Berita

Sekjen DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, saat mengunjungi Bentara Budaya Jakarta, Senin (15/1)/RMOL

Politik

Sambangi Bentara Budaya, Hasto Ungkap Buku Ratu Adil Karya Romo Sindhunata Bisa Menginspirasi Perlawanan

SELASA, 16 JANUARI 2024 | 02:59 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyambangi Bentara Budaya Jakarta di Palmerah, Jakarta Selatan, Senin (15/1).

Dalam kesempatan tersebut, Hasto melihat sejumlah karya seni dan buku hasil disertasi Romo Sindhunata berjudul"Ratu Adil Ramalan Jayabaya & Sejarah Perlawanan Wong Cilik".

Politikus asal Yogyakarta itu mengaku sedang membaca buku tersebut, di mana isinya ternyata masih relevan dengan kondisi politik saat ini. Buku itu membahas tentang harapan wong cilik atau rakyat kecil yang ketika menghadapi berbagai bentuk penindasan.


"Yang oleh Bung Karno dimunculkan di dalam filsafat tentang Pak Marhaen. Maka Pancasila itu lahir sebagai ideologi pembebasan bagi wong cilik. Dan ini senapas dengan kontemplasi ideologis yang dilakukan oleh Megawati Soekarnoputri dan oleh seluruh jajaran PDI Perjuangan di mana pada Rakernas yang ketiga pada 6-8 Juni 2023 yang lalu mengambil tema fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara," kata Hasto kepada wartawan di lokasi.

Menurut Sekretaris TPN Ganjar-Mahfud ini, buku tersebut memberikan gambaran aspek antropologis, sosiologis, dan juga historis tentang perjuangan wong cilik dan petani di dalam menghadapi penindasan khususnya pada masa kolonialisme Belanda.

"Di mana muncul beberapa kali pemberontakan petani dan juga menyatu yang juga memunculkan suatu mitologi Ratu Adil. Suatu konsepsi yang membangun harapan. Maka dengan buku ini PDI Perjuangan juga mendapatkan suatu karya akademis dengan metodologi yang belajar dari bawah, dari kehidupan wong cilik itu sendiri diangkat menjadi suatu karya intelektual yang diharapkan juga mengilhami seluruh anak bangsa di dalam memperjuangkan wong cilik," kata Hasto.

Dosen Universitas Pertahanan RI ini menyampaikan negara sebesar China dengan penduduk 1,6 miliar mampu mengatasi kemiskinan ekstrem.

"Kita yang seharusnya punya ideologi pembebasan, punya falsafah Pancasila, punya gerakan di dalam membebaskan rakyat, kita juga harusnya mampu mewujudkan kemiskinan nol persen," jelas Hasto.

Sebab, lanjut Hasto, negara dengan penduduk jauh lebih besar dari bangsa Indonesia pun bisa. Hal itulah, lanjut Hasto, yang kemudian bisa diyakini menginspirasi Ganjar Pranowo ketika menjadi Gubernur Jawa Tengah fokus di dalam menuntaskan kemiskinan.

"Bahkan Pak Ganjar memberikan fundamen yang lebih baik di mana melalui pendidikan, melalui pendidikan vokasi, melalui satu keluarga miskin satu sarjana itu nanti akan memberikan suatu loncatan bagi wong cilik. Tidak hanya melalui bansos, melalui BLT, melalui KIS, KIP, KTP Sakti. Tegasnya buku ini sangat menarik sehingga menjadi bacaan wajib bagi seluruh kader-kader PDI Perjuangan di dalam menegaskan komitmennya terhadap wong cilik," katanya.

Hasto menambahkan di dalam buku ini juga digambarkan bahwa penindasan tidak akan pernah berhasil menekan wong cilik.

"Kekuatan yang seperkasa Orde Baru pun bisa rontok, meskipun muncul fenomena New Orde Baru itu kembali hadir. Karena dibalik intimidasi itu memunculkan harapan. Itu telah terbukti secara empiris dalam kajian-kajian ilmiah. Karena kita bangsa spiritual. Bangsa yang punya nilai moral, keagamaan, dan membangun harapan sehingga teman-teman yang terkena intimidasi justru kami yakini jadi energi juang," katanya.

Dari sisi politik, lanjut Hasto, hal itu yang membuat Ganjar-Mahfud bersama PDIP, PPP, Hanura, Perindo, serta unsur sukarelawan terus menyatu dalam akar rumput ini.

"Kekuatan akar rumput akan selalu menampilkan suatu harapan dan tradisi dalam menyikapi bentuk praktek-praktek politik kekuasaan yang tidak demokratis," kata Hasto.

Dalam kunjungan ke Bentara Budaya ini, Hasto didampingi politikus muda PDIP, yaitu Once Mekel dan Aryo Seno Bagaskoro.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya