Berita

Dahlan Iskan bersama penulis buku (kiri) dan putri putra Rizal Ramli/Disway

Dahlan Iskan

Rizal Ramli

RABU, 10 JANUARI 2024 | 08:51 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SAYA melayat ke rumah Dr Rizal Ramli Minggu siang lalu. Telat sekali. Itu hari keenam setelah mantan Menko Ekuin itu meninggal dunia.

Saat Dr RR meninggal, saya masih di Tiongkok. Saya tidak percaya ketika Adrianto Andri, aktivis pro-demokrasi, mengirim WA ke saya.

"Bukan Rizal Ramli yang doktor kan?" balas saya sambil berharap ada nama Rizal Ramli lain yang meninggal.

Pertemuan terakhir saya dengan Dr RR di tempat umum. Yakni saat sama-sama menghadiri ulang tahun ke-76 Jenderal Luhut Pandjaitan.

Rasanya RR sehat sekali saat itu. Menyalami dan disalami. Saya tidak sempat ngobrol. Terlalu banyak orang. Saya pilih banyak motret tokoh muda: Kaesang Pangarep. Yang hadir bersama istri. Termasuk saat mereka berdua begitu sering saling bisik.

Tidak lama setelah acara itu ternyata RR masuk Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo. Keluhan awalnya hanya seperti sakit maag. Setelah diperiksa menyeluruh ternyata sakitnya serius: kanker.

Jenis kanker yang sulit diatasi: kanker pankreas.

Satu setengah bulan kemudian RR meninggal dunia. Usianya: 69 tahun.
"Ayo. Silakan ikut makan," ujar Dhitta Puti Saravati, anak sulung RR. "Itu masakan Padang semua," tambahnya.

Saya lihat masih banyak orang yang berkerumun di tempat prasmanan. Semua adalah keluarga dekat.

Tiga anak RR memang masih lengkap berkumpul di rumah duka. Termasuk anak bungsu yang tinggal di New York: Daisy Orlana Ramli. Dia datang ke Jakarta bersama suaminyi: orang kulit putih.

Suguhan hari itu serba Padang. Termasuk makanan kecilnya: ketan dengan tape ketan hitam.

Rizal Ramli memang orang Padang. Asam di gunung bertemu garam dari Surabaya. Istrinya, Herawati Moeljono, wanita Surabaya. Keduanya berjumpa di satu kuali, saat sama-sama kuliah di ITB.

RR ambil fakultas fisika. Hera di matematika –lantas pindah ke arsitektur.

RR tipe pacar yang setia. Saat meneruskan kuliah di Boston University, USA, sang pacar ditinggal di Bandung. Dua tahun kemudian RR pulang. Masih setia. Mereka menikah.

Kelak, ketika sudah punya dua anak, RR kembali ke Boston. Ia mengambil gelar doktor ekonomi.

Sang istri, Hera, menyusul ke sana –bersama Dhitta dan adiknyi, Dipo Satria Ramli. Enam tahun mereka tinggal di Boston. Hera tetap seorang arsitek. Dia sempat bekerja di kantor arsitek di Boston.

Saat Hera berumur 40-an tahun, hal yang tak terduga menimpanyi: kanker payudara. Keluar masuk rumah sakit. Dilakukanlah pemotongan. Sembuh. Keluarga pun tenang. Sampai lima tahun kemudian tidak ada tanda-tanda kankernya muncul lagi –salah satu pertanda berarti kankernyi sudah tidak akan kembali.

Dua tahun kemudian kanker itu ternyata kembali. Ke bagian lain: rahim. Tidak teratasi. Hera meninggal dunia di usia 50 tahun. Rumah yang saya datangi Minggu siang lalu adalah rancangan arsitek Hera. Desainnya minimalis. Ada kolam renang di halaman belakang.

RR menikah lagi dengan wanita Tionghoa: Liu Siaw Fung –Marijani. Tidak berlangsung lama. Liu meninggal dunia.

Di rumah duka itu tiap malam dilakukan doa. "Nanti malam ganti para kiai dari NU. Papa kan sangat dekat dengan NU," ujar Dhitta.

Tahlilan? "Terserah saja. Teman papa begitu banyak ragamnya," ujar Dhitta.

Malam sebelumnya adalah giliran alumni ITB. Sebelumnya lagi teman-temannya sesama aktivis pro-demokrasi. Tidak henti-hentinya.

Saat saya di rumah itu ada seorang penulis muda. Ia baru saja menulis buku tentang Rizal Ramli. Ia lulusan prodi sejarah Universitas Gadjah Mada. Spesialisasinya: biografi. Ia pengagum Rizal Ramli. Sejak tiga tahun lalu.

Namanya:Iryan Ali Herdiansyah. Judul bukunya: Pemimpin Amanah. Dengan subjudul: Seni Memimpin Rizal Ramli Membawa Angin Perubahan.

Saya diberi bukunya. Di jalan saya baca buku itu. Isinya bagus sekali menggambarkan cara berpikir dan bertindak Rizal Ramli. Sudah lebih 20 buku ia terbitkan.

"Menurut Anda, mengapa orang sehebat Pak Rizal Ramli tidak bisa jadi presiden?" tanya saya pada Iryan.

Ia terdiam agak lama.

"Mungkin karena Pak Rizal kalau bicara terlalu menyerang," jawabnya.

Anda pun sudah tahu: RR sangat ingin jadi presiden Indonesia. Ia akan memajukan ekonomi negara. Ia tahu caranya. Termasuk cara yang tidak biasa. Ia juga akan habisi korupsi. Termasuk kolusi.

Tapi ia tidak punya partai. Padahal untuk menjadi calon presiden harus diajukan oleh partai politik.

Di sinilah Rizal Ramli terus berkoar: Indonesia tidak akan pernah mendapat pemimpin yang baik. Partai politik telah memonopoli jalur kelahiran pemimpin bangsa. Apalagi ada batasan suara parlemen 20 persen.

Itulah kekecewaan tertinggi Rizal Ramli. Pun di akhir hidupnya. Bahkan sampai ia bawa mati. Padahal sejak mahasiswa ia sudah memperjuangkan kehidupan berbangsa yang lebih baik. Sampai ia dimasukkan ke penjara.

Sang istri, Hera, sangat mendukung perjuangan suami. Saat Rizal Ramli jadi menteri –di bawah kepresidenan Gus Dur– Hera mengganti nama belakangnyi. Dari semula Herawati Rizal Ramli. Menjadi Herawati Moeljono –mengambil nama bapaknyi.

Waktu itu Hera menjadi konsultan arsitektur. Hera tidak mau memanfaatkan posisi menteri sang suami.

RR begitu ingin jadi presiden. Ia pilih meninggal hampir bersamaan dengan penetapan capres untuk Pilpres 2024.

Populer

Ini Kronologi Perkelahian Anggota Brimob Vs TNI AL di Sorong

Minggu, 14 April 2024 | 21:59

Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Resmi Tersangka KPK

Selasa, 16 April 2024 | 07:08

Rusia Pakai Rudal Siluman Rahasia untuk Bombardir Infrastruktur Energi Ukraina

Jumat, 12 April 2024 | 16:58

Pemberontak Menang, Pasukan Junta Ngacir Keluar Perbatasan Myawaddy

Kamis, 11 April 2024 | 19:15

Megawati Peringatkan Bakal Terjadi Guncangan Politik Setelah Jokowi Jadi Malin Kundang

Kamis, 11 April 2024 | 18:23

Warisan Hakim MK sebagai Kado Idulfitri

Senin, 08 April 2024 | 13:42

Tim Kecil Dibentuk, Partai Negoro Bersiap Unjuk Gigi

Senin, 15 April 2024 | 18:59

UPDATE

Lebaran 2024, Bandara Dhoho Kediri Layani 1.155 Penumpang

Kamis, 18 April 2024 | 07:55

Hadapi Australia, Timnas U-23 Diperkuat Justin Hubner

Kamis, 18 April 2024 | 07:40

Pererat Kerjasama Bilateral, Wang Yi Mulai Tur Diplomatik di Indonesia

Kamis, 18 April 2024 | 07:30

Gasak Motor di 21 TKP, Sopir Truk dan Pedagang Kerupuk Didor Polisi

Kamis, 18 April 2024 | 06:26

Jakarta Terbuka untuk Pendatang Baru, PKS: Penghapusan NIK Tak Adil

Kamis, 18 April 2024 | 06:17

Pria Lansia Ditemukan Meninggal di Dalam Truk Permen

Kamis, 18 April 2024 | 06:06

BMKG Prediksi Jakarta Cerah Berawan hingga Hujan Ringan

Kamis, 18 April 2024 | 05:47

Megawati Bermanuver Menipu Rakyat soal Amicus Curiae

Kamis, 18 April 2024 | 05:35

Inggard Joshua Minta Pemprov DKI Penuhi Hak Cuti Pegawai Piket Lebaran

Kamis, 18 April 2024 | 05:14

Siswa Tak Miliki SIM Harus Dilarang Bawa Kendaraan ke Sekolah

Kamis, 18 April 2024 | 04:20

Selengkapnya