Berita

M. Noor Harisudin/RMOL

Publika

Haji dan Pesan Kesetaraan Universal

OLEH: M.NOOR HARISUDIN*
KAMIS, 29 JUNI 2023 | 14:15 WIB

SELASA 27 Juni 2023, jamaah haji sedunia bersama-sama melakukan wukuf di Arafah Makkah (9 Dzulhijah 2023). Sebelumnya, mereka mulai masuk ke tanah Arafah sejak Hari Senin, 26 Juni 2023. Para jamaah haji dibiarkan ‘lusuh’ menghadap Allah Swt. Lusuh memperlihatkan wajah asli manusia yang masih original tanpa make up apapun.

Inilah, dalam hemat saya, hakikat puncak haji wukuf di Arafah, 9 Dzulhijjah 1444 H. Bersimpuh di hadapan sang pencipta dalam bentuknya yang masih asli, tanpa make up dan tedeng aling apapun.

Di tanah gersang yang panas itu, tak ada yang mulia sebagai manusia.  Di hadapan-Nya, semua sama. Ketika mulai melewati miqat, semua harus menanggalkan pakaian biasa dan diganti dengan pakaian ihram. Sebagaimana maklum, pakaian menunjukkan status sosial, preferensi dan perbedaan tertentu. Di miqat makani, perbedaan tersebut harus ditanggalkan seiring dengan menanggalkan secara ruhaniah apa yang menjadi pembeda status sosial, ekonomi maupun profesi.
 

 
Dari miqat ini pula, tempat dimana ritual ibadah haji dimulai, kata Ali Syariati (2007), seorang manusia-- apapun ras dan sukunya harus ditanggalkan. Dalam bahasa Ali Syariati, semua pakaian yang dikenakan sehari-hari yang membedakan sebagai serigala (yang melambangkan kekejaman dan penindasan), tikus (yang melambangkan kelicikan), anjing (yang melambangkan tipu daya), atau domba (yang melambangkan penghambaan) juga harus ditinggalkan.

Semua ditinggalkan ketika Miqat dan seorang haji berperan sebagai manusia yang sesungguhnya. Di Miqat, dengan mengenakan dua helai pakaian berwarna putih-putih, seorang yang melaksanakan ibadah haji akan merasakan jiwanya dipengaruhi oleh pakaian ini. Dua helai pakaian ini pula yang akan membalut tubuhnya kala ia meninggal dunia. Ia akan merasakan kelemahan dan keterbatasannya, serta pertanggungjawaban yang akan ditunaikannya kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Inilah apa yang saya sebut dengan Pesan Kesetaraan Universal. Pesan kesetaraan universal dalam haji ini sejalan hadits Nabi Muhammad Saw. Dalam sebuah kesempatan, Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Manusia bagaikan gigi-gigi sisir, tidak ada keunggulan orang Arab atas non Arab, orang kulit putih atas kulit hitam, kecuali atas dasar ketakwaan kepada Tuhan”. (HR. Bukhori-Muslim)

Merefer pada hadits inipun, orang dengan warna kulit putih  tidak lebih baik daripada kulit hitam, begitu pula sebaliknya. Salah satu bukti, di Ka’bah ada Hijr Ismail yang arti harfiahnya adalah pangkuan Ismail. Di sanalah, Ismail putra Ibrahim, nabi yang membangun Kabah pernah berada dalam pangkuan ibunya bernama Hajar.

Hajar sendiri adalah seorang perempuan hitam, miskin, dan budak yang konon kuburannya berada di tempat itu. Budak perempuan ini di tempatkan Tuhan di sini atau peninggalannya diabadikan Tuhan, sebagai ibrah bahwa Allah memberi kedudukan untuk seseorang bukan karena keturunan atau status sosialnya, tapi karena kedekatannya pada Allah Swt.  

Demikian juga dengan jabatan dan kedudukan manusia. Semua musti ditanggalkan kebesarannya. Dalam haji, tak ada lagi jabatan prestise presiden, gubernur, bupati, guru besar, guru TK, dan sebagainya. Tak ada juga pengusaha yang kaya raya. Para jamaah haji sedang menuju pada kemuliaan abadi yang diajarkan Islam.

Kemuliaan abadi adalah kemuliaan yang selama-lamanya, sebagaimana perkataan Ibnu Athailah al-Iskandari dalam Kitab Hikam (tt) . “In aradta an yakuuna ‘izzun la yafna, fala taztaizzanna bi'izzin yafna”. Jika kau ingin kemuliaan yang tidak fana alias selama-lamanya, maka jangan kau banggakan kemuliaan yang fana. Kemuliaan yang fana adalah kemuliaan yang didasarkan pada kekayaan, jabatan, pangkat, kedudukan, popularitas dan sebagainya. Kemuliaan fana adalah kemuliaan yang sementara.

Semua manusia bisa saja silap dengan kemuliaan duniawiyah sebagaimana firman Allah Swt: “Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada aneka syahwat, yaitu wanita-wanita, anak-anak lelaki, harta yang tidak terbilang lagi berlipat ganda dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imron: 15)

Syahwat, menurut Quraish Sihab, adalah kecenderungan hati yang sulit terbendung kepada sesuatu yang bersifat indrawi. Jika kecenderungan itu berasal dari Allah, maka kebajikan-kebajikan yang akan menyertainya.

Seperti keimanan yang dijadikan indah oleh Allah dalam hati orang yang beriman (baca QS. al-Hujurat: 7). Sedangkan, jika kecederungan hati, kecintaannya yang diperindah syaitan, akan dijadikan indah dalam bentuk kecintaan yang berlebihan, dan menjadikan sesuatu yang buruk terlihat baik. Seperti halnya kaum musyrikin yang menganggap indah pembunuhan terhadap anak (QS. Al-An’am: 137).

Namun, pada akhirnya, tak ada kemuliaan yang abadi selain hanya ketakwaan pada-Nya. Dengan indah, Allah Swt. berfirman:  “Katakanlah, “Inginkah kuberitahukan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa, pada sisi Tuhan mereka, ada surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dianugerahi) pasangan-pasangan yang disucikan serta keridhaan yang sangat besar bersumber dari Allah. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imron: 15).

Haji adalah jalan menuju kemuliaan abadi dengan ketakwaan. Ketakwaan membawa seseorang kepada kesadaran bahwa seluruh makhluk adalah setara sebagai hamba dari Sang Maha Penguasa Semesta. Semoga menjadi haji yang mabrur.

*Penulis adalah Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember dan PPIH Kloter SUB 55 Tahun 2023

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Jokowi Dalangi Operasi Politik Pertahankan Wapres Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:14

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Pejabat BNPB juga Korupsi Pengadaan HT Penanganan Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:37

Status MSCI Bukan Tanda Kiamat

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:21

Penguatan Ekosistem Dagang RI Didorong Tembus 5 Besar Ekonomi Dunia

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:06

Mengenal Ahmad Luthfi Auditor BPK yang Minta Jatah Rp600 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:37

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia, Polri Sampaikan Duka Cita

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:17

MSCI Pertanyakan Pasar RI, BEI Harus Buktikan Pengawasan Bekerja

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:06

Fahira: Mimpi dan Cita-cita Tak Boleh Dibatasi Kondisi Ekonomi

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:35

Polisi Tembak Polisi di Markas Ditpolairud Pondok Cabe, Pelaku Ditahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:15

Selengkapnya