Berita

Menara di Ponpes Al Zaytun/Net

Dahlan Iskan

Menara Zaytun

SENIN, 19 JUNI 2023 | 04:51 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

OLAHRAGA rupanya juga dipentingkan di pesantren Al Zaytun: punya enam lapangan sepak bola. Salah satunya pakai tribun: khusus untuk pertandingan.

Pertandingannya pun bisa malam hari: punya fasilitas penerangan mirip di stadion sepak bola pada umumnya.

Masih ada lima lapangan sepak bola lainnya: untuk latihan.


Lapangan basketnya pun banyak. Al Zaytun selalu ikut kompetisi basket DBL. Masuk zona IX Jawa Barat. Semua pemain wanitanya berjilbab. Suporternya diangkut dengan banyak bus ke Bandung. Kompetisi basket terbesar di Indonesia itu dipimpin anak menantunya Pak Iskan.

Maka DBL biasa menempatkan Al Zaytun di pertandingan pembukaan. Bertanding lawan tim SMA Katolik Santo Aloysius. Selalu seru. Masing-masing pasti mengerahkan suporter dalam jumlah besar. Selalu kalah.

Pelatih Persebaya yang legendaris itu, almarhum Rusdy Bahalwan, pernah melatih di sana.

Maka ketika saya harus berolahraga di sana –agar tidak absen berolahraga setiap hari– disambut baik. Bahkan hampir seribu santri dan ustad ikut senam dansa. Pagi itu. Kapan itu (Lihat Disway 25 Mei 2023–Zaytun Jas).

Senam dansa kami digelar di depan stadion Al Zaytun yang bertribun itu. Saya menolak ditawari senam di atas lapangan rumput. Saya tidak mau merusak rumput di lapangan bola. Kalau itu saya lakukan tim sepakbola Persebaya bisa dikutuk rumput. Padahal tanpa dikutuk pun belum bisa jadi juara.

Di halaman depan stadion itulah kami senam dansa gaya Disway. Yang di sekelilingnya pepohonan jati. Yang dari sini bisa melihat menara masjid yang menjulang tinggi. Di kejauhan sana. Menara itu seperti menyembul dari dalam hutan jati.

Senam dansanya seru sekali. Tiga lagu pertama lagu mandarin. Maka lagu-lagu mandarin pun bergema keras di pesantren itu. Disertai gerakan pemanasan.

Di lagu berikutnya tiba-tiba sorak-sorai bergemuruh. Saya bingung mengapa para santri itu menjadi begitu antusias. Bahkan jogetnya menjadi lebih seru.

"Ada apa?" bisik saya ke Nicky yang ikut jadi pelatih di atas panggung.

"Ini lagu kesukaan anak SMA, terutama pesantren," jawab Nicky yang memang masih belia dan jomblo itu.

"Judul lagunya apa?" bisik saya lagi. Saya hafal gerak senamnya tapi banyak tidak tahu judul lagu.

"Aisyah," jawab Nicky.

Juga ketika lagu India sedang dimainkan. Banyak yang tiba-tiba joget sendiri-sendiri –tidak mau lagi ikut gerakan saya dan Nicky di panggung.

Yang seperti itu menular di lagu-lagu dangdut setelahnya. Atau di lagu rock and roll. Kian banyak yang joget sendiri-sendiri. Saya seperti senam berdua saja bersama Nicky di panggung.

Selebihnya banyak juga yang hanya menonton dansa swasta itu –karena sudah kelelahan hampir satu jam nonstop berjoget.

Selama di panggung sesekali saya melirik ke puncak menara masjid itu. Menara itu memang tinggi sekali: 210 meter.

Saat menuju stadion ini saya minta dilewatkan proyek masjid baru itu. Bangunannya saja 1 hektare. Enam tingkat. Saya tidak masuk ke dalamnya. Masih sedang penyelesaian. Tapi sosoknya sudah jelas: gagah sekali.

Tapak menaranya sendiri sekitar 12 x 12 meter. Bagian bawahnya berbentuk gedung lima lantai. Untuk menuju puncak, di dalam menara itu dipasangi lift. Di puncaknya itu akan dibuka restoran. Bisa berputar. Seperti puncak menara di berbagai negara.

Lain kali saya mau dua malam di Al Zaytun. Sambil mengembalikan jas. Saya belum sempat melihat lahan pertanian dan peternakannya. Ratusan hektare. Yang menggarap sawah itu petani sekitar. Dengan sistem yar-nen. Al Zaytun yang menyediakan biaya penanaman. Sejak dari traktor sampai pupuk. Dengan demikian mutu bisa dijaga. Benih harus unggul. Komposisi pupuk harus proporsional. Semua biaya itu dibayar kembali dari hasil panen. Selebihnya dibagi dua: penggarap dan pemilik lahan.

Sebanyak 2.200 petani yang bekerja dengan cara itu. Mereka tergabung dalam koperasi yang dibentuk Al Zaytun: Perkumpulan Petani Penyangga Ketahanan Pangan Indonesia (P3KPI).

Dengan dilewatkan lembaga petani, maka sistem yar nen di Al Zaytun terkontrol penuh. Toh semua hasil panen dibeli oleh Al Zaytun sendiri.

Itu beda dengan sistem yar nen pada umumnya. Petani merdeka menjual padi mereka. Hanya petani yang benar-benar jujur yang mau menyisihkan hasil penjualannya: untuk bayar kembali pupuk dan benih.

Sistem yar nen bisa berjalan baik di Al Zaytun. Dalam skala sekitar 500 hektare.

Syekh Panji Gumilang, pendiri Al Zaytun, lantas membayangkan: mestinya negara bisa swasembada beras dengan sistem ini. Beda dikit. Al Zaytun adalah pemilik lahan. Negara tidak harus memiliki lahan.

Negara, katanya, menyewa lahan pertanian dari penduduk. Luasnya disesuaikan dengan beras yang diperlukan untuk swasembada. Dibagi tiap provinsi. Tiap kabupaten.

Maka akan jelas berapa luas sawah yang diperlukan untuk seluruh penduduk di kabupaten itu.

Kalau 8.000 penduduk Al Zaytun bisa swasembada dengan 300 hektare, maka berapa luas yang harus disewa di satu kabupaten. Semua bisa dihitung.

Syekh Panji pernah menghitung. Ia sudah mendapat data luas sawah di Indonesia. "Dengan separonya saja Indonesia sudah bisa swasembada," ujar Syekh Panji.

Kalau negara bisa menyewa sawah petani, katanya, betapa besar uang negara yang mengalir ke rakyat bawah. Ekonomi di bawah akan bergairah.

Uang sewa itu dikembalikan ke negara setelah panen. Secara mencicil. Setiap tahun.

Daripada, misalnya –ini bukan kata-kata Syekh Panji– uang Rp 8 triliun+19 triliun+16 triliun+sekian triliun lagi menguap di lapisan atas. Termasuk di atas tower.

"Ini yang dulu saya impikan sebagai menteri agama. Ulama plus. Duniawiyah ukhrowiyah," ujar Prof Munawir Sjadzali kala itu. Tahun 2001 Munawir ke Al Zaytun. Sudah tidak menjabat menteri agama. Kalimat Munawir itu diabadikan di buku yang ditulis wartawan senior Robin Simanullang tentang Al Zaytun.

Suryadharma Ali juga pernah ke Al Zaytun. Masih dalam kedudukannya sebagai menteri agama. Tahun 2011. Ia didesak media dengan pertanyaan seperti yang ramai disorotkan kepada Al Zaytun. Wartawan masih juga tidak puas. Suryadharma dianggap seperti tidak peduli dengan sorotan masyarakat kepada Al Zaytun.

Dipepet seperti itu Suryadharma Ali sampai kesal. "Apakah Anda ingin saya harus mengatakan Al Zaytun itu NII?" katanya.

Mungkin saya juga akan bersikap begitu.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Jokowi Dalangi Operasi Politik Pertahankan Wapres Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:14

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Pejabat BNPB juga Korupsi Pengadaan HT Penanganan Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:37

Status MSCI Bukan Tanda Kiamat

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:21

Penguatan Ekosistem Dagang RI Didorong Tembus 5 Besar Ekonomi Dunia

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:06

Mengenal Ahmad Luthfi Auditor BPK yang Minta Jatah Rp600 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:37

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia, Polri Sampaikan Duka Cita

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:17

MSCI Pertanyakan Pasar RI, BEI Harus Buktikan Pengawasan Bekerja

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:06

Fahira: Mimpi dan Cita-cita Tak Boleh Dibatasi Kondisi Ekonomi

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:35

Polisi Tembak Polisi di Markas Ditpolairud Pondok Cabe, Pelaku Ditahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:15

Selengkapnya