Berita

Sidang etik pegawai Rutan KPK di Ruang Sidang Etik, Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi KPK, Jakarta, Kamis (15/2)/RMOL

Hukum

Terbukti Terima Pungli, 12 Pegawai Rutan KPK Kembali Dijatuhi Sanksi Berat

KAMIS, 15 FEBRUARI 2024 | 13:10 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Sebanyak 12 pegawai Rumah Tahanan Negara (Rutan) cabang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali dinyatakan terbukti terima uang pungutan liar (pungli) dari tahanan KPK dan diberikan sanksi berat.

Hal itu merupakan putusan Majelis Sidang Etik Dewan Pengawas (Dewas) KPK dalam sidang kloter kedua yang dilakukan di Ruang Sidang Etik, lantai 6 Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi KPK, Jalan HR Rasuna Said Kav C1, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis siang (15/2).

Dalam sidang kloter kedua ini, sebanyak 13 orang menjadi terperiksa.


"Mengadili, menyatakan para terperiksa, telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan perbuatan menyalahgunakan jabatan dan/atau kewenangan yang dimiliki termasuk menyalahgunakan pengaruh sebagai insan komisi baik dalam pelaksanaan tugas, maupun kepentingan pribadi, dan/atau golongan sebagaimana diatur dalam Pasal 4 Ayat 2 huruf b Peraturan Dewas 3/2021 tentang Penegakan Kode Etik dan Kode Etik KPK," kata Ketua Majelis, Tumpak Hatorangan Panggabean.

Para terperiksa dimaksud, yakni terperiksa I Muhammad Abduh, terperiksa II Suharlan, terperiksa III Gian Javier Fajrin, terperiksa IV Syarifudin, terperiksa V Wardoyo, terperiksa VI Gusnur Wahid, terperiksa VII Firdaus Fauzi, terperiksa VIII Ismail Chandraz, terperiksa IX Ari Rahman Hakim, terperiksa X Zainuri, terperiksa XI Dian Ari Harnanto, dan terperiksa XIII Rohimah.

"Menjatuhkan sanksi berat kepada terperiksa I-XI dan XIII masing-masing berupa permintaan maaf secara terbuka langsung," terang Tumpak yang juga Ketua Dewas KPK.

Majelis Sidang Etik pun merekomendasikan kepada Pejabat Pembina Kepegawaian untuk melakukan pemeriksaan kepada terperiksa I-XI dan XIII, guna penjatuhan hukuman disiplin sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

"Menyatakan Dewan Pengawas tidak berwenang memeriksa dan mengadili dugaan pelanggaran kode etik dan kode perilaku yang dilakukan oleh terperiksa XII Asep Jamaludin dan menyerahkan kepada Sekretaris Jenderal selaku Pejabat Pembina Kepegawaian untuk diproses lebih lanjut sesuai dengan peraturan yang berlaku di KPK," pungkas Tumpak.

Dalam putusan ini, Majelis Sidang Etik membeberkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan.

"Hal-hal yang meringankan, tidak ada," kata Anggota Majelis, Albertina Ho.

Sedangkan hal-hal yang memberatkan, yakni perbuatan terperiksa I-XI dan XIII dilakukan secara berlanjut dan berulang-ulang, akibat perbuatan terperiksa I-XI dan XIII kepercayaan publik kepada KPK semakin merosot, perbuatan terperiksa I-XI dan XIII tidak mendukung upaya pemerintah dalam memberantas tindak pidana korupsi, dan terperiksa XIII Rohimah tidak mengakui perbuatannya.

Para terperiksa terbukti menerima uang bulanan dari para tahanan KPK agar bisa memasukkan handphone, barang/makanan, dan lainnya ke dalam tahanan sejak 2018-2023.

Para terperiksa menerima uang bulanan sebagai uang "tutup mata" agar membiarkan tahanan menggunakan handphone. Para terperiksa rata-rata menerima uang Rp3 juta setiap bulannya.

Uang tersebut dikumpulkan melalui korting, yaitu tahanan yang "dituakan", yang selanjutnya diberikan kepada petugas Rutan KPK yang ditunjuk sebagai "lurah" yang mempunyai tugas untuk mengambil uang bulanan dari korting atau orang kepercayaan/keluarga, dan selanjutnya membagikannya kepada para terperiksa.

Untuk terperiksa I terbukti menerima uang Rp85 juta, terperiksa II menerima uang Rp128,7 juta, terperiksa III menerima uang Rp97,6 juta, terperiksa IV menerima uang Rp95,1 juta, terperiksa V menerima uang Rp72,6 juta, terperiksa VI menerima uang Rp68,5 juta, terperiksa VII menerima uang Rp46,6 juta, terperiksa VIII menerima uang Rp30 juta, terperiksa IX menerima uang Rp31 juta, terperiksa X menerima uang Rp8,5 juta, terperiksa XI menerima uang Rp4 juta, dan terperiksa XIII menerima uang Rp29,5 juta.

Sidang ini merupakan kloter kedua. Sebelumnya pada sidang kloter pertama, sebanyak 12 orang terperiksa juga dinyatakan bersalah dan disanksi berat. Pada hari ini, Dewas akan membacakan enam persidangan dengan total keseluruhan sebanyak 90 orang terperiksa.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Darwis Ismail Terpilih jadi Nakhoda Baru ISKINDO Periode 2026-2031

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:46

Polda Metro Bongkar Penyelundupan 54 Ton Batu Galena dari Gorontalo

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:27

Usul LBP Makin Terasa Janggal, Reformasi Hukum Jangan Kehilangan Arah

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:59

Manifesto Welfare State Pesisir

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:30

Gerakan 1 Juta Liter Air Bersih BEM PTNU Teruskan Semangat Resolusi Jihad

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:05

Sidang Praperadilan Kasus Relawan Prabowo Ditunda, Hakim Tegur Kelalaian Pemanggilan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:51

Langkah Cepat Polda Jatim Cegah Potensi Kericuhan Aksi Mahasiswa Tuai Apresiasi

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:26

PT TIMAH Buka Opsi Buyback Saham Sikapi Dinamika Pasar Modal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:49

GMNI Puji Ketegasan Kapolri Bongkar Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:21

PKS Dukung Pemerintah Lakukan Reformasi Bursa Saham Menyeluruh

Jumat, 23 Oktober 2026 | 23:45

Selengkapnya