Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Pertama Kali di 2024, Pound Inggris Ungguli Dolar AS

KAMIS, 18 JULI 2024 | 10:29 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Nilai tukar Pound Inggris terhadap Dolar AS mencapai 1,30. Kenaikan tajam ini membuka pintu bagi kenaikan lebih lanjut, menurut para analis. 

"Satu-satunya mata uang utama yang menguat terhadap dolar AS tahun ini adalah Pound!" kata Neil Wilson, Kepala Analis Pasar di Finalto. 

Poundsterling mencapai level tertinggi baru dalam setahun di atas 1,30 Dolar AS karena data inflasi yang sedikit lebih hangat dari perkiraan.


Para investor menantikan kebijakan ramah pertumbuhan dan stabilitas politik di bawah pemerintahan Partai Buruh yang baru terpilih.

Poundsterling menguat menyusul rilis data inflasi Inggris untuk bulan Juni, yang menunjukkan berlanjutnya kekuatan inflasi sektor jasa meskipun tingkat suku bunga utama tetap berada pada target Bank of England sebesar 2 persen, dikutip dari Poundsterlinglive.

Namun, angka inflasi sedikit mengurangi perkiraan pasar terhadap penurunan suku bunga bank sentral pada Agustus mendatang karena kakunya angka jasa-jasa utama. 

Suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik suatu mata uang.

Sementara itu, Pound naik 0,07 persen terhadap Euro, berada pada 1,1908.

"Dengan data ekonomi yang kuat dari Inggris dalam beberapa minggu terakhir, bersamaan dengan politik Inggris yang relatif stabil dan 'safe harbour', peluang penurunan suku bunga pada bulan Agustus telah berkurang dan Sterling telah memperoleh keuntungan yang solid," kata Joe Tuckey, kepala analisis FX di Argentex. 

Poundsterling adalah satu-satunya mata uang yang mengungguli Dolar AS pada tahun ini dalam kelompok negara-negara maju G10 dan merupakan yang berkinerja terbaik kedua tahun lalu, menurut Jane Foley, kepala strategi FX di Rabobank, dikutip dari CNBC. 

"Sterling mulai bangkit kembali, dan ada banyak optimisme, menurut saya saat ini, bahwa mungkin dengan politik yang lebih stabil kita bisa mulai mendapatkan nada yang lebih baik dalam hal investasi," kata Foley kepada CNBC.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR Khawatir Pekerjaan Debt Collector jadi Ilegal, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:43

Keripik Pisang Lokal Besutan Rumah BUMN BRI Tembus Malaysia dan Hong Kong

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:19

Menlu China Mesra dengan Luhut, Sejumlah Tawaran Kerja Sama Mengalir

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:54

Program Gerakan “Warga Peduli Warga” Jaringan Aktivis 98 Berlanjut di Lampung

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:28

Sejumlah Elemen Mahasiswa Ogah Ikut Demo AMPB 27 Agustus, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:10

Ribuan Warga Meriahkan Panggung Rakyat Merdeka PANsar Murah di Kendal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:50

BRI Raih Tiga Penghargaan Bergengsi Alpha Southeast Asia 2026

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:28

DPR Tekankan Penguatan Pengendalian Lingkungan untuk Hentikan Karhutla

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:58

YLBHI Dorong Bareskrim Usut Perwira Diduga Terlibat Penipuan Investasi Tambang Emas

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:14

Pikat Pembeli dari Singapura hingga Belanda, Produk UMKM Asal Sumut Berdaya Bersama BRI

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:55

Selengkapnya