Berita

Tungku Sigit/Ist

Dahlan Iskan

Tungku Sigit

SELASA, 21 NOVEMBER 2023 | 06:05 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

TEKNOLOGI pengolah sampah terbaik saat ini, Anda sudah tahu: ciptaan Prof Dr Akhmad Zainal Abidin. Ia guru besar ITB. Teknologi itu sudah sukses diterapkan di Dumai. Baru di satu lokasi itu.

Prof Zainal tergolong anti sampah jadi listrik. Itu, katanya, dobel subsidi. Sampahnya disubsidi. Harga jual listriknya juga di subsidi: PLN harus beli listriknya lebih mahal.

Kini muncul teknologi sederhana ciptaan seorang tamatan madrasah aliyah. Sudah berhasil diterapkan di Desa Taji, Karas, Magetan. Baru di satu desa itu. Tapi yang datang belajar ke sana sudah dari mana-mana. Pun dari Bontang, nun di Kalimantan Timur.

Penciptanya: Sigit Supriyadi.

Umur: 52 tahun.

Pekerjaan: petani (kini jadi kepala desa).

Pendidikan: diberhentikan dari SMA sampai sembilan kali. Akhirnya Sigit lulus Madrasah Aliyah Negeri Jombang: hanya karena ingin punya ijazah.

Sigit sama sekali tidak ingin bergerak di bidang sampah. Ia hanya dikenal sebagai orang yang banyak akal di desanya.

Tahun lalu Sigit menerima curhat dari kiai pondok Temboro: bagaimana bisa mengatasi sampah pondok besar itu. Soalnya sampah pondok tidak bisa diterima di tempat sampah desa: terlalu banyak. Rumah Sigit hanya sekitar 500 meter di sebelah barat pondok.

Anda sudah tahu: Temboro adalah "pusat" jemaah tablig di Indonesia. Puluhan ribu orang datang ke sana. Lokasinya tidak sampai 10 km dari pangkalan udara Iswahyudi, Maospati -- ke arah barat laut.

Sigit bukan anggota jemaah tablig. Tapi ia sering ke pondok itu. Sesekali salat Jumat di masjid Temboro. Masjid barunya seperti hanggar pesawat --saking besar dan simpelnya.

Awalnya Sigit hanya membakar sampah pondok itu di lahannya. Beberapa minggu kemudian ia undang penduduk untuk mengambil sampah yang bisa dijual. Sisanya yang dibakar. Penduduk kapok: jijik. Hasilnya pun tidak memadai.

Sigit lantas menggaji mereka. Pondok hanya memberi uang Rp 35.000/truk yang datang. Tidak cukup untuk gaji 15 orang.

Akhirnya Sigit menciptakan mesin pemilah sampah. Juga mesin pencacah sampah. Bikinan sendiri. Itu tidak menarik perhatian. Belum.

Yang menarik adalah: temuannya di bidang cara bakar sampah. Ia menyebutnya sebagai teknologi oksidator. Membakar sampah dengan sampah.

Untuk itu Sigit menciptakan tungku. Belum pernah ada tungku seperti ciptaan Sigit. Ukurannya kecil: 2,4 m x 2,4 m dengan tinggi 3,6 m.

Lapisan luar tungku itu terbuat dari plat baja. Bagian dalamnya bata. Dua lapis. Satu lapis disusun miring, satu lapis lagi disusun telentang.

Di bagian depan tungku diberi lubang segi sempat. Sekitar 40 x 50 cm. Lubang itu untuk memasukkan sampah yang sudah dicacah.

Tungku Sigit ini dua bidang. Atas bawah. Yang bawah tingginya sekitar 50 cm. Yang atas 3,1 meter. Penyekatnya juga dari baja. Baja penyekat ini diberi lubang-lubang. Untuk isap oksigen sekalian menjatuhkan abu dan residu lainnya.

Ruang bakarnya di atas penyekat itu. Sampah masuk di tungku bagian atas itu. Di situ, di bagian agak bawah, dibuatkan semacam knalpot. Nyaris tidak ada asap yang keluar dari knalpot.

"Asapnya telah kami bakar lagi di bagian atas tungku," ujar Sigit. "Asap yang masih keluar dari knalpot lebih sedikit dari asap orang merokok," tambahnya.

Fungsi bata dua lapis adalah: penghasil panas. Bata itu, setelah dipanaskan, jadi bata yang membara. Panasnya bisa sampai 1.300 derajat.

Panas yang dihasilkan bata yang membara itulah yang membakar sampah.

Untuk kali pertama tentu harus pakai bahan bakar. Kayu. Tidak lama.

"Cukup 15 menit," katanya.

Lalu sampah sudah bisa dimasukkan. Terbakar. Membuat bata lebih panas lagi. Sampah pun terus dimasukkan. Terbakar lebih cepat lagi. Begitu terus sampai bata sangat panas. Memerah. Membara. Seperti menyala.

Kata '15 menit' itu juga kira-kira. Tidak ada penanda digital atau alat pengukur. Tidak harus beli alat penanda. Dari mana bisa tahu sampah sudah bisa dimasukkan? Dari mana tahu batanya sudah panas atau belum?

"Bisa pakai cara alamiah," katanya.

