Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Rencana Utang Prabowo Dibantah, IHSG dan Rupiah Bertahan Positif

JUMAT, 12 JULI 2024 | 23:39 WIB | OLEH: ADE MULYANA

Jalannya sesi perdagangan akhir pekan secara tak terduga diwarnai sejumlah sentimen yang bervariasi. Diawali dengan aksi tekanan jual massif di Wall Street yang berlanjut hingga sesi perdagangan Asia, sentimen baru datang dari China.

Negeri dengan perekonomian terbesar kedua Dunia itu mampu membukukan surplus perdagangan internasionalnya sebesar $99 miliar di bulan Juni lalu. Surplus tersebut dicapai berkat kinerja ekspor yang melonjak 8,6 persen, sementara impor turun 2,3 persen.

Kabar positif ini kemudian mampu menepis sentimen aksi jual di Wall Street sebelumnya hingga membuat gerak Indeks di Bursa Saham Utama Asia bervariasi. Bursa Saham Australia memaksimalkan sentimen China ini dengan melonjak tinggi, setelah sempat ragu dalam sesi pembukaan. Indeks ASX 200 menutup sesi perdagangan dengan melambung tajam 0,88 persen di 7.959,3 yang sekaligus menjadi rekor tertingginya sepanjang sejarah. Untuk dicatat, Australia telah cukup lama menjadikan China sebagai mitra perekonomian terbesarnya. 


Kinerja perekonomian China yang masih moncer dengan sendirinya menjadi kabar baik bagi negeri Tirai Bamu. 

Gerak naik fantastis Indeks juga terpantau di bursa Saham Hong Kong, di mana Indeks Hang Seng sempat meroket hingga 2,7 persen di kisaran 18.317,31. Sementara Indeks Nikkei (Jepang) terbabat  suram 2,45 persen dengan terhenti di 41.190,68.  Kesuraman juga mendera Indeks KOSPI (Korea Selatan) yang tergelincir 1,19 persen untuk berakhir di 2.857,0.

Dengan bervariasinya sentimen yang tersedia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Saham Indonesia terlihat memilih untuk bertahan di zona hijau. Pantauan menunjukkan, gerak IHSG yang membuka sesi perdagangan pagi dengan keraguan namun dengan segera mampu bertahan di zona penguatan terbatas.

IHSG kemudian terlihat mampu konsisten menapak zona penguatan hingga sesi perdagangan berakhir. IHSG menutup pekan ini, Jumat 12 Juli 2024 di posisi 7.327,58 atau melonjak 0,37 persen. Jalannya perdagangan di Jakarta kali Ini juga diwarnai kabar bahwa presiden terpilih Prabowo Subianto yang merencanakan kenaikan rasio Utang terhadap PDB hingga 50 persen. Namun kabar tersebut dibantah oleh tim Prabowo-Gibran.

Sementara pantauan lebih jauh memperlihatkan, gerak naik IHSG kali Ini yang dikontribusi secara dominan oleh saham-saham BUMN. Hal Ini terlihat dari gerak naik Indeks BUMN20 yang melonjak hingga 1,35 persen di 395,03. Saham-saham BUMN yang mengalami lonjakan tajam dan sekaligus masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan kali Ini diantaranya: BBRI naik 1,23 persen di Rp 4.900, BMRI melonjak 0,39 persen di Rp 6.425, BBNI melambung 3,18 persen di Rp 5.025, dan TLKM yang menanjak 1,25 persen di Rp 3.220.

Secara keseluruhan, kemampuan IHSG bertahan di zona penguatan kali ini justru kian mengukuhkan semakin terbatasnya tekanan beli yang tersedia. Namun investor terlihat masih berupaya bertahan optimis karena belum tersedia sentimen negatif untuk berbalik melakukan tekanan jual. Chart berikut memperlihatkan pola teknikal IHSG lebih rinci, di mana indikator ATR yang semakin menurun disertai dengan indikator MACD (histogram) yang juga melemah.



Rupiah Masih Kokoh
Situasi sedikit berbeda terjadi di pasar uang. Nilai tukar Rupiah terlihat konsisten menginjak zona penguatan secara signifikan. Rupiah bahkan terpantau sempat beberapa kali memimpin penguatan mata uang Asia. Namun menjelang sesi perdagangan sore berakhir, penguatan Rupiah terkikis secara bertahap. Penguatan Rupiah di Asia tercatat hanya mampu diimbangi oleh mata uang Ringgit Malaysia.

Rupiah sempat mencetak titik terkuatnya dengan menjangkau kisaran Rp16.119 per Dolar AS, namun kemudian mulai mengikis penguatan. Hingga ulasan ini disunting, Rupiah tercatat ditransaksikan di kisaran Rp 16.135 per Dolar AS atau menguat 0,33 persen. 

Tinjauan teknikal tim riset rmol.id menyimpulkan,  Rupiah yang kini mulai berpotensi untuk mengkandaskan Dolar AS hingga di bawah kisaran Rp 16.000. Meski untuk konsisten dibutuhkan sejumlah sentimen domestik yang positif.

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

Mendag AS Akhirnya Mengakui Pernah Makan Siang di Pulau Epstein

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:10

Israel Resmi Gabung Board of Peace, Teken Piagam Keanggotaan di Washington

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:09

Profil Jung Eun Woo: Bintang Welcome to Waikiki 2 yang Meninggal Dunia, Tinggalkan Karier Cemerlang & Pesan Misterius

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:08

Harga Minyak Masih Tinggi Dipicu Gejolak Hubungan AS-Iran

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:59

Prabowo Terus Pantau Pemulihan Bencana Sumatera, 5.500 Hunian Warga Telah Dibangun

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:49

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Tertekan ke Rp16.811 per Dolar AS

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:47

Salah Transfer, Bithumb Tak Sengaja Bagikan 620.000 Bitcoin Senilai 40 Miliar Dolar AS

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:33

Menteri Mochamad Irfan Yusuf Kawal Pengalihan Aset Haji dari Kementerian Agama

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:18

Sinyal “Saling Gigit” dan Kecemasan di Pasar Modal

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:09

KPK: Kasus PN Depok Bukti Celah Integritas Peradilan Masih Terbuka

Kamis, 12 Februari 2026 | 08:50

Selengkapnya