Berita

Wakil Ketua Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah, Mukhaer Pakkanna/Repro

Politik

Singgung Banyak Mafia, Muhammadiyah Tak Mau Gegabah Terima Konsesi Tambang

SABTU, 08 JUNI 2024 | 13:54 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo dengan memberi konsesi tambang kepada ormas keagamaan masih dikaji Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

Wakil Ketua Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah, Mukhaer Pakkanna bahkan menyebut pemerintah belum memberi penawaran secara resmi kepada Muhammadiyah.

“Sampai sekarang kami belum memutuskan ya atau tidak,” kata Mukhaer Pakkanna dalam diskusi daring bertajuk Ormas Agama Urus Tambang Buat Apa?, Sabtu (8/6).


Kendati begitu, Mukhaer memastikan Persyarikatan Muhammadiyah akan memutuskan perihal konsesi tambang dalam satu pekan ke depan. Saat ini, konsesi tambang masih menjadi perdebatan ilmiah dan strategis di internal ormas Islam yang lahir pada 1912 itu.

“Di tengah perdebatan di tingkat PP Muhammadiyah itu sangat hangat sekali. Tetapi mungkin pekan depan sudah ada kepastian, insyaallah,” tegas mantan Rektor Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB-AD) ini.

Di sisi lain, Mukhaer menyebut bahwa PP Muhammadiyah tetap mengapresiasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25/2024 terkait konsesi tambang untuk ormas keagamaan ini. Sebab walau bagaimanapun, PP tersebut sebuah terobosan baru dari pemerintah untuk melibatkan partisipasi masyarakat.

Hanya saja, kata Mukhaer mengingatkan, pengelolaan bisnis di sektor tambang masih asing bagi Muhammadiyah. Di samping, bisnis sektor tambang penuh dengan mafia dan oligarki dari hulu ke hilirnya.

“(Mengelola tambang) Ini masih asing bagi kami walaupun kami (Muhammadiyah) memiliki bisnis atau kegiatan amal usaha. Dari sisi kontranya, ini kan penuh dengan mafia, oligarki dari hulu sampai hilir, bahkan di tingkat pasarnya,“ tutup Mukhaer.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya