Berita

Sukarno dan Muhammad Hatta/Net

Politik

Mengenang Kembali Peristiwa Penculikan Rengasdengklok Jelang Kemerdekaan RI

RABU, 16 AGUSTUS 2023 | 20:09 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 merupakan bagian penting dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia.

Perbedaan pandangan tentang waktu kemerdekaan antara pemimpin tua dan kelompok pemuda saat itu, berujung pada penculikan dua tokoh penting Indonesia, Sukarno dan Muhammad Hatta.

Pada 15 Agustus, kabar soal menyerahnya Jepang sudah tersebar di antara kelompok pemuda Indonesia. Mereka menilai saat itu adalah waktu yang tepat untuk memproklamasikan kemerdekaan.


Tetapi, para orang tua, seperti Sukarno dan Hatta masih enggan bergerak secara terburu-buru sebelum mendapat keputusan resmi dari Jepang.

Salah seorang aktivis pemuda, Soebadio menemui Hatta di rumahnya sore itu. Dia mendesak agar proklamasi segera dibacakan.

Hatta yang sedang mempesiapkan teks proklamasi untuk rapat PPKI menjadi jengkel karena diragukan dalam mengambil keputusan.

"Tindakan yang akan engkau adakan itu bukanlah revolusi, tetapi putsch, seperti yang dilakukan dahulu di Muenchen tahun 1923 oleh Hitler, tetapi gagal,” tegas Hatta sebagaimana yang ia tulis dalam memoar Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi (2010: 78).

Malam harinya, Soebadio bersama pemuda lainnya yakni Wikana, Suroto Kunto, dan D.N. Aidit mendatangi Sukarno di Pegangsaan Timur.

Hatta ikut datang dalam pertemuan tersebut. Pemuda mendesak Sukarno mengobarkan revolusi malam itu juga, mereka juga mengklaim bahwa massa dari PETA dan Heiho telah siap bergerak.

Sukarno memiliki sikap yang sama dengan Hatta. Dia menolak usulan pemuda karena dinilai sebagai keputusan yang tidak bulan dan hanya dari golongan tertentu.

"Tapi kalian tidak kompak. Tidak ada kesatuan di antara kalian. Ada golongan kiri, ada golongan Sjahrir, golongan intelektual, yang semua mengambil keputusan sendiri-sendiri," cecar Sukarno, sebagaimana disebut Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2014: 250).

Sepulang dari rumah Sukarno, kelompok pemuda mengadakan pertemuan di Asrama Cikini 71. Saat itu mereka menerima sebuah telegram yang menyatakan bahwa Kaisar Hirohito telah menyerah kepada sekutu.

Para pemuda yakin bahwa pesan tersebut mungkin belum sampai pada Sukarno, Hatta, atau anggota PPKI lainnya. Oleh karenanya, disusunlah sebuah rencana untuk mengamankan Sukarno dan Hatta dari pengaruh Jepang.

Para pemuda meminta Sukarno dan Hatta bersembunyi di luar kota. Dalam memoarnya (hlm. 80), Hatta mengaku diminta pindah karena pemuda bernama Sukarni mengatakan padanya bahwa 15.000 massa akan menyerbu Jakarta untuk melucuti Jepang.

Akhirnya pada pagi hari tanggal 16 Agustus 1945, tepat 78 tahun yang lalu, Sukarno dan Hatta akhirnya dibawa ke Rengasdengklok.

Menurut Benedict Anderson dalam tulisannya berjudul "Revoloesi Pemoeda" (2018: 81), drama penculikan itu merupakan buah dari perbedaan pandangan yang sengit antara pemuda dan orang tua.

Tidak jelas siapa yang memulai, tetapi para eksekutor dalam penculikan dua tokoh terkemuka itu di antaranya ialah Chaerul Saleh, Sukarni, Wikana, dr. Muwardi, Jusuf Kunto, Singgih, dan dr. Sutjipto.

Ahmad Subardjo, salah seorang anggota PPKI, yakin menghilangnya Sukarno-Hatta ada hubungannya dengan pertengkaran mereka dengan kelompok pemuda malam sebelumnya.

Karena itu ia lantas mencari Wikana untuk mencari tahu. Hari itu pula Subardjo mendapat konfirmasi atas desas-desus mengenai menyerahnya Jepang dari Laksamana Maeda Tadashi.

Subardjo datang ke Rengasdengklok sore harinya dan memberitahukan kepada Sukarno dan Hatta bahwa Jakarta aman-aman saja dan Jepang memang benar sudah menyerah.

Menurut Adam Malik dalam tulisannya berjudul Riwayat Proklamasi 17 Agustus 1945 (1982: 57, saat itu merupakan titik balik melunaknya Sukarno dan Hatta.

Mereka kembali ke Jakarta malam harinya, melakukan persiapan di rumah Laksamana Maeda dan akhirnya proklamasi dikumandangkan pada 17 Agutus 1945.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya