Berita

Imam Shamsi Ali/Net

Publika

Ramadan Bulan Transformasi

OLEH: IMAM SHAMSI ALI
SELASA, 12 MARET 2024 | 14:21 WIB | OLEH: SAID SALAHUDIN

TRANSFORMASI hati dan jiwa atau tepatnya tazkiyah an-nafs (pembersihan jiwa) menjadi fondasi bagi terjadinya transformasi dalam kehidupan manusia, baik pada tataran personal (fardi), keluarga dan Komunitas (umat). Tanpa hati dan jiwa yang bersih kesemua sisi kehidupan menjadi buruk dan amburadul.

Sekali lagi, itulah makna dari titah baginda: “pada tubuh manusia ada segumpal darah yang jika baik akan baik semua anggota tubuhnya. Tapi jika buruk maka akan buruk semua anggota tubuhnya” (hadits).

Tiga: Urgensi menjadikan bulan Ramadan sebagai bulan transformasi akhlak. Bulan di mana setiap orang yang melakukan puasa, tidak saja untuk tujuan ritual dengan perhitungan pahala. Tapi sekaligus bulan di mana orang yang berupuasa itu melakukan “pelatihan” akhlak yang mulia.


Memang secara legal (hukum fikih) puasa seolah sekedar menahan makan, minum dan hubungan suami isteri. Tapi hakikatnya puasa adalah latihan terutama menahan diri dari segala perilaku yang tidak sesuai etika. Etika itu esensinya ada pada hakikat. Karenanya fikih tanpa akhlak adalah hambar. Sebagaimana hukum tanpa etika juga hilang nilai (value).

Dengan menahan diri dari kesenangan dunia di siang hari seseorang harusnya mampu mengingatkan diri bahwa di atas dari eksistensi fisikal (material) ini ada nilai yang lebih tinggi. Hal ini akan mengingatkan pentingnya menjaga nilai itu. Kejujuran, ketawaduan, dan semua prilaku kebaikan (kindness) itu bagian dari nilai yang terangkum dalam tatanan akhlak manusia. Sebaliknya keculasan, kecurangan, arogansi, ketamakan dan kekikiran semuanya adalah nilai buruk yang melanggar tatanan prilaku mulia (akhlak karimah) itu.

Sesungguhnya akhlak dalam tatanan ajaran agama (Islam) menjadi intisarinya (essence). Beragama tanpa akhlak bagaikan pohon yang tak berbuah (kasyajar bilaa tsamar). Akhlaklah yang menjadi cerminan dari nilai-nilai keimanan dan ubudiyah. Dan karenanya iman tanpa akhlak dipertanyakan. Sebagaimana ibadah-ibadah ritual tanpa akhlak menjadi hampa.

Hadits-hadits Rasulullah SAW banyak mengingatkan pentingnya nilai ibadah-ibadah teraplikasikan dalam bentuk prilaku yang baik (akhlak karimah). Puasa misalnya terancam hampa ketika seseorang menahan makan dan minum tapi tidak menjaga perkataan dan perbuatannya. Puasa yang seperti ini hanya akan menghasilkan lapar dan dahaga semata (hadits).

Sedemikian pentingnya akhlak karimah itu sehingga Rasulullah seolah menyimpulkan misi kerasulannya (dakwahnya) dengan “akhlak karimah”. Sebagaimana beliau tegaskan: “sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak” (hadits).

Beliau bahkan menggariskan bahwa faktor terbesar seseorang itu masuk syurga karena akhlak yang baik (husnul khuluq). Sebaliknya seseorang yang buruk akhlak, walau ibadah ritualnya banyak, akan bangkrut dan akhirnya masuk neraka (hadits al-muflis).

Rasulullah SAW sendiri dengan segala ketinggian Iman dan ibadah-ibadahnya justeru secara khusus terpuji dalam Al-Qur’an bukan dengan semua itu. Justeru Allah memujinya karena kemuliaan akhlak beliau: “sesungguhnya Engkau memiliki akhlak yang tinggi (khuluqin ‘adzim)”.

Akhlak karimah atau karakter mulia ini menjadi titik sentra (pusat) ketauladan baginda Rasulullah yang wajib ditauladani: “sungguh bagi kalian pada Rasulullah ada uswah hasanah (ketauldanan yang baik)”.

Sayangnya umat Islam seringkali membatasi diri dalam meneladani Rasulullah pada aspek-aspek ubudiyah semata. Salat, puasa, haji dan ragam ritual menjadi perhatian besar. Namun ketauladanan pada karakter dan prilaku sosial Rasulullah terabaikan. Di masjid-masjid Sholat jamaah menjadi ramai. Tapi di samping-samping Masjid betapa banyak Saudara-Saudara yang kelaparan tanpa ada uluran tangan. Hal yang sejatinya terancam sebagai “kedustaan dalam beragam” (Al-Ma’un).

Di bulan Ramadan umat mampu menahan diri dari makan dan minum. Tapi lidah, mata, telinga dan pikiran melanggar semua norma dan etika yang digariskan Islam. Umat Islam mampu menahan diri tidak makan dan minum. Tapi jiwa dan pikiran masih dikuasai oleh kerakusan duniawi. Termasuk kerakusan kepada kekuasaan melalui berbagai pengangkangan peraturan dan etika.

Semoga di bulan Ramadan ini kita mampu melakukan  pembenahan akhlak dan karakter ke arah yang lebih baik. Aamiin!

Penulis adalah Direktur Jamaica Muslim Center New York

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Setelah 19 Kapolda Berganti, Apa yang Berubah bagi Masyarakat?

Selasa, 06 Oktober 2026 | 06:19

King Indo Sah Jadi Raja ASEAN Usai Geprek Thailand 4-2

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:54

Jika Gugatan Denny Indrayana Cs Diterima MK Tak Otomatis Gibran Lengser

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:33

Ada Beking Politik, Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Jaksinema Bakal Jadi Mesin Baru Ekonomi Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:55

Bonus Timnas Indonesia Diatur Ketum PSSI

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:38

Nasib Gibran di Tangan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:19

Tak Mudah Pecat Gibran Meski Gugatan Denny Indrayana Cs Dikabulkan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:28

Festival Indonesia 2026 Perkuat Diplomasi Budaya Jakarta-Seoul

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:03

Jakarta Butuh Regulasi Parkir Valet

Selasa, 06 Oktober 2026 | 02:23

Selengkapnya