Berita

Robot ANDI, memiliki pori-pori yang mengeluarkan keringat seperti manusia/Net

Dunia

Mencari Cara Lindungi Manusia dari Gelombang Panas, Peneliti Arizona Ciptakan Robot Berkeringat

SABTU, 22 JULI 2023 | 14:19 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Gelombang panas yang tengah melanda planet bumi memicu para peneliti di Arizona untuk menciptakan robot yang dapat bernapas, menggigil, dan berkeringat. Tujuannya, mengetahui bagaimana manusia bisa melindungi diri dari sengatan panas.

Ibu kota negara bagian barat daya Phoenix saat ini mengalami gelombang panas terpanjang dalam sejarah.

Pada Jumat (21/7), suhu udara melebihi 43 derajat Celcius selama 22 hari berturut-turut, sebuah situasi yang tidak menyenangkan tentang apa yang akan terjadi di dunia yang terkena dampak perubahan iklim.


Bagi manusia, panas seperti itu merupakan ancaman yang berpotensi mematikan, yang masih belum sepenuhnya dipahami. Namun bagi ANDI - robot humanoid satu-satunya di Arizona State University - ini adalah hari yang menyenangkan.

"Dia adalah manekin termal luar ruangan pertama di dunia yang dapat kita bawa keluar secara rutin dan mengukur berapa banyak panas yang dia terima dari lingkungan," kata profesor teknik mesin, Konrad Rykaczewski, seperti dikutip dari AFP, Sabtu (22/7).

"ANDI adalah cara yang sangat realistis untuk mengukur secara eksperimental bagaimana manusia merespons iklim ekstrim tanpa membahayakan orang itu sendiri," kata Rykaczewski.

Sepintas, ANDI - yang merupakan singkatan dari Advanced Newton Dynamic Instrument - menyerupai boneka manekin sederhana. Tapi kulit serat epoksi/karbonnya menyembunyikan harta karun teknologi, seperti jaringan sensor terhubung yang dapat menilai panas menyebar ke seluruh tubuh.

ANDI juga memiliki sistem pendingin internal dan pori-pori yang memungkinkan untuk bernapas dan berkeringat. Ada 35 zona termal independen dan, seperti manusia, robot - yang biaya pembuatannya lebih dari setengah juta dolar - berkeringat lebih banyak dari punggungnya.

Hingga saat ini, hanya sekitar selusin manekin jenis ini yang ada, dan tidak satu pun dari mereka yang dapat menjelajah di luar ruangan.

Mereka terutama digunakan oleh produsen peralatan olahraga untuk menguji pakaian teknis di ruang termal.

Para peneliti berharap robot tersebut akan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang hipertermia - yaitu, saat tubuh kepanasan, suatu kondisi yang mengancam sebagian besar populasi dunia akibat pemanasan global.

"Untuk alasan etis yang jelas, tidak ada yang mengukur kenaikan suhu inti saat seseorang terkena sengatan panas," kata Rykaczewski.

Namun, efek panas pada tubuh manusia masih belum sepenuhnya dipahami. ANDI memberi peneliti kesempatan untuk memahami.

Ditemani oleh MaRTy (Mean Radiant Temperature), sebuah stasiun cuaca bergerak yang mengukur panas yang dipantulkan oleh bangunan di sekitarnya, ANDI mengambil langkah pertamanya di luar di Phoenix - sebuah laboratorium yang ideal untuk mempersiapkan iklim masa depan.

"Bagaimana kita mengubah apa yang kita pakai? Bagaimana kita mengubah pola perilaku kita, dan menyesuaikannya dengan suhu yang besarnya seperti ini?" kata Rykaczewski.

Jennifer Vanos, ahli klimatologi yang terlibat dalam proyek tersebut mengatakan, ANDI juga dapat diprogram ulang tanpa batas.

"Tim peneliti dapat membuat manekin kembar digital untuk melihat segmen populasi yang berbeda," jelas Vanos.

"Misalnya, semakin tua usia Anda, semakin sedikit Anda berkeringat," ujarnya.

Kaum muda akan membutuhkan perlindungan yang berbeda dari atlet atau orang yang kesehatannya buruk. Dengan ANDI, para ilmuwan diharapkan dapat mensimulasikan mekanisme termoregulasi yang spesifik untuk setiap individu.

Penelitian mereka akan berguna untuk merancang pakaian tahan panas, memikirkan kembali perencanaan kota, dan melindungi yang paling rentan.

Di Phoenix, yang membuka lusinan pusat pendingin bagi para tunawisma setiap musim panas, temuan mereka dapat memandu tindakan para pekerja sosial.

“Berapa lama seseorang harus tinggal di pusat pendingin untuk mendinginkan diri, sehingga suhu intinya turun ke tingkat yang aman lagi? Kita bisa menjawab pertanyaan itu dengan ANDI,” kata Vanos.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Kalah di PN Jakpus, Penggugat PPP Subadri-Toni Dihukum Bayar Biaya Perkara

Senin, 03 Agustus 2026 | 22:10

Prabowo Terima Medali Kehormatan dari Angkatan Bersenjata Tailan

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:34

Buru Aset TPPU Febrie Adriansyah, Tim 9 Geledah Kantor Don Ritto hingga Rumah Nurman Herin

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:30

Prabowo dan PM Tailan Bidik Nilai Perdagangan Rp359 Triliun dalam Lima Tahun

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:20

Ini Enam Perkara yang Dihentikan KPK

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:10

Petingginya Diperiksa Kejati DKI, Peran AFPI Disorot

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:52

Indonesia-Tailan Sepakat Kembangkan TRM untuk Perangi Kejahatan Transnasional

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:49

Bawaslu Fokus Tingkatkan SDM Hadapi Tantangan Digital

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:38

Prabowo Kenang Masa Muda Bersama Raja Tailan Saat Sambut PM Anutin

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:30

Prabowo Dukung PPHN Jadi Pedoman Lintas Pemerintahan

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:16

Selengkapnya