Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Cadangan Devisa Loyo, Rupiah Butuh Asupan

SABTU, 11 MEI 2024 | 11:27 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Nilai cadangan devisa Indonesia pada April anjlok hingga ke 4,2 miliar dolar AS.

Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa pada akhir April tinggal 136,2 miliar dolar AS, menjadi yang terendah sejak Oktober 2023 ketika posisinya rontok ke 133,1 miliar dolar AS.

Ini menjadi kekhawatiran banyak kalangan. Penurunan cadangan devisa ini nampaknya kan terus berlangsung dalam beberapa bulan ke depan seiring dengan puncak permintaan dolar Amerika Serikat yang biasanya terjadi antara Mei-Juni.


Jadwal pembayaran dividen dan imbal hasil investasi para investor asing yang sudah berlangsung sejak April lalu akan berlanjut sampai Juni dan memicu lonjakan permintaan valas di pasar.

Ada kekhawatiran, Bank Indonesia akan terpaksa mengerek bunga acuan lagi terutama ketika prospek bunga acuan global memburuk yang bisa dengan mudah memicu arus keluar modal asing dari pasar domestik seperti yang terjadi April lalu.

Namun begitu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan dalam media briefing beberapa hari lalu bahwa cadangan devisa RI dipastikan aman. Menurutnya, meski mengalami sedikit penurunan, tetapi masih mencukupi lebih dari standar internasional.

Ia menjelaskan bahwa cadangan devisa setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor, atau berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Cadangan devisa kami itu jauh lebih tinggi dari ukuran IMF (International Monetary Fund). Sehingga 'kenapa penurunan cadangan devisa?', enggak usah gundah gulana, enggak usah insecure, ya memang wajarnya gitu," jelas Perry.

Ia juga berharap cadangan devisa akan kembali naik. Hal itu seiring dengan masuknya kembali aliran modal asing dan semakin stabilnya nilai tukar rupiah.

Lionel Prayadi, Fixed Income and Market Strategist Mega Capital Sekuritas memaparkan bahwa pelaku pasar masih mempertimbangkan risiko kenaikan bunga acuan BI rate dalam waktu dekat.

Kenaikan BI rate bisa terjadi bila inflasi inti CPI Amerika pada April tetap bertahan di level 0,4 persen, menurutnya.

Selisih imbal hasil investasi Indonesia dengan AS, saat ini di kisaran 245 bps, terbilang sempit dibanding yield spread negara berkembang lain seperti India atau pasar Amerika Latin.

Pasar mengkhawatirkan, dengan melihat lanskap bulan-bulan mendatang di mana turbulensi pasar bisa kembali datang di tengah lonjakan permintaan dolar di pasar domestik, rupiah bisa kembali mengalami overshoot. BI rate bisa kembali dikerek dan akan berimbas semakin dalam ke pertumbuhan ekonomi di sisa tahun ini.

Memasuki kuartal II, permintaan dolar AS di pasar memang biasanya lebih tinggi. Selain faktor repatriasi dividen investor asing dan pembayaran kupon, di bulan-bulan ini akan ada lonjakan permintaan dolar AS dari para jamaah haji seiring kedatangan musim pemberangkatan haji.

Kemudian ada pembayaran dividen asing yang diperkirakan mencapai kisaran 2,4 miliar dolar AS yang membutuhan pasokan dolar AS. Belum ditambah kebutuhan valas rutin untuk mengimpor migas oleh PT Pertamina (Persero) lalu pembayaran utang luar negeri jatuh tempo baik pemerintah maupun korporasi swasta, juga permintaan valas para jamaah haji yang berangkat ke Mekkah baik berupa riyal Arab Saudi maupun dolar AS.

Indonesia diperkirakan memberangkatkan sekitar 241.000 calon jamaah haji. Bila diasumsikan, setiap calon jamaah haji membutuhkan riyal atau dolar AS sekitar 6.000 dolar AS saja, kebutuhan valas para calon jamaah haji bisa mencapai 1,4 miliar dolar AS.

Berkaca pada apa yang terjadi tahun lalu di puncak musim haji yang terjadi pada Juni, rupiah memang melemah akibat lonjakan permintaan valas terutama dari pembayaran dividen, pembayaran utang valas jatuh tempo, impor migas Pertamina ditambah kebutuhan valas haji.

Perry mengatakan, cadangan devisa merupakan salah satu instrumen untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Karenanya, cadangan devisa menurun ketika digunakan untuk menstabilkan nilai tukar.

“Tapi cadangan devisa akan kembali naik, ketika aliran modal asing kembali masuk dan terjadi surplus perdagangan yang besar. Jadi saat ‘panen’ devisa kita kumpulkan,” terangnya.

Sampai minggu kedua bulan Mei, berdasarkan data Bank Indonesia, saliran masuk modal asing melalui SRBI mencapai Rp19,77 triliun. Sedangkan melalui instrumen SBN mencapai Rp8,1 triliun.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Budi Arie Bakal Dipolisikan soal Ucapan Percepatan Pemilu 2029

Senin, 07 September 2026 | 22:28

Teluk Bayur: Jangan Membangun Aset Tanpa Kargo

Senin, 07 September 2026 | 22:10

PLTP Gunung Ungaran Miliki Sejumlah Manfaat, Eksplorasi Layak Dilanjutkan

Senin, 07 September 2026 | 21:55

Purbaya Tak Ambil Pusing Pramono Ngotot Terbitkan Obligasi DKI Rp5,2 Triliun

Senin, 07 September 2026 | 21:35

BRI dan Serikat Pekerja BRI Tandatangani PKB 2026-2028

Senin, 07 September 2026 | 21:28

Wakapolri Minta Kecakapan Personel dalam Penanganan Bencana dan Konflik Sosial

Senin, 07 September 2026 | 21:15

Dua Pimpinan DPRD Kota Bengkulu Kompak Mangkir Panggilan KPK

Senin, 07 September 2026 | 20:50

Prabowo Instruksikan BRI dan BSI Siapkan Rekening untuk Masyarakat

Senin, 07 September 2026 | 20:48

OJK Tegaskan Tak Ada Ruang bagi Pelanggaran Keterbukaan Informasi

Senin, 07 September 2026 | 20:46

Pemerintah Siapkan OMC Atasi Sebaran Abu Anak Krakatau di Empat Provinsi

Senin, 07 September 2026 | 20:31

Selengkapnya