Berita

Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan/Net

Dunia

Hakan Fidan, Menlu Baru Turki yang Pernah Jadi Tokoh Kunci Penggagalan Kudeta dan Intel Terbaik Dunia Islam

SENIN, 05 JUNI 2023 | 11:46 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Terpilihnya Hakan Fidan sebagai Menteri Luar Negeri Turkiye yang baru mendapatkan sambutan hangat dari politikus dunia. Ucapan selamat mengalir sejak Presiden Recep Tayyip Erdogan mendaulatnya tak lama setelah upacara pelantikan presiden.

Pasalnya pria berusia 55 tahun itu dianggap sebagai orang nomor dua terkuat di Turki setelah Erdogan, karena kesetiaannya yang telah teruji selama belasan tahun.

Kepala intelijen Mesir Muhamed Refaat pernah mengatakan bahwa Fidan adalah intel terbaik dunia Islam saat ini. Bahkan, menurutnya, mengalahkan intel Zionis dan Amerika.


Fidan sebelumnya merupakan kepala badan intelijen Turki Organisasi Intelijen Nasional (MIT) sejak 2010, dan menjadi salah satu dari sedikit orang kepercayaan presiden Turki, yang hingga kini masih terus menjabat di berbagai posisi sejak Erdogan menjadi perdana menteri pada tahun 2003.

Selama menjabat sebagai kepala mata-mata, Erdogan pernah menyebut Fidan sebagai "penjaga rahasia", karena banyaknya peran yang ia lakukan selama belasan tahun, termasuk dalam menggagalkan upaya kudeta yang pernah menimpa pemerintahan Erdogan.

Pada 2016, dengan instingnya yang kuat, Fidan menjadi tokoh kunci yang menggagalkan rencana itu. Ia menjadi orang pertama yang mencium niat jahat sejumlah tokoh militer yang merencanakan kudeta kepada Erdogan.

Seperti dikutip dari Turkinesia, Senin (5/6), tepatnya pada 15 Juli 2016 lalu, kepala mata-mata itu memutuskan untuk mengadakan pertemuan darurat dengan sejumlah pemimpin senior militer. Setelah pertemuan itu, ia mengeluarkan instruksi larangan penerbangan militer, untuk mencegah niat mereka mengkudeta Erdogan.

Instruksi tersebut kemudian membuat pemimpin kudeta menyadari bahwa rencana mereka telah terbongkar oleh Fidan, dan memutuskan merubah taktiknya dengan beraksi lebih awal pada Jumat malam, yang seharusnya dilaksanakan pada Sabtu pukul 03.00 pagi.

Mengetahui rencana tersebut, Fidan segera menghubungi Erdogan yang sedang berlibur di sebuah resort pantai di kota Marmaris agar segera meninggalkan tempat tersebut dan menyatakan keadaan darurat, karena akan terjadi kudeta.

"Terjadi kudeta, tuan Presiden! Kami akan bertempur dengan mereka hingga mati! Anda bergabunglah bersama rakyat, dan nyatakan keadaan darurat sekarang juga!," seru Firdan kepada Erdogan.

Tidak berselang lama saat Erdogan berhasil lebih dulu meninggalkan hotelnya, gerombolan pasukan kudeta benar-benar datang menyerbu tempat tersebut, dengan serbuan balik dilakukan oleh rakyat yang turun ke jalan, karena respon keadaan darurat yang telah dengan cepat diumumkan Erdogan melalui panggilan telepon dengan presenter televisi CNNTurk.

Setelah upaya kudeta berhasil digagalkan, Erdogan terus memberi kepercayaan penuh kepada Hakan Fidan untuk mengisi berbagai posisi penting di negaranya.

Fidan, kelahiran angkara 1068, merupakan lulusan Angkatan Darat Turki dan mengawali karirnya sebagai mantan bintara antara 1986-2001. Ia pernah bertugas di Korps Reaksi Cepat NATO di Jerman.

Selama penugasan NATO di luar negeri, Fidan memperoleh gelar sarjana dalam ilmu politik dan manajemen dari University of Maryland yang diikuti oleh gelar master dan doktoral dari Departemen Hubungan Internasional di Universitas Bilkent.

Setelah pengabdiannya di militer, ayah tiga orang anak ini fokus pada kehidupan akademiknya dengan mengajar kursus hubungan internasional di Universitas Hacettepe dan Bilkent di ibu kota Turki, Ankara.

Penunjukkan Fidan, dengan peran dan segudang pengalamannya, diprediksi akan merubah gaya hubungan luar negeri Turki di masa depan.

Di dunia diplomatik selama beberapa tahun terakhir nama Fidan sudah tidak asing lagi, sebab sebagai kepala intel, dia sering terlibat dalam diplomasi saluran belakang dengan sekutu dan musuh bangsa di seluruh dunia.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Nama Elon Musk hingga Eks Pangeran Inggris Muncul dalam Dokumen Epstein

Minggu, 01 Februari 2026 | 14:00

Said Didu Ungkap Isu Sensitif yang Dibahas Prabowo di K4

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:46

Pengoperasian RDF Plant Rorotan Prioritaskan Keselamatan Warga

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:18

Presiden Harus Pastikan Kader Masuk Pemerintahan untuk Perbaikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:03

Danantara Bantah Isu Rombak Direksi Himbara

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:45

Ada Kecemasan di Balik Pidato Jokowi

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:25

PLN Catat Penjualan Listrik 317,69 TWh, Naik 3,75 Persen Sepanjang 2025

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:07

Proses Hukum Berlanjut Meski Uang Pemerasan Perangkat Desa di Pati Dikembalikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:03

Presiden Sementara Venezuela Janjikan Amnesti untuk Ratusan Tahanan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:27

Kelola 1,7 Juta Hektare, Agrinas Palma Fokus Bangun Fondasi Sawit Berkelanjutan

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:13

Selengkapnya