Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Pemerintah Armenia Minta Dewan Keamanan Kerahkan Misi PBB ke Nagorno-Karabakh

JUMAT, 22 SEPTEMBER 2023 | 09:46 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pemerintah Armenia mengajukan permohonan kepada Dewan Keamanan PBB untuk mengerahkan misi PBB ke wilayah Nagorno-Karabakh yang disengketakan.

Hal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Armenia Ararat Mirzoyan pada Kamis (21/9), setelah pasukan Azerbaijan melancarkan serangan yang disebutnya operasi anti-teroris.

Dalam pernyataannya, Mirzoyan menyerukan dunia untuk tidak lagi berbicara tentang dua sisi dan mengatakan tidak ada lagi konflik melainkan bahaya kekejaman yang nyata.


“Intensitas dan kekejaman serangan tersebut memperjelas bahwa tujuannya adalah untuk menyelesaikan pembersihan etnis penduduk Armenia,” katanya.

Menurut data dari separatis etnis Armenia, serangan yang diluncurkan pekan ini telah menewaskan sedikitnya 200 orang dan melukai 400 orang lainnya. Untuk itu, pemerintah Armenia menyerukan PBB untuk menilai situasi itu secara langsung.

“Anggota Dewan diharap dapat segera mengerahkan misi antarlembaga PBB ke Nagorno-Karabakh untuk memantau dan menilai situasi kemanusiaan dan keamanan,” ujarnya.

Menanggapi seruan tersebut, Menteri Luar Negeri Azerbaijan Jeyhun Bayramov menuduh Armenia melakukan disinformasi.

“Upaya Armenia untuk mengeksploitasi Dewan Keamanan PBB dalam kampanyenya untuk menyesatkan komunitas internasional sangat disayangkan,” katanya, seperti dimuat The National News, Jumat (22/9).

Menurutnya, pihak Armenia telah lama memicu separatisme di wilayah Nagorno-Karabakh, termasuk dengan memberi dukungan militer kepada para pemberontak.

Oleh karena itu pihak Azerbaijan menuduh Dewan Keamanan dan negara-negara lain yang berpihak pada Armenia telah bersikap bias.

Seperti diketahui, sejak runtuhnya Uni Soviet, Armenia dan Azerbaijan telah lama terlibat perselisihan mengenai Nagorno-Karabakh.

Meskipun diakui secara internasional sebagai bagian dari Azerbaijan, namun wilayah itu memiliki mayoritas etnis Armenia di dalamnya yang menolak bergabung bersama Azerbaijan, yang membuat wilayah itu terus disengketakan.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Pabrik Bioetanol Bakal Diperbanyak, Pemerintah Siapkan Revisi Perpres 40

Selasa, 08 September 2026 | 18:19

BUK Migas Harus Lebih Gesit Kejar Investasi dan Lifting

Selasa, 08 September 2026 | 17:57

Menimbang Ulang Bencana

Selasa, 08 September 2026 | 17:41

Pemerintah Harus Antisipasi Kekeringan dan Gagal Panen akibat El Nino

Selasa, 08 September 2026 | 17:34

Purbaya soal Utang Whoosh Dicicil 80 Tahun: Kita Udah Mati, Santai Aja!

Selasa, 08 September 2026 | 17:23

KPK Panggil Anggota DPRD Hingga Pengurus Golkar Jateng di Kasus Bupati Pemalang

Selasa, 08 September 2026 | 17:14

Masa Jabatan Kapolri: Open Legal Policy atau Celah Subjektivitas?

Selasa, 08 September 2026 | 16:47

Rusia dan Korea Utara Buka Jembatan Darat Pertama di Perbatasan

Selasa, 08 September 2026 | 16:40

RUU Pemilu Jangan Keluar dari Filosofi Dasar Demokrasi

Selasa, 08 September 2026 | 16:34

Purbaya Curhat Suka Duka jadi Menkeu, Berat Badan Sempat Turun 14 Kg

Selasa, 08 September 2026 | 16:31

Selengkapnya