Berita

Dahlan Iskan saat mengunjungi Aceh/Ist

Dahlan Iskan

Aceh 1000K

MINGGU, 18 JUNI 2023 | 04:59 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

ANDA sudah tahu gelar lama Aceh, tapi saya baru tahu gelar terkininya: Kota 1000K. Seribu (Kedai) Kopi.

Saya pun mengadakan riset sederhana. Respondennya para profesor, doktor, ustad, dokter PPDS penyakit dalam, mahasiswa, dan mahasiswi. Merekalah yang mengajak saya ke "seribu" kedai kopi di Banda Aceh: Jumat-Sabtu lalu. Siang dan malam. Subuh dan senja.

Saya tanya mereka: gelar mana yang kini lebih populer. Serambi Makkah atau Seribu Kedai Kopi. Hanya satu yang menjawab Serambi Makkah. Yakni seorang ustad lulusan Gontor. Setengah baya. Sang ustad kini mengasuh beberapa pondok alumnus di sana. Pondok Alumni adalah sebutan untuk pesantren yang didirikan alumnus Gontor, Ponorogo. Istrinya cantik dengan i lima –dokter spesialis pula.


Pun saya harus ke kafe. Ketika hari itu saya harus IG-live dengan Rumah Sakit Mata Undaan Surabaya. Hari itu adalah Hari Donor Kornea se Dunia. Begitu banyak orang buta yang harus ditolong. Begitu langka kornea yang bisa didapat.

Dokter ahli pun menjadi kurang ahli: kurang sering mempraktikkan ilmunya. Lalu kita mencela dokter kita yang kalah dari luar negeri. Padahal kitalah yang membuat para dokter itu kurang ahli.

Kita punya doktrin agama yang kurang pro transplantasi: tidak boleh menyakiti mayat. Entah bagaimana riwayatnya mayat yang sudah tidak bisa merasa apa-apa dianggap masih disakiti saat diambil organnya.

Masih pula ada anggapan umum ini: mayat yang mendonorkan mata akan rusak wajahnya. Bola matanya dicungkil. Bolong. Jelek. Mengerikan.

Tentu anggapan itu tidak benar. Yang akan didonorkan hanyalah lapisan sangat tipis di luar bola itu. Tidak akan mengubah tampakan wajah mayat sedikipunt. Saya harus bicara itu di IG live.

Saya pun dibawa ke satu kafe. Penuh. Bising. Tidak bisa IG-live di situ. Pindah ke kafe lain. Sama. Begitu banyak kafe. Penuh semua.

Saya ingat teman saya: juga punya kafe. Namanya Rumah Aceh. Saya minta pindah ke sana. Sepanjang perjalanan mata saya jelalatan: kafe di kanan, kafe di kiri, kafe di mana-mana.

Kafe Rumah Aceh itu milik Mirza, wartawan independen merangkap dosen hukum. Kalau pun di lantai bawah nanti penuh, bisa di lantai atas. Pun kalau atas penuh bisa di teras belakang.

Akhirnya saya diberi ruang khusus: kantor media online-nya di bangunan sebelah. Kapling ini memang luas: 2.000 m2. Bagian depannya bangunan rumah asli Aceh: rumah kuno yang dipindah ke situ. Rumah di pedalaman diboyong ke kota. Rumah kayu. Dua lantai. Khas Aceh.

Saya sudah ke situ kemarinnya. Ngobrol politik. Ayah Mirza adalah tokoh politik utama di Aceh. Saya sudah membaca buku biografi sang ayah. Berlinang air mata. Istrinya meninggal saat ia persis dipecat Aburizal Bakrie dari jabatan ketua Golkar Aceh. Lalu dicopot pula dari jabatan wakil ketua DPRA.

Sang ayah, Sulaiman Abda, lantas membangun musala di belakang Rumah Aceh itu. Nama sang istri diabadikan menjadi nama musala. "Ini Taj Mahalnya ayah," ujar Mirza. Di situlah sang ayah menghabiskan malam-malamnya. Sampai sekarang. "Ibu saya mungkin wanita tercantik di seluruh Aceh," ujar Mirza. Juga cerdas. Lahir batin. Dia master pendidikan. Menderita kanker kandungan –dan tidak ingin suaminya tahu.

Dua kali ke kafe ini, dua rasa kopi saya coba. Sebagai bukan penikmat kopi saya tidak tahu apa beda keduanya.

Mirza sangat ingin medianya bergabung ke Disway. Saya pun ingin. Kami bicara panjang: bagaimana caranya. Pembicaraan buntu ketika sampai pada Google: bagaimana cara menolak iklan yang hanya disukai Leong Putu itu. Tidak ada jalan keluar. Belum.

Akhirnya saya bisa bertemu ayahnya Mirza. Habis subuh. Lokasi pertemuan di sebuah kafe, agak jauh dari Rumah Aceh. Tiap pagi ia ngopi di kafe itu. Dengan para teman sebayanya: profesor ekonomi, profesor hukum, doktor sastra Arab, dan para tokoh lainnya. Yang ia masygul, sang istri tidak sempat tahu: semua jabatannya dipulihkan ketika Aburizal dan Agung Laksono rukun kembali. Keduanya setuju memilih Setya Novanto jadi ketua umum Golkar yang baru.

