Berita

Yen Jepang/Net

Bisnis

Yen Jepang Mencapai Titik Terendah Sejak 1986, Menkeu Suzuki Nyatakan Prihatin

JUMAT, 28 JUNI 2024 | 12:38 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Nilai tukar mata uang Jepang (JPY) melorot jauh terhadap dolar untuk pertama kalinya sejak tahun 1986.

Yen jatuh di level 161,15 per dolar pada Jumat pagi (28/6).

Menteri Keuangan Jepang Shunichi Suzuki mengatakan bahwa pihak berwenang sangat prihatin tentang dampak pergerakan valuta asing yang "cepat" terhadap perekonomian.


Berbicara pada konferensi pers reguler, Suzuki mengatakan pihak berwenang akan merespons dengan tepat terhadap pergerakan mata uang yang berlebihan. Dia menambahkan bahwa otoritas akan menjaga kepercayaan terhadap mata uang Jepang.

Pelemahan yen tak berhenti meski imbal hasil US Treasury turun pada perdagangan semalam dan data yang menunjukkan kenaikan harga konsumen yang solid di Tokyo.

Pejabat Kementerian Keuangan telah meningkatkan peringatan terhadap pelemahan yen minggu ini. Peringatan ini menandakan kesiapan untuk melakukan intervensi di pasar mata uang.

Otoritas Jepang menghadapi tekanan baru untuk membendung penurunan tajam yen. Para pedagang fokus pada perbedaan suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat.

Pemerintah Jepang menghabiskan 9,8 triliun yen atau sekitar Rp997,5 triliun untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing pada akhir April dan awal Mei setelah mata uang Jepang mencapai titik terendah dalam 34 tahun di 160,245 per dolar pada 29 April.

Nikkei melaporkan, selama akhir pekan mata uang Jepang merosot sekitar 1 yen terhadap dolar karena kekhawatiran mengenai ketidakpastian politik Eropa menyebabkan pembelian dolar.  

Dolar juga naik setelah S&P merilis laporan yang menunjukkan bahwa indeks manajer pembelian gabungan AS telah merangkak ke level tertinggi dalam 26 bulan, menunjukkan bahwa aktivitas bisnis terus berkembang pada kecepatan yang sehat.

Setelah yen jatuh ke level terendah dalam 37 tahun, Masato Kanda, diplomat mata uang utama Jepang, berkomentar bahwa pelemahan yen tidak dapat dibenarkan dan pihak berwenang sangat prihatin dan waspada.

“Kami akan dengan tegas menanggapi tindakan yang terlalu cepat atau didorong oleh spekulan," kata Kanda.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

OKI Kecam Serangan Houthi ke Makkah dan Madinah

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:17

Jakarta Running Festival Jadi Role Model Ajang Lari Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:01

Carbon Capture di Petrokimia Gresik Berpeluang Kurangi Impor Soda Ash

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:47

KPK Bantah Kembali Sita Uang Rp40 Juta dari Salah Satu PCNU Terkait Muktamar NU

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:27

Mantan Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut Widodo AS Wafat

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:12

Aksi Iklim Lintas Iman Desak Siklus Karhutla Tahunan Segera Diputus

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:02

Akuisisi Saham BYAN Haji Isam Sejalan dengan UU Minerba

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:44

Bill Gates: AI Bisa Picu Gejolak Ekonomi dan Sosial Selama 20 Tahun

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:43

Kehadiran Kopdes Bawa Harapan untuk Ekonomi Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:19

Pesantren Didorong Ikut Terlibat dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya