Berita

Barata Sembiring Brahmana saat berbicara pada diskusi film Dirty Vote di hadapan ratusan mahasiswa USU/Ist

Politik

Barata Brahmana: Miris Aktivis 98 yang Punya Jabatan Justru Kini Pengkhianat Reformasi

SENIN, 04 MARET 2024 | 21:11 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Tujuan reformasi itu adalah untuk membawa sebuah misi perubahan Indonesia dari orde baru yang sangat otoriter dan pemerintahan yang korup menjadi Indonesia yang demokrasi yang membawa kesejahteraan bagi bangsa. Namun faktanya, belakangan situasi politik justru semakin jauh melenceng dari cita-cita reformasi tersebut ditandai dengan semakin menguatnya praktik kolusi, korupsi dan nepotisme.

Demikian disampaikan tokoh masyarakat Karo, Barata Sembiring Brahmana dihadapan ratusan mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang mengikuti diskusi dan dialog dengan Dandhy Dwi Laksono sang sutradara film dokumenter Dirty Vote dan pakar hukum tata negara Feri Amsari dan tim film dokumenter tersebut di Inter Coffee, Komplek Kampus USU, Padang Bulan, Medan, Minggu (3/3).

“Yang berkuasa sekarang itu adalah mahasiswa yang memperjuangkan reformasi 98, namun sekarang mereka itu mengkhianati reformasi. Mereka lupa cita-cita reformasi dan hanya mau ambil bagian dari istana,” katanya.


Menurut Barata, cita-cita reformasi yang membawa Indonesia terhindar dari kolusi, korupsi dan nepotisme merupakan hal yang palin ideal untuk membawa bangsa ini menjadi bangsa yang sangat maju. Namun faktanya, belakangan ini praktik korupsi menjadi hal yang justru tidak memunculkan rasa tabu lagi bagi masyarakat. Hal ini karena korupsi sudah berlangsung secara massif.

“Saya kira ini menjadi PR bagi kalangan mahasiswa saat ini. Apakah akan membiarkan hal ini terus terjadi atau mendorong sebuah gerakan untuk menghentikan semua bentuk-bentuk nepotisme dan KKN yang kembali dilakukan oleh para penguasa,” ujarnya pada diskusi yang juga dihadiri guru besar USU Prof Dr Ningrum Sirait, Prof Dr Nurlisa Ginting dan beberapa akademisi lainnya tersebut.

Sementara itu, Feri Amsari mengatakan fllm ini menjadi salah satu bagian dari upaya mereka untuk menunjukkan bahwa pesta demokrasi seperti Pemilu 2024 menjadi agenda politik yang sangat massif terjadinya kecuranga oleh penguasa. Jika pada pemerintahan orde baru lalu hal ini dikenal dengan istilah KKN, maka menurutnya sekarang ini yang terjadi adalah peristiwa penguasaan negara oleh dinasti.

“Ironisnya hal ini sudah terencana dan didesain secara sangat terstruktur dan massif oleh penguasa sekarang. Jadi perencanaan kecurangan untuk memuluskan dinasti itu dilakukan dengan desain menggunakan kekuatan dari kekuasaan. Kami tidak pada posisi ingin memihak pihak mana pun dalam pemilu 2024, namun kami lebih pada memberi kesadaran mengenai kecurangan yang terjadi sehingga kita bisa tergerak untuk melakukan koreksi,” pungkasnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Setelah 19 Kapolda Berganti, Apa yang Berubah bagi Masyarakat?

Selasa, 06 Oktober 2026 | 06:19

King Indo Sah Jadi Raja ASEAN Usai Geprek Thailand 4-2

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:54

Jika Gugatan Denny Indrayana Cs Diterima MK Tak Otomatis Gibran Lengser

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:33

Ada Beking Politik, Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Jaksinema Bakal Jadi Mesin Baru Ekonomi Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:55

Bonus Timnas Indonesia Diatur Ketum PSSI

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:38

Nasib Gibran di Tangan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:19

Tak Mudah Pecat Gibran Meski Gugatan Denny Indrayana Cs Dikabulkan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:28

Festival Indonesia 2026 Perkuat Diplomasi Budaya Jakarta-Seoul

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:03

Jakarta Butuh Regulasi Parkir Valet

Selasa, 06 Oktober 2026 | 02:23

Selengkapnya