Berita

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance, Ir Sugiyono/Net

Publika

Badan Hukum BUMN Diganti Koperasi?

SABTU, 17 FEBRUARI 2024 | 08:55 WIB | OLEH: DR. IR. SUGIYONO, MSI

PASAL 33 UUD 1945 hasil amandemen satu naskah sama sekali tidak mencantumkan bentuk badan hukum koperasi, sehingga pasal tersebut bukanlah menetapkan tentang monopoli badan hukum koperasi.

Selanjutnya, ayat (5) dalam Pasal 33 mencantumkan ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

Persoalannya adalah muncul pendapat bahwa bentuk badan hukum BUMN perlu dicabut dan diganti menjadi badan hukum koperasi. UU Perkoperasian diatur berdasarkan UU 25/1992.


Hal itu karena UU Perkoperasian 17/2012 dicabut oleh Mahkamah Konstitusi (MK), sehingga UU Perkoperasian yang berlaku dewasa ini adalah UU 25/1992.

UU BUMN yang berlaku adalah UU 19/2003. Dalam perkembangannya sedang dibicarakan untuk melakukan revisi UU BUMN, bahkan terbuka pilihan wacana untuk menyusun UU BUMN yang baru sama sekali dan berbeda dibandingkan UU BUMN 19/2003.

Dalam hal ini, gagasan mengganti BUMN menjadi koperasi terkesan kuat adalah untuk mengambil alih badan hukum BUMN menjadi koperasi terkait dengan momentum perdebatan untuk merevisi RUU BUMN, ataukah menyusun RUU BUMN yang baru sama sekali.

UU BUMN 19/2003 Pasal 9 membuat klasifikasi BUMN menjadi Persero dan Perum. Sementara itu UU Perkoperasian 25/1992 membuat klasifikasi koperasi menjadi koperasi primer dan koperasi sekunder. Ketentuan Persero ini mengacu pada UU Perseroan Terbatas 1/1995. Selanjutnya UU Perseroan Terbatas terbaru adalah UU 40/2007.

Tujuan Persero dalam UU BUMN 19/2003 adalah untuk menyediakan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat, serta mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perusahaan. Sementara itu tujuan Perum adalah sama sekali tidak mencantumkan syarat mengejar keuntungan.

Sementara itu tujuan koperasi juga sama sekali bukan untuk mengejar keuntungan sebagaimana BUMN Persero. Secara konkret tujuan koperasi adalah untuk memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Akan tetapi tujuan BUMN Perum sama sekali tidak sama dengan tujuan koperasi, yaitu BUMN Perum bertujuan penyediaan barang dan/atau jasa yang berkualitas dengan harga terjangkau oleh masyarakat berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat.

Jadi, koperasi sama sekali tidaklah bertujuan yang serba sama dibandingkan BUMN Persero dan BUMN Perum.

Bentuk badan hukum koperasi sama sekali bukanlah suatu perusahaan. Ada perbedaan yang mendasar bukan hanya terminologi konsumen dan kepemilikan. Konsumen koperasi dapat merupakan anggota, pengurus, dan non anggota, sedangkan konsumen BUMN hanya dibedakan sebagai karyawan dan non karyawan.

Non anggota pada koperasi dan non karyawan pada BUMN tidak mendapat bagi hasil atau keuntungan, sedangkan BUMN membayar dividen dan pajak untuk kontribusi kepada masyarakat selain produk barang dan jasa yang dibeli, yang dapat dinikmati secara tidak langsung oleh non karyawan pada BUMN.

Jadi, mengubah badan hukum BUMN menjadi koperasi berdampak terhadap hilangnya dividen dan perlakuan privilege pajak untuk non anggota koperasi.

Informasi yang keliru tentang jumlah BUMN yang berkurang bukanlah karena merugi atau bangkrut, melainkan pemanfaatan strategi holdingisasi untuk meningkatkan efisiensi dan skala perusahaan.

Sementara itu pada kasus koperasi terjadi banyak sekali koperasi ditutup karena tidak aktif. Di samping itu hilangnya dasar pengambilan keputusan RUPS atas dasar kepemilikan saham yang hilang atas pengubahan BUMN menjadi koperasi yang menjadi one man one vote, akan menimbulkan tidak adanya insentif atas kepemilikan modal.

Terlebih usaha memodernisasikan peran modal dalam UU Perkoperasian 17/2012 telah dicabut oleh MK. Di samping itu, tidak terbukanya kepemilikan asing, akan membawa BUMN menjadi Perusahaan yang tertutup dan mengurangi semangat transparansi usaha.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance, pengajar Universitas Mercu Buana

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ketua MPR Bicara Islam dan Kemajuan di Forum Mufti Dunia

Jumat, 12 Juni 2026 | 20:15

Cara Reaktivasi MyPertamina agar QR Code Aktif Lagi, Bisa Lewat Website dan Aplikasi

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:57

Dua Akses Stasiun MRT Dukuh Atas Ditutup Imbas Demo

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:54

Sinopsis Backrooms, Film Horor Adaptasi Serial YouTube yang Pecahkan Rekor Box Office

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:44

Demonstran Depan UOB

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:39

Palsukan Tanda Tangan, Bendahara BUMDes Diduga Korupsi Rp1,6 Miliar

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:35

KPK Didesak Naikkan Status Pejabat DJBC Ahmad Dedi ke Penyidikan

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:32

BRI Gelontorkan Dana Rp500 Miliar untuk Buyback Saham

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:14

Jadwal Lengkap Fase Grup Piala Dunia 2026

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:13

PDIP Diminta Tertibkan Kader Diduga Terlibat Program MBG

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:47

Selengkapnya