Berita

Founder Kreasi Prasasti Perdamaian (KPP), Noor Huda Ismail, di acara Bedah Film dan Talkshow di Universitas Pamulang Kampus Viktor, Sabtu (2/3)/Istimewa

Nusantara

Lewat Film, Kreasi Prasasti Perdamaian Kampanyekan Toleransi terhadap Perbedaan Keyakinan

MINGGU, 03 MARET 2024 | 17:25 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Menjadi manusia yang berbeda bukanlah sebuah kesalahan. Sehingga tak ada alasan untuk memaksa orang lain yang berstatus minoritas mengikuti kehendak kaum mayoritas. Tidak boleh ada tekanan terhadap perbedaan.

Pemahaman inilah yang coba diangkat Kreasi Prasasti Perdamaian (KPP) saat mengadakan Bedah Film dan Talkshow di Universitas Pamulang Kampus Viktor, Tangerang Selatan. Adapun film yang dibedah adalah "Ahmadiyah’s Dilemma" dan "Puan Hayati: Threads of Faith".

Dalam "Ahmadiyah’s Dilemma" kehidupan rapper Malik Ross menjadi lensa dengan mengeksplorasi tantangan identitas dan trauma dalam komunitas Ahmadiyah. Film ini menjelajahi lebih dalam dan mengulik perjuangan yang dihadapi oleh pengikut Ahmadiyah.


Sedangkan dalam film "Puan Hayati: Threads of Faith", Dwi Utami dan Nata Hening berkomitmen pada keyakinan Puan Hayati di Jawa Tengah. Film ini ingin mengungkap tantangan yang dihadapi oleh agama-agama lokal di Indonesia.

Menurut sutradara film sekaligus founder Kreasi Prasasti Perdamaian (KPP), Noor Huda Ismail, film ini dibuat untuk memanusiakan manusia yang lain, walaupun secara teologis berbeda keyakinan. Karena secara sosiologis, kita adalah sama sebagai manusia walaupun berbeda keyakinan. Sehingga negara dapat memastikan para minoritas tetap mendapatkan hak-haknya.

"Film Ini bertujuan awareness campaign atau membangun kesadaran publik agar bisa menerima aliran keyakinan lain yang secara sosiologis bagian dari negara yang harus dilindungi," ucap Noor Huda Ismail, dalam keterangannya, Minggu (3/3).

Sementara Ketua Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Andy Yentriyani menuturkan, Indonesia sesungguhnya adalah negara yang besar, karena memiliki banyak keberagaman.

Sayangnya, informasi yang tersebar tidak cukup merata, sehingga banyak pihak yang akhirnya tidak peduli soal keberagamaan. Dan itulah sebetulnya yang menjadi titik awal peristiwa intoleransi, peristiwa kekerasan yang dialami oleh orang-orang yang dianggap berbeda dari kebanyakan.

"Dengan adanya dua film ini, kami dari Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan ingin memastikan bahwa ada ruang kita bisa hidup berdampingan dengan damai dan tenteram. Hidup berdampingan sangat penting karena dari peristiwa intoleransi pasti ada perempuan yang jadi korbannya, dengan persoalan yang dia harus hadapi," tutur Andy Yentriyani.

Agar tidak terulang peristiwa kekerasan terhadap perempuan dan keyakinan minoritas, Komnas Perempuan sudah berulang kali mendorong pemantauan tentang kondisi perempuan dalam berbagai peristiwa intoleransi di Indonesia.

"Kami telah melakukan dialog dengan Kementerian Agama, (Kementerian) Dalam Negeri, Pendidikan dan Kebudayaan, inilah tiga kementerian yang langsung terlibat, serta Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM, untuk memastikan tidak terulang peristiwa (intoleransi) tersebut," jelasnya.

Andy Yentriyani berharap pemerintah yang baru nanti lebih peduli dalam pengelolaan keberagaman di Indonesia. Termasuk seluruh tata kelola negara dan memperbaiki sistem pendidikan.

"Supaya kita bisa merayakan perbedaan itu, serta akan ada upaya yang lebih sistemik, yang mengedepankan rasa persatuan dan kesatuan, ditebalkan di tengah kebahagiaan kita merayakan kebhinekaan Indonesia," pungkasnya.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Turbulensi Kepercayaan dalam Teropong Nobel Ekonomi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22:16

Jadi Tersangka KPK, Bupati Klaten Didepak PDIP

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:45

Kapolri Rangkul Ulama Jatim untuk Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:32

Ilham Habibie hingga Chappy Hakim Dianugerahi Golden PIN INACA

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:02

DPR: Kehadiran Kapolri di BEI Sinyal Negara Serius Menegakkan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:33

Ketua Gappura Minta DPR Turun Tangan Mediasi PHK dan GHS di Krakatau Steel

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:35

Walhi Soroti Tanggung Jawab Lintas Sektor dalam Penanganan Karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:28

Kementerian UMKM Pulihkan 908 Usaha Terdampak Bencana di Sumatera

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:51

Komjak Diminta Turun Tangan Teliti JPU di Kasus Febrie

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:30

Surati Presiden Prabowo, YLKI Minta Menteri Bahlil Dicopot

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:49

Selengkapnya