Berita

Ubedilah Badrun/Ist

Publika

Air Mata dan Nyawa Rakyat Jelata

UBEDILAH BADRUN*
SENIN, 29 JANUARI 2024 | 20:06 WIB

DI tengah hiruk-pikuk Pemilu 2024 yang penuh gimmick dan dramaturgi, ada baiknya beri ruang dan sedikit waktu untuk merenung. Sebab, sesungguhnya merenung adalah jendela batin untuk memetakan problem, anomali dan paradoks dalam kehidupan sosial kita, dalam kehidupan kebangsaan kita.

Ada banyak problem sosial yang menggambarkan fenomena paradox, misalnya ada entitas sosial yang serba kecukupan dan berlebihan, di saat yang sama ada entitas sosial lain yang hidup serba kekurangan. Dalam situasi itu kita perlu kepekaan untuk merespon dan peduli, apalagi saat institusi negara telah abai terhadap mereka yang menderita, mereka yang kesepian.

Derita dan Kematian dalam Sepi
Hidup dalam situasi sosial ekonomi yang terbatas, bukan karena tidak mau bekerja, tetapi karena pekerjaan tak bisa memberi kesejahteraan, bahkan seringkali diputus sepihak oleh mereka yang berkuasa. Tidak lagi berada dalam keramaian bisingnya mesin pabrik, dan hiruk pikuk para pekerja, dia telah menjadi sepi. Seperti tidak ada lagi harapan.

Hidup dalam situasi sosial ekonomi yang terbatas, bukan karena tidak mau bekerja, tetapi karena pekerjaan tak bisa memberi kesejahteraan, bahkan seringkali diputus sepihak oleh mereka yang berkuasa. Tidak lagi berada dalam keramaian bisingnya mesin pabrik, dan hiruk pikuk para pekerja, dia telah menjadi sepi. Seperti tidak ada lagi harapan.

Tak ada tempat sesama untuk bergantung. Baik kepada keluarga, atau saudara yang kondisinya ternyata juga tak jauh berbeda. Tidak ada jalan lain kecuali jalan sunyi, sepi dan air mata. Dalam situasi beban ekonomi yang berat dan hidup sosial yang sepi, seringkali menjadi faktor untuk memilih jalan pintas mengakhiri hidup atau bunuh diri.

Tak banyak di antara kita yang membuka ruang batin untuk melihat data dan fakta sosial tentang semakin banyaknya masyarakat yang memilih mengakhiri hidup secara tragis itu. Faktanya, data angka bunuh diri di Indonesia dalam tiga tahun terakhir ini jumlahnya melonjak, naik sangat drastis.

Pada 2021 ada 629 kasus bunuh diri, pada 2022 terdapat 902 kasus bunuh diri, dan pada 2023 ada 1.214 kasus bunuh diri (Puskinas Polri, 2023). Grafiknya naik. Mayoritas kasus bunuh diri dilakukan karena beban ekonomi yang berat.

Fakta Menyayat Hati
Mungkin Anda dan kita semua masih ingat dengan Kristianto Billy (27 tahun), pemuda Kasongan-Kalimantan Tengah, yang gantung diri di kamar rumahnya pada malam (2022), dua tahun setelah rame-rame UU Omnibus Law Ciptaker diprotes dan disahkan secara terburu-buru oleh DPR saat itu (2020). Kisahnya mengiris hati, sebab dia bunuh diri karena tidak terima dirinya terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau diberhentikan dari pekerjaannya secara sepihak. Padahal pagi harinya baru saja dia bercerita kepada pamannya tentang kondisi ekonominya yang berat karena telah di-PHK.

Sehari kemudian, di daerah dan tahun yang sama, kisah menyayat hati itu terjadi lagi, namanya Leno B Jinu (49 tahun) yang setiap pagi bekerja menjala ikan, ditemukan gantung diri di pinggir sungai. Ia bunuh diri di tengah kondisi ekonomi yang sulit, sembari merawat istrinya yang terkena kanker kista.

