Berita

Penulis adalah Dosen UIN Raden Mas Said Surakarta/RMOL

Publika

Panji Gumilang dan Konsep Equals Justice Under Laws

OLEH:BAKHRUL AMAL*
SELASA, 11 JULI 2023 | 02:41 WIB

SEMUA orang di mata hukum diperlakukan sama. Doktrin ini telah berlangsung lama bahkan jauh sebelum ide tentang negara hukum ditemukan.

Adalah Pericles, seorang Jenderal Perang kesohor Yunani, yang dianggap oleh sejarah menjadi sosok paling awal mengatakan itu. Tepatnya ketika dia diberikan kesempatan pidato di akhir Perang Pelopponesia, sekitar Tahun 404 SM. Kalimat lengkapnya adalah "jika kita memperhatikan hukum, hukum itu memberikan keadilan yang sama tanpa melihat perbedaan status".

Kata-kata Pericles tadi lantas menginspirasi pola penegakan hukum baik dulu hingga sekarang, baik di Yunani sendiri maupun di belahan dunia lainnya. Bahkan ungkapan epiknya itu diabadikan di atas pilar-pilar Gedung Mahkamah Agung Amerika Serikat dalam pahatan bertuliskan "Equals Justice Under Laws".


Kesetaraan Hukum

Sebagai negara hukum tentunya Indonesia pun menganut doktrin serupa. Doktrin bahwa tidak ada satupun orang yang kebal hukum. Termasuk pula di dalamnya, pada Panji Gumilang.

Akhir-akhir ini sosok tersebut, yang dikenal sebagai Empunya Al Zaytun, sedang ramai diperbincangkan. Tidak hanya di gedung bertingkat penuh AC tetapi di warung bahkan di sudut-sudut tersempit Nusantara, semua menanti nasibnya.

Penantian nasib itu menjadi mendebarkan karena ada bumbu gosip bahwa pria yang mempopulerkan lagu Havenu Shalom Alechem itu konon sakti mandra guna, bukan tak mempan dipanah, tetapi tak bisa dijerat hukum. Selain punya 'doi', dia juga digunjingkan memiliki tameng. Ada orang kuat yang siap pasang badan. Itulah anggapan yang saat ini muncul di masyarakat, yang diperoleh dari comotan berita sana dan sini.

Anggapa Keliru

Akan tetapi anggapan itu tak bisa terus menerus dikabarkan. Selain tak berdasar, anggapan itu berbahaya. Anggapan yang dikhawatirkan dapat memancing proses penegakan hukum yang tidak semestinya. Atau penegakan hukum yang sekedar dilakukan sebab adanya nafsu untuk menghukum.

Toh faktanya Panji Gumilang tak kebal hukum. Dia pernah merasakan dinginnya ubin tahanan selama 10 bulan. Tepatnya pada tahun 2011 Panji Gumilang dihukum dalam kasus pemalsuan dokumen. Kasus yang terbilang remeh temeh bagi seorang yang katanya untouchable.

Proses Hukum

Kali ini, seiring dengan kontroversi yang dilakukannya, dugaan kejahatan yang menjeratnya menjadi bejibun. Setidaknya ada empat tema yang harus ia pertanggungjawabkan, yang semuanya itu desas-desusnya karena kelakuannya.

Yang sedang berlangsung sekarang adalah mengenai penistaan atau ponadaan agama. Yang masih menunggunya adalah soal traksaksi bernilai triliunan yang ditemukan PPATK. Kegiatan belajar mengajar pada pondoknya pun terancam ditinjau ulang karena sering dianggap melakukan aktivitas yang tak lumrah. Terakhir, yang terus sedang digali, masalah afiliasinya dengan gerakan yang terlarang.

Yakinlah bahwa semuanya pasti akan diproses oleh Kepolisian Republik Indonesia secara presisi. Secara prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan. Yang pada waktunya, setelah seluruh tahapan pencarian fakta dilakukan, akan disampaikan hasilnya.

Penutup

Pada tahun 1775 Lisbon diguncang gempa dahsyat. Gempa yang turut mengguncang hati dan perasaan Immanuel Kant. Gempa yang membuat filsuf kenamaan itu 26 tahun kemudian menulis kata "De nobis ipsis silemus"  (pada diri kita sendiri, kita diam) dalam pengantar Critique of Pure Reason, untuk menggambarkan kegalauan hatinya.

Sama, doktrin kesetaraan hukum itu memang indah sebagai konsep. Tetapi di sisi yang lain terkadang menakutkan sebagai fakta. Dia lebih mudah diucapkan manakala yang mengalami permasalahan itu bukan kita. Ketika yang mengalami itu kita sendiri, belum tentu kita berharap demikian.

Oleh karena itu selama proses di Kepolisian masih berlangsung, tugas kita adalah mengawal. Mengawal agar proses penggalian fakta itu berjalan sebagaimana mestinya. Mengawal dengan tak luput mengedepankan asas praduga tidak bersalah.

Seperti sebagaimana ditekankan di awal bahwa semuanya, termasuk Panji Gumilang, setara di mata hukum. Setara secara perlakuan maupun penilaian. Selama belum terbukti dan diputuskan oleh Sang Wakil Tuhan semuanya masih prejudice.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Prabowo Apresiasi Rahmat Erwin Usai Raih Emas dan Pecahkan Rekor Dunia

Minggu, 27 September 2026 | 12:11

Partai Koalisi Bela Prabowo Mati-matian tapi Diam Saat Gibran Dikritik

Minggu, 27 September 2026 | 12:05

Daftar 10 Wilayah Terpanas 27 September 2026, Suhu Capai 37,4 Derajat

Minggu, 27 September 2026 | 11:57

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Spesifikasi Samsung Galaxy A08 Resmi Meluncur di Indonesia, Baterai 6.000 mAh

Minggu, 27 September 2026 | 11:37

Indonesia Calonkan Diri untuk Kursi Tidak Tetap DK PBB Periode 2029-2030

Minggu, 27 September 2026 | 11:04

Tak Ada Satupun Partai Koalisi Pasang Badan saat Gibran Hadapi Gugatan Ijazah

Minggu, 27 September 2026 | 10:31

KPK Amankan Perhiasan Diduga Emas Saat Geledah Kanwil BPN Jatim

Minggu, 27 September 2026 | 10:17

Perang Abad 21 Sudah Dimulai, tapi Mukan di Medan Tempur

Minggu, 27 September 2026 | 10:05

Sugiono: RI Percaya PBB, Tapi Multilateralisme Harus Lebih Representatif dan Gesit

Minggu, 27 September 2026 | 09:27

Selengkapnya