Berita

Puing puing pesawat pesawat Saurya Airlines yang jatuh saat lepas landas dari Bandara Internasional Tribhuvan, Nepal pada Rabu, 24 Juli 2024/Al Jazeera

Dunia

Ini Alasan Kecelakaan Pesawat Sering Terjadi di Nepal

JUMAT, 26 JULI 2024 | 11:29 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Kabar duka menyelimuti Nepal setelah kecelakaan pesawat domestik di Bandara Internasional Tribhuvan di ibu kota Kathmandu pada Rabu (24/7) menewaskan 18 orang, dan hanya menyisakan satu pilot yang selamat.  

Nyatanya musibah pesawat jatuh dan terbakar bukan yang pertama terjadi di Nepal. Negara Himalaya ini memiliki banyak catatan buruk terkait keselamatan penerbangan.

Menurut data pemerintah terdapat lebih dari 360 orang tewas dalam kecelakaan pesawat atau helikopter sejak tahun 2000.


Menarik untuk membahas faktor utama dibalik banyaknya kecelakaan pesawat di Nepal. Berikut ini sejumlah alasan mengapa kecelakaan aviasi kerap terjadi di negara tersebut, seperti dikutip redaksi dari Reuters pada Jumat (26/7).

Medan yang Sempit dan Curam

Berada di tengah India dan China, Nepal yang terkurung daratan merupakan rumah bagi delapan dari 14 puncak tertinggi di dunia.

Layanan pesawat mau tidak mau meliwati jalur tersebut dan mendarat di bandara kecil yang terletak di perbukitan terpencil atau di dekat puncak yang diselimuti awan.

Selain medan yang menantang, pesawat juga menghadapi perubahan cuaca yang mendadak yang mempengaruhi kecepatan dan intensitas angin, sehingga menyulitkan navigasi.

Dalam laporan keselamatan tahun 2023, Otoritas Penerbangan Sipil Nepal (CAAN) mengatakan tabrakan pesawat dengan medan atau rintangan lain merupakan risiko utama, yang menyebabkan 93 persen kematian dalam kecelakaan udara pada dekade sebelumnya.

Landasan Pacu yang Berbahaya

Karena Nepal jarang memiliki medan datar, beberapa daerah memiliki landasan pacu seperti meja, yang dibangun dengan menggali puncak untuk menciptakan permukaan datar.

Landasan ini memiliki kemiringan tajam di salah satu atau kedua ujungnya, yang membutuhkan keterampilan lebih tinggi dalam mendaratkan pesawat.

Kondisi ini menyebabkan cedera parah atau kematian jika pilot melampaui batas saat mendekati landasan.

Armada yang Menua

Di antara negara-negara termiskin di dunia, Nepal belum berinvestasi cukup untuk meningkatkan atau merawat pesawatnya.

Banyak yang menua, sehingga tidak memiliki beberapa fitur dan fasilitas yang umum di tempat lain, dan cenderung tidak terawat dengan baik, sehingga lebih mungkin terjadi kecelakaan.

Ini sebagian alasan mengapa Uni Eropa, dengan alasan masalah keselamatan, melarang maskapai penerbangan yang disertifikasi di Nepal pada tahun 2013.

Namun, dalam tinjauan keselamatan terbarunya pada tahun 2023, Uni Eropa mengakui keterlibatan proaktif regulator penerbangan dan upaya untuk meningkatkan pengawasan.

Manajemen dan Pelatihan Kru

Para ahli telah menyerukan pelatihan yang lebih baik bagi pilot di Nepal, sebab beberapa kecelakaan kerap dikaitkan dengan pengambilan keputusan yang buruk.

Kecelakaan terburuk di Nepal dalam tiga dekade menewaskan 72 orang pada bulan Januari 2023 dan disalahkan, misalnya, pada kurangnya kesadaran pilot terhadap prosedur operasi standar yang menyebabkannya secara keliru memutus aliran listrik ke pesawat hingga akhirnya menyebabkan kecelakaan.

Peraturan dan Pengawasan yang Aneh

Layanan dan peraturan penerbangan ditangani oleh badan-badan terpisah di sebagian besar negara, tetapi di Nepal, regulator CAAN mengatur maskapai penerbangan dan mengelola bandara sendiri.

Para ahli mengatakan ini adalah konflik kepentingan karena regulator mengawasi operasinya sendiri, dan menambahkan bahwa hal itu telah menyebabkan korupsi dan salah urus.

CAAN membantah anggapan ini, dengan mengatakan tidak ada hubungan langsung antara unit-unit yang beroperasi di bawah satu organisasi.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

Harga Daging Sapi Tembus Rp153 Ribu/Kg, Zulhas Buka Opsi Subsidi APBN-APBD

Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:18

LPSK Beri Perlindungan kepada Ferry Hongkiriwang, Saksi Kasus Febrie Adriansyah

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:54

Urusan Gula Konsumsi Aman, Kementan Kini Bidik Target Gula Industri di 2028

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:45

Ahmed al-Sharaa Sambut Keputusan AS Hapus Suriah dari Daftar Sponsor Teror

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Geng Haiti Bantai 40 Pengungsi yang Berlindung di Gereja

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Wajah Baru Jakarta, Wagub Rano Resmikan Jaksinema Pasar Rumput

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:29

BMKG Maksimalkan OMC di Kaltim Sepekan Ini untuk Tangani Karhutla

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:19

Dugaan Setoran Importasi Blueray, KPK Cecar Dua PNS Bea Cukai

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:50

Kasus OTT Unsoed Bisa Saja Terjadi di Kampus Lain

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Perketat Imigrasi, Trump Bersiap Cabut 200 Ribu Visa WNA

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Selengkapnya