Tragedi bunuh diri juga terjadi lagi, kali ini satu keluarga di Malang, Jawa Timur, pada 2023. Dalam insiden itu seorang ayah tewas bersama istri dan satu anaknya yang berusia 13 tahun. Sebelum mengakhiri hidup, sang Ayah yang menghadapi masalah ekonomi dan banyak utang menulis pesan "Kakak jaga diri. Papa, mama, adik pergi dulu. Nurut uti, kung, tante, dan om. Belajar yang baik. Love you kakak," pesan sang Ayah yang bernama Wahab, kepada anak pertama yang masih hidup. Berderai air mata sang anak membacanya.

Tragedi kematian keluarga terjadi kembali. Empat anak usia dini di sebuah rumah kontrakan di Gang Roman, Kelurahan Jagakarsa, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Desember 2023, juga telah meninggalkan duka mendalam.

Bermula ketika sang Ayah (P) dan istrinya (D) tidak lagi bekerja, hingga mengalami problem ekonomi serius. Sejak itu sejumlah permasalahan muncul hingga berujung kematian 4 anak berusia 6 tahun, 4 tahun, 3 tahun, dan 1 tahun. Beban ekonomi yang berat dan problem keluarga membuatnya kehilangan rasionalitas, hingga mengakhiri hidup anak-anaknya yang masih balita.

Awal Januari 2024, MJ (31), warga Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, ditemukan gantung diri, tepat di tempat pencucian mobil, sekitar pukul 07.00 WIB. Anak muda itu diketahui baru sehari bekerja di bengkel cucian mobil (car wash) di Kota Jambi. Dia bunuh diri karena beban ekonomi yang juga berat, disusul masalah rumah tangganya.

Faktor Ekonomi dan Tiadanya Solidaritas Organik
Sosiolog Emile Durkheim (1858-1917), dalam bukunya berjudul Suicide (1897), mengemukakan, bahwa salah satu tipe bunuh diri adalah bunuh diri Anomik, yaitu suatu praktik bunuh diri akibat kegagalan pembangunan ekonomi dan pembagian kerja yang tak mampu menghasilkan solidaritas organik.

Kesenjangan sosial ekonomi yang tinggi antara kaya dan miskin, banyaknya kelompok ekonomi rentan dan runtuhnya norma-norma sosial yang mengatur perilaku, oleh Emile Durkheim (1897), keadaan itu disebut anomie. Dari keadaan anomie itulah muncul segala bentuk perilaku menyimpang, dan yang paling menonjol adalah tindakan bunuh diri.

Faktanya, di Indonesia, kesenjangan sosial ekonomi terus menganga, kelas menengah rentan (aspiring middle class), angkanya mencapai lebih dari 115 juta (World Bank, 2023). Secara sistemik bisa dilihat sebagai fakta persoalan serius pembangunan di Indonesia. Situasi rentan ini dampak sosialnya sampai ke ranah psikologi sosial yang berat di derita masyarakat. Ada penderitaan sosial ekonomi yang berat, yang menyebabkan seseorang mengakhiri hidupnya.

Episode Besar dan Air Mata Darah
Kisah tragis Kristianto Billy dan Leno B Jinu di Kalimantan, keluarga Wahab di Malang, Keluarga Panca di Jakarta Selatan, kisah MJ di Jambi, dan kisah derita lainya yang tak bisa diceritakan, adalah air mata dan nyawa rakyat jelata yang menjerit di tengah keramaian elite berebut kekuasaan, keramaian elite mengabaikan moralitas dan konstitusi.

Bahkan ada yang berpesta menumpuk kekayaan karena privilege sebagai keluarga penguasa. Ya.. air mata dan nyawa rakyat jelata masih sering diabaikan dalam hiruk pikuk politik. Rakyat jelata masih terus menjerit, berharap ada episode besar yang membawanya pada kemakmuran.

Dimanakah tuan episode besar itu? Apakah harus menunggu air mata dan darah kembali menetes?

*Analis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya