenderungan positif di pasar Asia. Pantauan menunjukkan, sejumlah besar mata uang Asia yang mampu menginjak zona hijau di sesi akhir pekan ini meski dalam taraf yang tipis.

Rupiah terpantau tak sempat menginjak zona penguatan dan konsisten menapak pelemahan di sepanjang sesi perdagangan. Hingga sesi perdagangan sore ini berlangsung Rupiah masih bergulat di kisaran Rp 16.285 per Dolar AS alias melemah 0,25 persen. Rupiah bahkan sempat mendekati level psikologis nya di kisaran Rp 16.300 per Dolar AS.

Kemerosotan Rupiah kali ini terlihat seiring dengan nasib yang menimpa mata uang Dolar Australia dan Dolar Kanada. Pantauan terkini memperlihatkan, Dolar Australia dan Dolar Kanada yang masih terdampar di level terlemahnya dalam dua pekan terakhir.

Kegagalan Rupiah beralih ke zona hijau kali ini, dalam tinjauan teknikal, masih sangat wajar. Terlebih, penguatan yang berhasil dibukukan mata uang Asia hanya berada di rentang sempit. Pantauan juga memperlihatkan, selain Rupiah, terdampar mata uang Asia lain yang masuk terperosok di zona merah, yaitu Dolar Singapura yang melemah tipis dan Yuan China, yang mengalami koreksi teknikal.

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Perbedaan Perlakuan Tersangka Jadi Ujian Kesetaraan Hukum

Minggu, 09 Agustus 2026 | 08:23

KDKMP Kembalikan Kendali Ekonomi ke Warga Desa

Minggu, 09 Agustus 2026 | 08:19

Jangan Terjebak Angka, Pertumbuhan Ekonomi Harus Berdampak ke Masyarakat

Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:24

Gus Salam: Caketum PBNU Harus Bersaing Secara Sehat

Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:21

Kuasa Hukum Yaqut Tegaskan Kebijakan Kuota Haji Harus Dinilai Utuh

Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:14

Konsolidasi Rakyat untuk Pemerintahan Bersih

Minggu, 09 Agustus 2026 | 06:48

Petani Diminta Jangan Tertipu Konten Pupuk Viral di Medsos

Minggu, 09 Agustus 2026 | 06:23

Menteri Luar Negeri Layak Diganti karena Dicap Tidak Profesional

Minggu, 09 Agustus 2026 | 05:54

InfraNexia jadi Pilar Utama Bisnis Telkom untuk Wholesale Connectivity

Minggu, 09 Agustus 2026 | 05:27

BGN Libatkan Peran Guru Perkuat Pengawasan MBG

Minggu, 09 Agustus 2026 | 04:48

Selengkapnya