Mirza juga membuatkan saya janji bertemu tokoh agama di Aceh. Janji ketemunya juga di kafe. Dekat masjid sang ustad. Sehabis memberi kuliah subuh ia selalu ngopi di situ.

Subuh itu saya sudah dua kali ke kafe. Di sela ke dua kafe itu saya ke Masjid Baiturrahman. Waktu terkena tsunami hanya rusak sebagian. Masjid itu kian cantik. Halamannya diperluas. Jalan di depan masjid itu dipindah ke depan lagi. Jalan lama untuk menambah luas halaman. Lalu di halaman itu didirikan atap modern model halaman masjid Madinah.

"Payung otomatis" itu menambah keindahan masjid. Hanya saja atap itu jarang dibuka. Angin terlalu kencang.

Sore itu panitia mengajak saya rapat: persiapan seminar kedokteran keesokan harinya. Rapatnya: di kafe. Yakni kafe di seberang kafe. Saya hampir salah masuk karena di sebelah kirinya juga kafe.

Di situ saya ingin mencoba kopi yang belum pernah saya dengar namanya: kopi nira. Ternyata kopinya dicampur dengan cairan dari tangkai bunga aren.

"Halal?" tanya saya kepada mahasiswi sebelah saya.

"Kan ini belum jadi tuak," jawabnyi.

Saya pun melakukan riset sederhana: berapa yang menyukai kopi nira itu. Wow! Lebih 50 persen.

Lalu saya hitung pengunjung kafe itu. Berapa persen wanitanya. Ternyata mayoritas. Lebih 60 persennya wanita. Semua muda. Berjilbab. Modis. Dari 40 yang saya lihat, yang cantik 45.

Jam 22.00 saya diajak makan durian. Banyak penjual durian di pinggir jalan. Yakni di depan kafe "Ata Kopi". Kafe baru. Terbesar di Banda Aceh. Milik Deny Syahputra.

Itu kafe terbuka. Hanya ada atap dan lantai. Seperti sebuah pujasera. Penuh. Masif. Pria. Wanita. Jam 22.00. Anak-anak muda.

Kami harus berdiri beberapa menit. Lalu ada meja yang ditinggalkan pengunjung. Kami ke meja itu. Masih kotor. Ikut membersihkannya.

Seberapa besar kafe yang saya sebut besar itu?

Saya pun berdiri: menghitung meja. Bukan kaleng-kaleng: 60 meja. Masing-masing untuk 4 orang.

Saat saya berdiri lama sambil menghitung itu pemiliknya datang. Minta foto bersama. Diikuti yang lain-lain.

Kafe ini baru dibuka malam pertama puasa lalu. Lokasi ini dulunya penjara. Kena tsunami. Rata dengan tanah. Deny menyewa lahan itu.

Lima tahun.

Saya diizinkan makan durian di meja itu. Dengan kopi hitam.

Hebatnya lagi, kafe ini buka 24 jam. Dan itu bukan satu-satunya yang besar. Ada lagi yang di dekat rumah sakit itu. Juga 24 jam.

Aceh berubah. Kota Banda Aceh ramai nyaris sepanjang malam. Aman. Sangat menyenangkan. Bersih. Rapi. Hijau. Teratur. Beda sekali dengan Medan: gersang, semrawut, dan kotor. Medan sekarang adalah Surabaya sebelum Risma.

Serambi Makkah telah pula menjadi serambi kopi.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Prabowo Apresiasi Rahmat Erwin Usai Raih Emas dan Pecahkan Rekor Dunia

Minggu, 27 September 2026 | 12:11

Partai Koalisi Bela Prabowo Mati-matian tapi Diam Saat Gibran Dikritik

Minggu, 27 September 2026 | 12:05

Daftar 10 Wilayah Terpanas 27 September 2026, Suhu Capai 37,4 Derajat

Minggu, 27 September 2026 | 11:57

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Spesifikasi Samsung Galaxy A08 Resmi Meluncur di Indonesia, Baterai 6.000 mAh

Minggu, 27 September 2026 | 11:37

Indonesia Calonkan Diri untuk Kursi Tidak Tetap DK PBB Periode 2029-2030

Minggu, 27 September 2026 | 11:04

Tak Ada Satupun Partai Koalisi Pasang Badan saat Gibran Hadapi Gugatan Ijazah

Minggu, 27 September 2026 | 10:31

KPK Amankan Perhiasan Diduga Emas Saat Geledah Kanwil BPN Jatim

Minggu, 27 September 2026 | 10:17

Perang Abad 21 Sudah Dimulai, tapi Mukan di Medan Tempur

Minggu, 27 September 2026 | 10:05

Sugiono: RI Percaya PBB, Tapi Multilateralisme Harus Lebih Representatif dan Gesit

Minggu, 27 September 2026 | 09:27

Selengkapnya