Berita

Tiga perwakilan TAMPAR yang menyerahkan surat somasi ke Kedutaan Besar Jepang di Jakarta pada Senin, 15 Januari 2024/Net

Dunia

Pembuangan Limbah Nuklir Ancam Indonesia, PBHI dan Ekomarin Layangkan Somasi ke Kedubes Jepang

SENIN, 15 JANUARI 2024 | 16:31 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) dan Ekologi Maritim Indonesia (Ekomarin) yang tergabung dalam Tim Advokasi Masyarakat Perairan Anti-Racun (TAMPAR) mengajukan somasi kepada pemerintah Jepang atas rencana mereka melakukan pembuangan limbah nuklir gelombang keempat Februari mendatang.

Surat somasi itu diberikan melalui Kedutaan Besar Jepang di Jakarta pada Senin (15/1) oleh tiga perwakilan TAMPAR yakni Koordinator Nasional Ekomarin Martin Hadiwinata, Kuasa Hukum TAMPAR Annisa Azahra dan Ghina Sabrina dari PBHI.

Martin mengatakan, pembuangan limbah nuklir lanjutan tidak hanya membahayakan ekosistem laut, tetapi juga rakyat Indonesia. Sebab, hasil laut yang terkontaminasi banyak diimpor oleh restoran Jepang di Indonesia dan dikonsumsi oleh masyarakat di sini.


"Limbah nuklir mengancam rantai perikanan dan bisa sampai siklus pangan manusia. Karena ada beberapa zat radioaktif seperti tritium yang dinilai dapat memberikan dampak buruk dalam jangka panjang," ungkapnya.

Lebih lanjut, Martin mengatakan bahwa para ilmuwan masih memperdebatkan keamanan dari pembuangan limbah nuklir ke Pasifik.

Kemudian dia menyoroti dampak limbah nuklir terhadap biota laut Indonesia yakni Ikan Madidihang atau Ikan Tuna Sirip Kuning (yellow fin tuna) yang bermigrasi dari Samudera Pasifik.

"Karena dampak lingkungan yang akan terjadi ke perairan pasifik dan akan berdampak kepada biota laut khususnya ikan yang bermigrasi jauh seperti Ikan Madidihang atau Ikan Tuna Sirip Kuning," jelasnya.

Menurut Martin, Jepang telah melanggar Hukum Laut Dunia atau UNCLOS 1985. Sebab mereka menerapkan keputusan sepihak tanpa melakukan konsultasi kepada negara tetangga termasuk Indonesia.

"Jepang hanya mendasarkan pada clearance dari International Atomic Energy Agency atau Badan Tenaga Atom Internasional  (IAEA)," tuturnya.

Secara hukum nasional, kata Martin, Jepang jelas telah melanggar prinsip kehati-hatian yang tertuang dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Undang-Undang No. 32 Tahun 2014.

"Berdasarkan aturan, jika masih ada perdebatan dalam tindakan tersebut itu melanggar prinsip kehati-hatian. Jika tindakan tersebut masih dapat memberikan dampak buruk kepada lingkungan, seharusnya pemerintah menghentikannya," jelasnya.

Sementara itu, kuasa hukum TAMPAR, Annisa memaparkan empat poin tuntutan yang diajukan mereka dalam surat somasi.

Pertama, TAMPAR mendesak pemerintah Jepang untuk mengumumkan larangan pembuangan limbah dan menghentikan pembuangan limbah nuklir Fukushima ke laut.

Kedua, Jepang harus melakukan pemeriksaan secara mendalam terhadap dampak pembuangan limbah di perairan Jepang serta
hasil kekayaan laut yang bersumber dari perairan di Jepang di lokasi pembuangan.

Ketiga, melarang ekspor hasil laut yang bersumber dari perairan Jepang ke Indonesia.

Terakhir, TAMPAR meminta Jepang mengumumkan nama restoran-restoran Jepang di Indonesia yang terafiliasi langsung dengan produk langsung terkontaminasi.

Dikatakan Annisa, TAMPAR akan memberikan waktu bagi pemerintah Jepang selama tiga hari ke depan untuk memenuhi seluruh tuntutan dalam somasi.

Jika tidak, Annisa menyebut pihaknya akan melanjutkan tuntutan tersebut ke jalur hukum.

"Jika Jepang tidak memenuhi tuntutan dalam tiga hari ke depan, maka kami akan melayangkan ke pengadilan tinggi Jakarta Pusat," tegasnya.

Berdasarkan pantauan Kantor Berita Politik RMOL, ketiga orang tersebut datang ke gerbang depan Kedubes Jepang dan berencana masuk untuk menyerahkan surat somasi.

Namun, pihak keamanan menghentikan langkah mereka lantaran tidak membawa surat pengantar dan surat izin dari pihak kepolisian.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya