Berita

Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka/Net

Bisnis

Kurs Rupiah Dirancang Balik ke Rp15 Ribu di Era Prabowo, Ini Faktornya

SENIN, 08 JULI 2024 | 16:14 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Nilai tukar (kurs) rupiah di era pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka ditargetkan akan bertengger di bawah Rp16 ribu per Dolar AS.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa kurs rupiah di era pemerintahan presiden baru itu telah dirancang Rp15.300 hingga Rp15.900 per Dolar AS di tahun pertama pemerintahan, yang didasarkan atas kondisi ekonomi dunia maupun domestik.

“Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS diperkirakan berada di rentang Rp15.300-(di bawah) Rp16.000,” kata Sri Mulyani pada akhir Mei lalu.


Adapun keputusan itu sendiri telah disepakati oleh Kementerian Keuangan dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Badan Anggaran DPR RI.

Mengutip catatan dokumen Laporan Panitia Kerja Asumsi Dasar, Kebijakan Fiskal, Pendapatan, Defisit dan Pembiayaan Dalam Rangka Pembicaraan Pendahuluan RAPBN Tahun Anggaran 2025, pemerintah telah menyetujui kurs rupiah akan bergerak di kisaran Rp 15.300-15.900 tahun depan.

"Kesepakatan tersebut telah mempertimbangkan peluang dan risiko yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2024 dan 2025," dikutip dari dokumen kesepakatan Panja Asumsi Dasar RAPBN 2025, Senin (8/7).

Keputusan itu didasarkan atas faktor internal dan eksternal, di mana pemerintah dan DPR menyoroti ketidakpastian perubahan kebijakan moneter bank sentral AS, kondisi geopolitik global, hingga pelemahan kinerja ekonomi global mitra dagang utama Indonesia yang disebut dapat menjadi faktor dominan yang mempengaruhi tekanan terhadap pergerakan Rupiah.

"Meskipun kondisi fundamental ekonomi dalam negeri relatif baik, meningkatnya dolar indeks akibat berbagai faktor tersebut memberikan tekanan pada pergerakan nilai tukar Rupiah," tulis Panja Asumsi Dasar.

Namun, pemerintah dan DPR masih menilai bahwa rupiah akan kembali menguat pada tahun depan karena terbentuknya pemerintahan baru pasca Pemilu di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Dikatakan para wakil rakyat, kondisi tersebut diprediksi dapat mengurangi faktor ketidakpastian, sehingga mendorong aktivitas investasi dari yang selama ini investor cenderung menahan keputusannya atau wait and see.

"Stance kebijakan moneter di negara-negara maju juga diperkirakan sudah mulai menuju longgar sehingga akan mengurangi tekanan di pasar keuangan," ungkap Panja.

Sementara dari sisi domestik, prospek ekonomi nasional dianggap masih kuat, yang disertai dengan berbagai langkah perbaikan kinerja sektor riil dan industri, yang akan terus membuka peluang masuknya investasi langsung hingga meningkatkan kinerja ekspor Indonesia. Hal tersebut dinilai dapat mendorong masuknya devisa.

"Inflasi yang tetap terjaga rendah juga memberikan ruang yang cukup bagi kebijakan moneter untuk turut mendukung kinerja sektor riil," tulis Panja yang dipimpin Ketua Banggar Said Abdullah dan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR Khawatir Pekerjaan Debt Collector jadi Ilegal, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:43

Keripik Pisang Lokal Besutan Rumah BUMN BRI Tembus Malaysia dan Hong Kong

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:19

Menlu China Mesra dengan Luhut, Sejumlah Tawaran Kerja Sama Mengalir

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:54

Program Gerakan “Warga Peduli Warga” Jaringan Aktivis 98 Berlanjut di Lampung

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:28

Sejumlah Elemen Mahasiswa Ogah Ikut Demo AMPB 27 Agustus, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:10

Ribuan Warga Meriahkan Panggung Rakyat Merdeka PANsar Murah di Kendal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:50

BRI Raih Tiga Penghargaan Bergengsi Alpha Southeast Asia 2026

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:28

DPR Tekankan Penguatan Pengendalian Lingkungan untuk Hentikan Karhutla

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:58

YLBHI Dorong Bareskrim Usut Perwira Diduga Terlibat Penipuan Investasi Tambang Emas

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:14

Pikat Pembeli dari Singapura hingga Belanda, Produk UMKM Asal Sumut Berdaya Bersama BRI

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:55

Selengkapnya