Berita

Ilustrasi/Net

Otomotif

Nilai Mobil Listrik di Inggris Menyusut Hingga 50 Persen dalam Tiga Tahun

SABTU, 20 JANUARI 2024 | 13:17 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Terjadi penurunan nilai mobil listrik di Inggris. Mengutip hasil riset Auto Trader pada Sabtu (20/1), hanya dalam waktu tiga tahun harganya bisa terdepresiasi hingga separuhnya.

Dikatakan harga mobil listrik yang dibeli di marketplace sebesar Rp 992 juta akan kehilangan nilai hampir 50 persen menjadi Rp 476 juta.

Padahal jika dibandingkan dengan nilai mobil berbahan bakar bensin di harga yang sama penyusutannya lebih kecil yakni Rp 337 juta.


Menurut laporan Auto Trader, nilai mobil listrik telah turun drastis dalam 12 bulan terakhir setelah krisis pasokan yang terjadi akibat Covid-19.

Kenaikan harga mobil listrik disebut juga berdampak pada permintaan mobil listrik bekas. Di mana tahun lalu menyusut sebesar 23 persen.

"Kenaikan harga listrik juga telah menekan permintaan mobil listrik bekas," bunyi laporan tersebut.

Auto Trader memperkirakan tekanan harga mobil listrik bekas bisa berlanjut tahun ini. Pasalnya, ribuan pengendara mengembalikan kendaraan yang diperoleh dengan sewa tiga tahun dan produsen memangkas harga kendaraan baru.

Pasokan mobil listrik bekas akan meningkat tahun ini, karena jumlah kendaraan baru yang terdaftar dari tahun 2020 hingga 2023 mencapai 800 ribu unit.

"Jika tidak diimbangi permintaan, mobil listrik dapat terdepresiasi lebih jauh lagi. Sehingga berpotensi melemahkan kepercayaan konsumen dan pengecer,” kata Auto Trader.

Di tahun 2022, pengendara menganggap mobil listrik terlalu mahal tanpa subsidi pemerintah.

Namun menurut Autotrader, permintaan mobil listrik bekas meningkat seiring turunnya harga. Kendaraan tersebut akan terbukti populer setelah harganya tidak lagi lebih mahal dibandingkan pesaingnya yang berbahan bakar bensin.

Mobil listrik bekas di situs Auto Trader cenderung terjual hingga lima hari lebih cepat dibandingkan mobil berbahan bakar bensin.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya