Berita

Umat muslim di Amerika Serikat/Net

Suara Mahasiswa

Mengatasi Stereotipe Islam di Amerika Serikat: Peran Penting Partisipasi Aktif Masyarakat

OLEH: DAISHA NADA*
MINGGU, 25 JUNI 2023 | 08:21 WIB

SEBAGAI salah satu agama terbesar di dunia, Islam telah menjadi bagian penting dari lanskap agama dan budaya Amerika Serikat. Sayangnya, komunitas muslim di Amerika Serikat sering menjadi sasaran stereotipe dan prasangka negatif yang tidak adil, khususnya pasca peristiwa 9/11 di mana terjadi serangan teror dari kelompok Al-Qaeda yang menabrakkan pesawat di gedung World Trade Center (WTC) dan Pentagon, Amerika Serikat.

Pertama, penting untuk diingat bahwa komunitas muslim di Amerika Serikat adalah kelompok yang beragam. Mereka berasal dari negara yang berbeda, memiliki latar belakang budaya yang berbeda dan membawa kekayaan tradisi agama yang berbeda.

Melalui keterlibatan mereka dalam pendidikan, seni, bisnis, pemerintahan, dan masyarakat sipil, mereka telah membantu memperkaya keragaman budaya Amerika Serikat.


Di Amerika Serikat sendiri, terdapat beberapa tokoh muslim yang memiliki pengaruh tidak hanya bagi Amerika Serikat saja, tetapi juga bagi dunia secara keseluruhan. Sebut saja Malcolm X dan Muhammad Ali yang telah membantu meningkatkan kesadaran dan pemahaman publik tentang Islam di Amerika Serikat melalui pengaruh mereka.

Mereka menunjukkan kepada orang lain bahwa Islam adalah agama yang mempromosikan keadilan, kesetaraan, dan melawan ketidakadilan. Dalam banyak kasus, Malcolm dan Ali menginspirasi banyak orang untuk memeluk Islam dan membantu membangun komunitas muslim yang lebih kuat di Amerika Serikat.

Amerika Serikat Pasca 9/11

Dalam menghadapi tantangan global seperti terorisme, sangat penting untuk membedakan antara Islam sebagai agama damai, dan ekstrimis minoritas yang menggunakan nama Islam untuk membenarkan kekerasan.

Mereka yang menstigmatisasi seluruh komunitas muslim acapkali lupa, bahwa banyak muslim yang menjadi korban terorisme dan sedang berjuang dalam melawan ekstremisme tersebut.  

Peristiwa 9/11 memiliki dampak yang sangat besar, tidak hanya di Amerika Serikat tetapi di seluruh dunia. Dampak secara langsung yang dirasakan Amerika Serikat adalah hilangnya banyak nyawa dan kerusakan infrastruktur. Serangan tersebut menewaskan hampir 3.000 orang dan melukai ribuan lainnya.

Selain memakan banyak korban jiwa dan kerusakan fisik, peristiwa ini juga berdampak pada kebijakan keamanan, hubungan internasional, persepsi terhadap umat Islam, dan dinamika geopolitik.  

Untuk memulihkan hubungan Islam dan Amerika Serikat setelah peristiwa 9/11, dialog antaragama dan kerja sama antarbudaya menjadi hal yang sangat penting. Inisiatif pendidikan yang mempromosikan pemahaman yang akurat tentang Islam dan budaya Islam harus selalu digaungkan, tidak hanya di lembaga pendidikan, tetapi juga pada masyarakat secara luas.

Selain itu, penting bagi media dan individu untuk menyajikan penjelasan yang seimbang dan objektif mengenai Islam. Mengambil peran untuk melaporkan berita faktual, dan menghindari generalisasi yang tidak adil merupakan langkah penting untuk menuju pemahaman yang lebih baik terkait Islam.  

Masa depan yang harmonis di Amerika Serikat membutuhkan partisipasi aktif dari setiap warga negaranya. Sebagai masyarakat yang menganut nilai-nilai demokrasi, kesetaraan dan kebebasan beragama, sudah saatnya kita menghancurkan stereotip dan prasangka buruk terhadap Islam.

Kita semua memiliki tanggung jawab untuk melawan stereotip dan membuka jalan diplomasi antar agama yang kokoh. Melalui pemahaman, dialog, dan kerja sama yang baik, kita dapat melewati trauma dari peristiwa 9/11 dan membangun masyarakat yang inklusif serta saling menghormati.

*Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

PUI: Pernyataan Kapolri Bukan Ancaman Demokrasi

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:52

BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA Sesuai UUD 1945

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:34

HMI Sumut Desak Petugas Selidiki Aktivitas Gudang Gas Oplosan

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:26

Presiden Prabowo Diminta Bereskan Dalang IHSG Anjlok

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:16

Isak Tangis Keluarga Iringi Pemakaman Praka Hamid Korban Longsor Cisarua

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:54

PLN Perkuat Pengamanan Jaringan Transmisi Bireuen-Takengon

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:53

TSC Kopassus Cup 2026 Mengasah Skill dan Mental Petembak

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:23

RUU Paket Politik Menguap karena Himpitan Kepentingan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:45

Kuba Tuding AS Lakukan Pemerasan Global Demi Cekik Pasokan Minyak

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:44

Unjuk Ketangkasan Menembak

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:20

Selengkapnya