Berita

Gerai KFC di Subang Jaya, Malaysia/Net

Bisnis

Diteror Seruan Boikot Anti Israel, Ratusan Gerai KFC di Malaysia Ditutup

SABTU, 04 MEI 2024 | 07:41 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dampak boikot terhadap merek-merek asal Amerika Serikat semakin menyebar di negara-negara mayoritas Muslim di Asia Tenggara, termasuk Malaysia dan Indonesia.

Salah satu yang terkena dampak paling besar di Malaysia adalah KFC. Dilaporkan bahwa operator jaringan restoran cepat saji di negara itu terpaksa menutup sementara lebih dari 100 restoran di seluruh negeri.

QSR Brands, yang mengoperasikan jaringan KFC di Malaysia, ini mengungkapkan bahwa minggu ini mereka telah menutup sementara beberapa gerainya sebagai respons terhadap situasi yang terjadi.


Dalam sebuah pernyataan, perusahaan tersebut mengatakan telah mengambil tindakan proaktif, menambahkan bahwa karyawan di toko yang terkena dampak ditawari kesempatan untuk pindah ke toko yang tetap buka.

“Sebagai perusahaan yang telah melayani masyarakat Malaysia selama lebih dari 50 tahun, fokusnya tetap pada penyediaan produk dan layanan berkualitas kepada pelanggan, sekaligus memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian Malaysia melalui keamanan kerja bagi 18.000 anggota tim di Malaysia, yang mana 85 persen darinya adalah  Muslim,” menurut pernyataan perusahaan, seperti dikutip dari Nikkei Asia, Sabtu (/5).

Menurut laporan pada Selasa di surat kabar lokal Nanyang Siang Pau, total 108 gerai ditutup sementara. QSR memiliki sekitar 600 toko KFC di negara tersebut.

Seorang staf di toko KFC yang terkena dampak di Subang Jaya, negara bagian Selangor mengatakan kepada Nikkei Asia pada Kamis (2/5) bahwa gerai tersebut telah diinstruksikan untuk tutup sementara dua minggu lalu.

Gerai tersebut dibuka kembali pada hari Kamis, menjual minuman, sementara kursi dan meja masih bertumpuk.

“Boikot ini sangat efektif untuk menunjukkan pesan kami menentang pendudukan di Palestina. Namun, saya juga prihatin dengan penghidupan keluarga staf yang bergantung pada pekerjaan mereka di KFC,” kata seorang pembeli berusia 40-an kepada Nikkei Asia.

Selama beberapa bulan terakhir, merek-merek makanan dan konsumen asal Amerika Serikat mulai dari Starbucks hingga McDonald’s telah menjadi sasaran boikot di negara-negara mayoritas Muslim di Asia Tenggara, Malaysia dan Indonesia di tengah kritik konsumen kepada Amerika Serikat, yang mendukung Israel dalam perangnya melawan Hamas.

Di tanah air, operator Starbucks Indonesia, MAP Boga Adiperkasa, pada Senin (29/3) mencatat rugi bersih sebesar Rp22,2 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini, turun dari laba bersih sebesar Rp13,6 pada kuartal pertama tahun 2023. Pendapatannya  turun sebesar 17,6 persen dari tahun sebelumnya menjadi Rp787 miliar.

Sejak pembukaan toko pertamanya pada tahun 2002, perusahaan ini telah memperluas gerai Starbucks di seluruh negeri hingga lebih dari 500 gerai pada tahun 2023.

Sebelumnya, Starbucks di Malaysia mencatat penurunan pendapatan sebesar 38,2 persen menjadi 182,55 juta ringgit (Rp623 miliar) pada kuartal keempat tahun 2023, menurut laporan keuangan dari operator lokalnya, Berjaya Food.  

Perusahaan menjelaskan, penurunan pendapatan ini terutama disebabkan oleh boikot yang sedang berlangsung terkait dengan perang Israel-Hamas.

Karena hasil dari perang ini masih belum pasti, merek-merek konsumen AS tetap bersikap hati-hati mengenai dampak perang di masa depan terhadap bisnis mereka.

“Jika Anda melihat dampak dari beberapa boikot di beberapa pasar kita, saya tidak akan mengatakan keadaan di sana menjadi lebih buruk,” kata CEO McDonald's Chris Kempczinski dalam panggilan analis pada tanggal 30 April, menurut transkrip yang diterbitkan  oleh outlet berita keuangan Seeking Alpha.  

Namun dia menambahkan, “Kami tidak memperkirakan akan ada perbaikan yang berarti dalam dampaknya sampai perang selesai.”

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Purbaya Bakal Bahas Layer Baru Cukai Rokok Oktober, Pengusaha Ilegal Siap-Siap

Sabtu, 05 September 2026 | 20:23

Kasus Tahura Singlurus Pintu Masuk, Koptasi Minta Selisih LHV Batubara SSS Diusut

Sabtu, 05 September 2026 | 20:20

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

Gen Z Antusias, Ribuan Anak Muda Padati LFF 2026 Sejak Pagi

Sabtu, 05 September 2026 | 19:44

Menhut Perkuat Penyelamatan Satwa Liar di Tengah Karhutla Kalteng

Sabtu, 05 September 2026 | 19:28

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Putusan Banding yang Meringankan di Kasus Andrie Yunus

Sabtu, 05 September 2026 | 19:13

OMC Berhasil Datangkan Hujan, KLH Pastikan Karhutla di Kalbar dan Kalteng Terkendali

Sabtu, 05 September 2026 | 19:00

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Ini Sejarah Letusannya

Sabtu, 05 September 2026 | 18:46

BAIK Bangkit dari Suspensi, Siapkan Jurus Pulihkan Kinerja

Sabtu, 05 September 2026 | 18:46

Kemenhut Siapkan Call Center Rescue 24 Jam Tangani Satwa Liar Terdampak Karhutla

Sabtu, 05 September 2026 | 18:37

Selengkapnya