Berita

Ketua Umum DPP GMNI Arjuna Putra Aldino/Ist

Politik

Kritik Pembelian Pesawat Bekas Kemhan, GMNI Desak BPK Lakukan Audit

SENIN, 24 JULI 2023 | 04:49 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Pembelian 12 jet tempur Mirage 2000-5 bekas dari Qatar senilai hampir 800 juta dolar AS atau setara dengan Rp 12 triliun oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto terus menuai polemik. Pro dan kontra terkait kebijakan ini terus mengemuka.

Ketua Umum DPP GMNI Arjuna Putra Aldino menilai, pembelian 12 jet tempur Mirage 2000-5 bekas dari Qatar terkesan dipaksakan. Kata Arjuna, alasan Kemenhan membeli pesawat bekas ini sebagai upaya antisipasi terganggunya distribusi dan rantai pasok persenjataan global, tidak masuk akal.

Arjuna menilai pembelian pesawat bekas justru menjadi penyebab industri pertahanan nasional hingga kini sulit masuk dalam rantai pasok global. Sebab, pembelian pesawat bekas adalah model kebijakan yang lebih berorientasi pada proyek jangka pendek daripada kemitraan dan investasi jangka panjang.


“Ini kebijakan terkesan dipaksakan. Tanpa pertimbangan yang matang dan cenderung gegabah," ujar Arjuna

Menurut Arjuna, Pemerintah seharusnya lebih memilih kebijakan kemitraan dan investasi jangka panjang daripada gemar membeli barang bekas sesuai amanat UU No 16/2012 tentang Industri Pertahanan.

Dalam Pasal 43 Ayat (5) ditegaskan bahwa, pengadaan alat peralatan hankam dari luar negeri harus memenuhi syarat antara lain, adanya partisipasi industri pertahanan dalam negeri dan kewajiban alih teknologi.

“Jika kita sudah tahu ada ancaman geopolitik yang bisa ganggu rantai pasok senjata global seharusnya langkah yang diambil adalah kemitraan dan investasi untuk mendapatkan transfer teknologi agar industri pertahanan kita mandiri. Bukan beli barang bekas," tutur Arjuna

Pembelian 12 jet tempur bekas dari Qatar membuat pemerintah Indonesia mustahil melakukan transfer teknologi. Menurut Arjuna, Indonesia membeli 12 jet tempur Mirage 2000-5 bekas dari Qatar yang notabene bukan negara produsen namun hanya pemakai.

Di sisi lain, dalam proses transfer teknologi harus seizin negara produsen. Karena hanya negara/perusahaan produsen yang dapat memastikan keamanan dan keandalan alutsista tersebut sekaligus memperbaiki dan meningkatkan kapasitas teknologinya.

“Risiko lebih besar akan dihadapi saat alutsista bekas dibeli bukan dari produsennya. Tanpa pemeriksaan menyeluruh negara produsen, ini berisiko bagi keamanan personel TNI AU dan masyarakat," tambah Arjuna

Maka menurut Arjuna, pembelian 12 jet tempur Mirage 2000-5 bekas dari Qatar ini justru melemahkan sistem pertahanan nasional Indonesia. Alasannya,  pesawat ini termasuk pesawat generasi keempat yang butuh perbaikan dan peningkatan kapasitas dari negara produsen. Sedangkan pemerintah membelinya bukan dari negara produsen.

“Ini akan merumitkan dan memperlemah sistem pertahanan kita. TNI dan masyarakat Indonesia yang dirugikan. Kebijakan ini terkesan hanya berorientasi pada proyek bukan investasi jangka panjang untuk sistem pertahanan nasional kita”, ujar Arjuna

Untuk itu, Arjuna meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK RI) untuk melakukan audit atas pembelian 12 jet tempur Mirage 2000-5 bekas dari Qatar ini karena banyak kejanggalan dan berpotensi merugikan keuangan negara.

Bagi Arjuna, menjelang tahun politik tidak menutup kemungkinan banyak praktik perburuan rente yang menjadikan anggaran negara sebagai sapi perah mengingat mahalnya biaya politik.

“BPK harus lakukan audit. Untuk memastikan keuangan negara digunakan dengan akuntabel. Jangan sampai program pemerintah dijadikan sapi perah politik, mengingat Menteri Pertahanan adalah Bacapres yang rawan konflik kepentingan menjelang tahun politik," ungkap Arjuna

Arjuna juga mendorong DPR RI untuk membentuk Panitia Khusus dengan menggunakan hak angket dalam merespon polemik pembelian 12 jet tempur Mirage 2000-5 bekas yang sarat akan kejanggalan dan berpotensi merugikan keuangan negara.

Karena menurut Arjuna, ini menyangkut kebijakan pemerintah yang bersifat strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Dimakamkan di Mashhad

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:21

Wall Street Ditutup Menguat Didorong Harapan Negosiasi Iran-AS

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:08

Terjaring OTT KPK, Bupati Sukoharjo Diduga Peras Perangkat Daerah

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:50

Menkes Budi Ajak Kreator Jadikan Pola Makan Sehat Sebagai Tren Baru

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:45

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Jakarta Dicecar KPK soal Pengadaan Rel di DJKA

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:32

Harga Emas Melonjak Didorong Aksi Bargain Hunting dan Sentimen Geopolitik

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:21

Sentimen AI Pulihkan Bursa Eropa, STOXX 600 Menguat

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:12

OTT di Solo Raya: Selain Bupati Sukoharjo KPK Juga Amankan 4 Orang Lainnya

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:04

Ekonomi NTB Tumbuh 13,64 Persen, Peluang Lahirnya Inovasi Anak Muda Kian Terbuka

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:01

Kepindahan Narji dari PKS ke PSI Dianggap Kutu Loncat Gurem

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:58

Selengkapnya