Berita

PDI Perjuangan/Ist

Publika

Menteri PDIP Mundur, Prabowo-Gibran Rapuh

OLEH: TONY ROSYID*
SENIN, 30 OKTOBER 2023 | 00:05 WIB

PUBLIK masih bertanya-tanya: kenapa banteng nggak kelihatan tanduknya? Kenapa banteng nggak terlihat garang lagi? Jelas-jelas Jokowi dan Gibran, dua kader PDIP ini ambil posisi sebagai lawan.

Karena PDIP diam, akhirnya banyak yang berpikir bahwa Megawati main mata dengan Jokowi? Main dua kaki maksudnya?

Tapi, tentu itu tidak masuk akal. Megawati tidak punya karakter main dua kaki. Mega dikenal tegas dan lugas. A-B-C-nya jelas. Karakter inilah yang membuat PDIP dua pemilu berjaya. Ditambah Pemilu 2024 nanti.


Lihat survei, PDIP selalu di atas dan konsisten elektabilitasnya. Jadi tiga kali pemilu, PDIP menjadi pemenang. Ini karena kepiawaian, ketegasan dan kedisiplinan yang menjadi karakter ketua umum PDIP yaitu Megawati.

Di kasus Gibran jadi cawapres Prabowo, kenapa PDIP terkesan diam? Tidak! Beberapa anak buah Megawati sudah mulai bicara di media. Isu yang diangkat adalah proposal Jokowi tiga periode. Atas proposal ini, Mega menolak.

Isu penolakan Megawati atas proposal tiga periode bisa mengangkat nama Megawati dan juga PDIP. Ini salah satu bentuk idealisme dan ketegasan Megawati yang ingin disampaikan ke publik. Tentu, ini tidak berarti menjadi satu-satunya faktor kenapa Jokowi membangkang dan memilih jalur untuk melawan Megawati.

Jokowi seorang politisi ulung. Piawai dalam membaca peta dan dinamika politik. Terlalu cerdas untuk ukuran rata-rata politisi Indonesia. Jokowi tahu kapan harus diam, kapan harus melawan. Pendaftaran pilpres adalah saat yang tepat bagi Jokowi untuk melawan Megawati.

Sebagai politisi dan kader PDIP, Jokowi sukses menjadi presiden dua periode. Tapi, Jokowi gagal untuk mengambil alih dan memimpin PDIP. Celah itu tertutup. Maka, gagasan tiga periode dapat dipahami sebagai upaya memperpanjang kesempatan untuk menunggu jadwal suksesi di PDIP.

Bagaimanapun, Megawati sudah teramat sepuh. Ada waktunya untuk menyerahkan posisi ketua umum PDIP ke kader berikutnya. Ini proses regenerasi yang harus dijalani. Puan Maharani yang nampaknya disiapkan. Tapi, Puan tidak sekuat ibunya, Megawati.

Jika Puan yang memimpin PDIP, akan relatif mudah bagi seorang presiden yang berkuasa tiga periode mengkonsolidasikan kekuatan untuk ambil PDIP.

Dari sini, tiga kali berkuasa menjadi sangat penting  Apa yang tidak bisa dilakukan penguasa tiga periode terhdap partai. Termasuk PDIP.

Setelah tiga periode, lebih mudah untuk memperpanjang menjadi empat atau lima periode. Dan seterusnya. Seperti membalik telapak tangan saja.

Tapi, Jokowi gagal tiga periode. Gagal pula membidik posisi ketua umum PDIP. Harus ada alternatif. Jokowi ambil kekuatan di luar PDIP. Gerindra jadi alternatif? Bisa jadi. Tapi, jika PSI di Pemilu 2024 sukses masuk DPR, Jokowi juga bisa berlayar menggunakan partai yang pernah dinahkodai Giring ini.

Rencana Jokowi melalui berbagai manuver, diantaranya melawan Megawati dan PDIP dengan mudah dibaca oleh publik. Rute dan arahnya jelas: eksistensi politik masa depan. Baik untuk Jokowi, maupun keluarganya. Inilah yang publik bilang sebagai politik dinasti.

Lalu, bagaimana dengan respons PDIP? Bagaimana pula langkah PDIP menghentikan rencana Jokowi ini? Kenapa harus dihentikan? Ini pertanyaan terpentingnya.

Jika Jokowi melenggang, PDIP akan terancam. Apakah akan diambil posisi ketumnya? Karena Jokowi masih memiliki potensi untuk mengkonsolidasikan kader-kader PDIP di tingkat bawah. Atau Jokowi akan menggiring konstituen PDIP ke PSI atau Gerindra. Sampai di sini, analisis manjadi menarik.

Langkah efektif bagi PDIP untuk menghentikan Jokowi adalah tarik semua menteri. Ini akan menjadi pesan ke publik bahwa Jokowi tidak loyal ke PDIP. Jokowi akan dianggap oleh publik tidak pandai berterima kasih kepada PDIP. Dan persepsi politik dinasti akan semakin menguat. Jika isu ini yang terangkat, maka perlawanan rakyat kepada Jokowi akan semakin menguat. Efeknya, Prabowo-Gibran akan semakin sulit untuk menang.

Apakah PDIP berani kehilangan posisi di pemerintahan saat ini?

*Penulis adalah pengamat politik dan pemerhati bangsa

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya