Berita

Ossetia Selatan. Tskhinvali. Penarikan pasukan Rusia dari wilayah Ossetia Selatan. 25 Agustus 2008/Net

Dunia

PM Georgia Tuding Mantan Presiden Saakashvili sebagai Penyebab Perang Ossetia Selatan 2008

SELASA, 08 AGUSTUS 2023 | 21:25 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Perang di Ossetia Selatan tidak akan pecah dan memburuk jika ada tindakan segera untuk mengantisipasinya.

Perdana Menteri Georgia Irakli Garibashvili dalam pidatonya pada peringatan "15 Tahun Perang Ossetia Selatan" menyalahkan pemerintahan saat itu yang dibawah kepemimpinan Presiden Mikhail Saakashvili.

"Masalah ini, tragedi, perang terjadi di bawah pemerintahan sebelumnya. Otoritas sebelumnya tidak melakukan apa pun untuk negara kita untuk menghindari perang," kata Garibashvili kepada wartawan setelah mengunjungi Pemakaman Mukhatgverdi di ibu kota Georgia, Tbilisi, tempat pemakaman prajurit militer yang tewas dalam perang 2008.


Perang yang terjadi pada Agustus itu menurutnya juga karena perilaku pemerintahan saat itu yang tidak patut dan memalukan.

"Sementara pahlawan militer kita menunjukkan keberanian dan ketidakegoisan yang besar kepada rakyat kita dan generasi berikutnya, kita justru melihat mantan panglima tertinggi (Saakashvili) berperilaku tercela. Anda harus ingat dia mengunyah dasinya, melarikan diri dari sebuah pesawat dan jatuh ke tanah," katanya.

Ketika ditanya yang bisa mendukung argumennya bahwa pemerintah sebelumnya harus disalahkan karena gagal menghindari konflik, Garibashvili mengatakan dia bisa mengatakan pendapatnya itu berdasarkan informasi tentang masalah tersebut, tetapi tidak dapat membahasnya secara detail demi kerahasiaan dan citra negara.

Georgia menandai peringatan 15 tahun dimulainya kegiatan militer di Ossetia Selatan pada Selasa (8/8). Bendera nasional berkibar setengah tiang di atas gedung-gedung pemerintah.

Konflik bersenjata antara Georgia dan Ossetia Selatan pecah pada Agustus 2008 setelah pasukan Georgia mencoba merebut secara paksa ibu kota Ossetia Selatan, Tskhinval, seperti dikutip dari TASS.

Pada 8 Agustus, Moskow mengirim pasukan untuk melindungi warga negara Rusia dan kontingen penjaga perdamaian Rusia yang ditempatkan di wilayah tersebut, memaksa tentara Georgia mundur.

Pada 26 Agustus 2008, Rusia mengakui kemerdekaan Ossetia Selatan dan Abkhazia, bekas daerah otonomi Georgia lainnya.

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya