Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Harga Minyak Dunia Anjlok Gara-gara Penurunan Permintaan China dan Risiko Geopolitik di Timur Tengah

SENIN, 11 MARET 2024 | 19:01 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Harga minyak dunia tercatat mengalami penurunan pada perdagangan Senin (11/3), yang dipicu oleh perlambatan permintaan di China dan risiko geopolitik di Timur Tengah dan Rusia.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent turun 0,2 persen, menjadi 81,96 dolar AS (Rp1,269 juta) per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) juga dilaporkan turun 0,2 persen, menjadi 77,8 dolar (Rp1,205 juta) per barel.

Kedua harga minyak itu melanjutkan penurunannya setelah pada pekan lalu minyak Brent turun 1,8 persen dan WTI turun 2,5 persen, karena data bearish China yang menunjukkan melemahnya permintaan di negara nomor satu importir minyak mentah.


Kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi China, yang merupakan konsumen terbesar minyak dunia, dinilai lebih dominan daripada keputusan OPEC+ untuk memperpanjang pengurangan pasokan secara sukarela.

Menurut Presiden NS Trading, unit Nissan Securities, Hiroyuki Kikukawa, situasi geopolitik di Timur Tengah dan Rusia juga membatasi penurunan harga minyak.

"Kerugian penurunan itu akan berlanjut oleh meningkatnya risiko geopolitik, dengan kemungkinan tidak tercapainya gencatan senjata dalam perang Hamas-Israel dan konflik dapat meluas di Rusia dan negara-negara tetangganya,” katanya.

Di sisi lain, China telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen untuk tahun 2024, yang dianggap sebagai target ambisius tanpa stimulus ekonomi tambahan.

Meski demikian, impor minyak mentah China terpantau meningkat dalam dua bulan pertama tahun ini, namun impor itu masih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang menunjukkan adanya tren penurunan pembelian dari pembeli terbesar di dunia.

Sementara di sisi pasokan, OPEC+ telah memutuskan untuk mempertahankan kebijakan pengurangan produksi minyak sebesar 2,2 juta barel per hari hingga kuartal kedua.

Hal tersebut diyakini akan dapat memberikan dorongan positif terhadap pasar dengan pulihnya permintaan setelah jeda musiman. Namun, risiko geopolitik yang terus meningkat di beberapa wilayah dunia tetap menjadi fokus perhatian para pelaku pasar.

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya