Berita

Anwar Hudijono/Ist

Publika

Amerika, Israel, Inggris dan Rumah Laba-laba

ANWAR HUDIJONO*
RABU, 13 DESEMBER 2023 | 12:38 WIB

AMERIKA veto atas resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengharuskan Israel dan Hamas gencatan senjata di Gaza. Inggris abstain. Sedang 13 negara lainnya termasuk tiga negara yang punya hak veto, China, Rusia dan Perancis, mendukung. Resolusi itu diprakarsai Uni Emirat Arab (UEA).

Dengan kegagalan resolusi itu, Israel semakin brutal mencabik-cabik, mencacah-cacah Gaza. Sampai-sampai PBB menggambarkan Palestina sebagai kiamat. Lebih 17 ribu rakyat Palestina gugur, ribuan cacat, ribuan luka-luka.

Bukan sekali ini saja Amerika membela Israel di forum itu. Setiap kali DK PBB menelorkan resolusi yang dianggap merugikan Israel, so pasti divetonya. Biasanya Inggris mendukung apa pun sikap Amerika. Baru kali ini abstain. Tumben.


Dan seperti biasa, dunia tidak bisa berbuat apa-apa atas sikap Amerika. Kalaulah ada yang protes, paling-paling nggrundel melulu.

Amerika, Inggris dan Israel, merupakan tiga entitas tak terpisahkan. Inggris memfasilitasi berdirinya negara Israel pada 1948, sebagai kompensasi atas sumbangan dana kelompok Zionisme dalam Perang Dunia 1 dan 2 melawan Jerman.

Setelah Amerika mengambil alih kepemimpinan Inggris atas dunia pasca Perang Dunia 2, giliran Amerika melindungi Israel, berkat lobi Zionis yang sangat kuat.

Bahkan lobi Zionis boleh dibilang yang menentukan merah-birunya Amerika. Sebenarnya, siapapun partai yang berkuasa di Amerika, penguasa belakang panggungnya adalah oligarki Zionisme.

Mengapa lobi Zionis begitu kuat? Jawabnya, sekalipun jumlah mereka sedikit, tapi mereka menguasai sekitar 70-80 persen ekonomi Amerika. Menguasai industri keuangan, industri militer, energi, teknologi, media.

Ketiga negara itu memiliki karakter yang sama. Yaitu karakter laba-laba. Mereka membangun rumah atau jaring yang menawarkan pengayoman, perlindungan terhadap dunia.

Sebelum Perang Dunia 2, Inggris yang menjadi Pax Britannica yang menawarkan pengayoman dunia. Setelah Perang Dunia digeser Amerika dengan Pax Americana. Ambisi Israel menjadi Pax Judaica.

Karakter mereka bisa dilihat dari benderanya. Ada garis-garis saling melintang yang mencerminkan jaring atau anyaman. Itulah jaring laba-laba.

Lebih dari itu, bukan saja rumah perlindungan yang ditawarkan Amerika itu sangat lemah, tetapi juga penuh horor dan teror.

Bagi laba-laba hitam, rumah yang dia bangun itu sebenarnya juga jebakan bagi korbannya. Siapapun yang terperangkap akan dimangsa. Bahkan laba-laba jantan yang mengawininya pun dimangsanya. Anak-anaknya pun dimangsanya. Sampai akhirnya ada anaknya sendiri yang memangsanya.

Untuk itulah, Bapak revolusi Iran, Ayatullah Khomeini, dawuh, Amerika tidak pernah membina pertemanan, tetapi menjadikan orang sebagai budaknya.

Sayang dunia tidak sadar bahwa berlindung di kekuasaan Amerika, sangat lemah.

Saat ini sebagian besar bangsa di dunia meminta perlindungan, pengayoman Amerika, baik dalam konteks bilateral maupun multilateral.

Hanya sedikit yang menolak, seperti Iran, Afghanistan, Yaman, dan Suriah. Kenapa? Mereka menganggap cukup Allah yang menjadi pelindung dan penolongnya.

Tidaklah pantas umat beriman menjadikan pelindung selain Allah. Rumah perlindungan yang ditawarkan Amerika ibarat sarang laba-laba.

"Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui." (QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 41)

Realitasnya, bangsa yang berlindung ke Amerika menjadi budaknya, harus mengadopsi peradabannya, manut apa dawuh Amerika, sehingga kehilangan jati diri sebagai bangsa.

Allahu a'lam bishawab

*Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal, di Sidoarjo

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

IKA BEM Nusantara Ajak Elemen Bangsa Dukung Program Ketahanan Pangan

Senin, 03 Agustus 2026 | 01:56

Bergerak Bersama Menuju Sila Kelima Pancasila

Senin, 03 Agustus 2026 | 01:30

TNI Tembus Medan Terjal Salurkan 2 Ton Logistik di Kabupaten Puncak

Senin, 03 Agustus 2026 | 01:09

Buka Turnamen Tenis Beregu

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:42

531 Atlet Taekwondo Terbaik Asia Siap Bertarung Demi Kehormatan Negara

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:24

Prabowo Harus Rombak Kabinet Buntut Tingkat Kepuasan Publik Melorot

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:04

Zanzabella Singgung "Si Ono" dan Rekaman CCTV: Pertengkaran Pasti Ada Sebabnya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 23:35

Pelaporan ESG Tahun 2026 Indonesia

Minggu, 02 Agustus 2026 | 23:05

Ustaz Novel: LGBT Bahaya Laten dengan Daya Rusak Luar Biasa

Minggu, 02 Agustus 2026 | 22:39

Tragedi KM Mutiara Sentosa 2: Keluarga Cemas Banyak Penumpang Tak Masuk Manifes

Minggu, 02 Agustus 2026 | 21:53

Selengkapnya