Setelah kayu membakar tungku sekitar 15 menit pasanglah telinga baik-baik. Kalau sudah ada suara letusan kecil "bleduk, bledug" berarti pembakaran dengan kayu bisa diakhiri. Dinding bata sudah panas.

"Sampah mulai bisa dimasukkan," katanya. Suara tadi itu menandakan pecahnya molekul-molekul air.

"Jadi, untuk lapisan-dalam tungku Anda tidak pakai batu tahan api?"tanya saya. Saya ingat semua konstruksi kiln dilapisi batu tahan api.

"Saya tidak mau menggunakan batu tahan api," kata Sigit.

"Kenapa?"

"Batu tahan api itu justru menyerap panas," jawab Sigit. "Saya pakai bata karena ingin bata itu memancarkan panas untuk membakar sampah," tambahnya.

Rupanya Sigit menggunakan prinsip bakar bata di desa-desa. Lalu disempurnakan. Saya mudah memahami prinsip kerja tungku Sigit itu karena saat remaja sering ikut bakar bata.

Rupanya itulah yang membuat Sigit sering dikeluarkan dari SMA. Sampai pindah SMA sembilan kali. Ia terlalu sering mengoreksi gurunya. Terutama guru matematika dan fisika. Lalu Sigit dianggap anak nakal.

"Saya juga pernah dikeluarkan dari SMA Panca Bhakti Magetan," katanya. Rupanya Sigit tahu SMA tersebut berada di bawah Pesantren Sabilil Muttaqin Magetan -- di lingkungan keluarga besar kami. Saya pun malu tersipu.

"Apakah Anda juga sering mengoreksi guru agama?" tanya saya.

"Tidak," jawabnya. Ternyata hanya di pelajaran agama yang Sigit tidak pernah koreksi. "Ayah saya kiai," katanya.

Dengan prinsip tungku seperti itu maka sampah yang tidak bisa didaur ulang tuntas terbakar di situ. Nyaris tanpa biaya operasional. Investasinya pun sangat murah. Biaya membangun tungku itu hanya sekitar Rp 250 juta. Sebelum di-mark-up. Kalau pun satu kelurahan perlu dua tungku itu baru Rp500 juta.

Bagaimana dengan sampah basah? Bekas pampers atau kain pel?

"Justru bagus," kata Sigit. "Kadar air di sampah itu menambah besarnya api. Molekul-molekul air yang pecah meningkatkan nyala api," katanya.

Sigit mengambil contoh kebakaran. Bila disiram dengan air yang kurang, justru membuat api lebih besar. Kecuali airnya bercampur busa yang banyak.

Rasanya Sigit berhasil menemukan cara mengatasi sampah Indonesia. Tidak perlu lokasi besar.

Mungkin Sigit akan dibenci orang banyak. Caranya menyelesaikan sampah itu merugikan para pemain proyek besar di bidang sampah.

Populer

Rocky Gerung Ucapkan Terima Kasih kepada Jokowi

Minggu, 19 Mei 2024 | 03:46

Pengamat: Jangan Semua Putusan MK Dikaitkan Unsur Politis

Senin, 20 Mei 2024 | 22:19

Dulu Berjaya Kini Terancam Bangkrut, Saham Taxi Hanya Rp2 Perak

Sabtu, 18 Mei 2024 | 08:05

Produksi Film Porno, Siskaeee Cs Segera Disidang

Rabu, 22 Mei 2024 | 13:49

Topeng Mega-Hasto, Rakus dan Berbohong

Kamis, 23 Mei 2024 | 18:03

IAW Desak KPK Periksa Gubernur Jakarta, Sumbar, Banten, dan Jateng

Senin, 20 Mei 2024 | 15:17

Pj Gubernur Jabar Optimistis Polisi Mampu Usut Kasus Pembunuhan Vina Cirebon

Kamis, 23 Mei 2024 | 06:48

UPDATE

Penumpang Whoosh Meroket 30 Persen Selama Libur Waisak

Senin, 27 Mei 2024 | 12:06

Mega Diminta Kembali Pimpin PDIP Tak Berarti Kaderisasi Mandek

Senin, 27 Mei 2024 | 11:54

KPK Lambat, Dugaan Gratifikasi Pj Bupati KBB Dilaporkan ke Presiden

Senin, 27 Mei 2024 | 11:41

Qatar Airways Alami Turbulensi Hebat, 12 Penumpang Terluka

Senin, 27 Mei 2024 | 11:33

Tolak RUU Penyiaran, Jurnalis dan Elemen Demokrasi Gelar Demo

Senin, 27 Mei 2024 | 11:24

Sentil Puan di Rakernas, Megawati Tegaskan Arah Gerak Partai

Senin, 27 Mei 2024 | 11:16

Balas Hujan Roket Hamas, Israel Bunuh 35 Orang di Rafah

Senin, 27 Mei 2024 | 11:12

Fahira Berharap Israel Segera Angkat Kaki dari Palestina

Senin, 27 Mei 2024 | 11:11

Mantan Kakorlantas Djoko Susilo Ajukan PK Kedua

Senin, 27 Mei 2024 | 11:04

Bantah Mangkir, Mertua Menpora Mengira Kena Prank Dipanggil KPK

Senin, 27 Mei 2024 | 10:52

Selengkapnya