Berita

Peneliti senior Institut Riset Indonesia (Insis), Dian Permata/Ist

Politik

Pemerintah Harus Pelajari Perilaku Burung Woodpecker Atasi Kelangkaan Beras

MINGGU, 17 MARET 2024 | 12:43 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Pemerintah Indonesia harusnya bisa belajar dari perilaku burung woodpecker untuk mengatasi kelangkaan beras agar tidak terus melakukan impor. Bukan malah menyalahkan fenomena alam.

Menurut peneliti senior Institut Riset Indonesia (Insis), Dian Permata, pemerintah tidak bisa secara penuh menyatakan bahwa kelangkaan beras disebabkan oleh El Nino.

"Jika diksi itu digunakan oeh pemerintahan, maka akan menyudutkan kesalahan fenomena alam. Karena pada hakikatnya fenomena alam juga berkaitan dengan ulah manusia itu sendiri. Seperti efek gas rumah kaca yang dihasilkan polusi udara daan seterusnya," kata Dian kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (17/3).


Bahkan, menurut Dian, jika menyalahkan alam, maka hal tersebut merupakan bentuk kegagalan para teknokrat pemerintah yang gagal menangkap fenomena alam. Sejatinya, fenomena El Nino bisa dibaca dengan ilmu pengetahuan.

"Misalnya, apa saja kebijakan yang dikeluarkan untuk mengatasi fenomena alam itu terhadap ketahanan pangan, misalnya kesedian beras," tutur Dian.

Apalagi, kata akademisi Universitas Ibnu Chaldun Jakarta ini, menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), El Nino bukan hanya terjadi pada tahun ini saja. Di mana, El Nino juga pernah terjadi pada 1962, 1963, 1972, 1982, 1983, 1997, 1998, 2015, dan 2016.

"Jika kita lihat data tahun tersebut, maka ada beberapa tahun yang berhimpitan dengan tahun pelaksanaan pemilu," kata Dian.

"Pertanyaan kritisnya, apakah di tahun itu juga mengalami periodisasi yang sama persis seperti saat ini? Apakah saat itu sudah ada fenomena bansos? Apakah ada catatan lain, apakah pembeli beras pada saat pemilu kemarin pembelinya adalah masyarakat atau korporasi? Data-data inilah yag tidak pernah diungkap," sambungnya

Dian menilai, pemerintah bisa belajar dari perilaku burung woodpecker. Burung jenis tersebut dapat beradaptasi menghadapi musim dingin jauh-jauh hari, dengan cara menyimpan makanan berupa kacang-kacangan di pohon. Cara itu membuat mereka dapat bertahan di musim dingin yang minim makanan.

"Hal serupa dapat dilakukan oleh para teknokrasi pemerintahan. Sebagai negara agraris juga dapat berpikir adaptasi soal El Nino. Misalnya dengan memperluas tanah garapan, memperbaiki saluran air irigasi seperti di daerah Nganjuk Jawa Timur, atau lainya," pungkas Dian.




Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Utang dan Delusi Pembangunan

Rabu, 16 September 2026 | 05:52

Tak Ulangi Kesalahan Purbaya, Suahasil Diharapkan Terus Gelorakan Ekonomi Konstitusi

Rabu, 16 September 2026 | 05:22

Pengukuhan Pengurus PERKAPI Bakal Dihadiri Menhum dan Ketua Komisi XIII DPR

Rabu, 16 September 2026 | 04:44

Fungsi KDKMP yang ‘Disabotase’

Rabu, 16 September 2026 | 04:24

Menhan Sjafrie Apresiasi Bantuan Jepang dalam Atasi Karhutla

Rabu, 16 September 2026 | 03:57

Politikus Senior PKS: PPHN Jangan jadi RPJPN Kedua

Rabu, 16 September 2026 | 03:30

38 Aset Senilai Rp846 Miliar Disita Kejagung dalam Kasus Febrie

Rabu, 16 September 2026 | 03:03

Kegiatan Belajar di SMPN 16 Medan Pulih 100 Persen Usai Dilanda Banjir

Rabu, 16 September 2026 | 02:48

WNA Malaysia Laporkan Pamen Polri Terkait Kasus Investasi Emas ke Bareskrim

Rabu, 16 September 2026 | 02:24

Kemensos Apresiasi Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Sulsel Mulai Beroperasi

Rabu, 16 September 2026 | 01:59

Selengkapnya