Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Pilpres Putaran Kedua Turki dan Nasib Demokrasi Ottoman

OLEH: MOCH. EKSAN*
SABTU, 27 MEI 2023 | 20:32 WIB

REPUBLIK Persatuan Turki, Minggu, 28 Mei 2023, menggelar pemilihan presiden secara langsung putaran kedua. Pemilu lanjutan ini diselenggarakan lantaran tak ada satupun capres yang memperoleh suara di atas 50 persen.

Recep Tayyip Erdogan, presiden petahana, dan Kemal Kilicdaroglu, capres penantang, yang bertanding ulang untuk merebut suara dari 64 juta pemilih yang terdaftar. Dengan tingkat partisipasi pemilih di atas 88,9 persen, nasib demokrasi Ottoman Turki dipertaruhkan. Apakah Erdogan atau Kilicdaroglu yang menang?

Dua tokoh di atas adalah politisi senior Turki yang mewakili dua kelompok besar: Islamian dan Kemalian. Erdogan kini sudah berusia 69 tahun. Ia lahir pada 26 Februari 1954. Kilicdaroglu sekarang sudah berusia 74 tahun. Ia lahir 17 Desember 1948.


Sementara ini, kelompok muda Turki masih belum menjadi arus utama konstalasi politik nasional. Padahal, demokratisasi Turki berawal dari Turki Muda yang terdiri dari kaum intelektual yang melakukan gerakan reformasi. Mereka menuntut konstitusionalisme, liberalisme dan demokrasi parlementer ala Eropa.

Namun, gerakan Turki Muda mengalami jatuh bangun semenjak digulirkan pada 1876 di masa Sultan Murad V yang kepincut terhadap budaya Prancis dan liberalisme Eropa. Mereka adalah para menteri semisal Besir Pasha, Hakim Ismail Pasha dan Ahmed Zuhdu Pasha yang mencoba memodernisasi masyarakat Ottoman Turki dengan wacana pembangunan, kemajuan dan nilai liberal lainnya.

Sayangnya, supremasi historis kaum muda Turki di atas, tak terlihat gelombangnya pada suksesi kepemimpinan Turki Modern. Padahal pada Pilpres Putaran Kedua ini, jelas pertarungan kelompok konservatif vis a vis kelompok liberal.

Turki hari ini menghadapi hiperinflasi di atas 20 persen, recovery pasca bencana gempa bumi, pemberontakan Kurdi, dan terorisme ISIS serta banjir pengungsi dari Suriah. Dari kampanye dua capres, berbagai masalah di atas diangkat sebagai komoditas politik untuk mendapat simpati rakyat.

Erdogan menawarkan penurunan suku bunga untuk menurunkan angka inflasi. Sedangkan, Kilicdaroglu menawarkan investasi asing untuk menurunkan kenaikan barang dan jasa. Rakyat merasakan beban hidup sangat berat lantaran pendapatan dan biaya hidup tak imbang. Nilai mata uang Lira mengalami devaluasi sampai 80 persen atas dolar.

Erdogan berjanji akan memberikan pinjaman rumah selama 20 tahun dan masa tenggang 2 tahun terhadap penduduk Turki Tenggara yang terdampak Gempa Bumi. Rumah ini akan dibangun oleh pemerintah Turki sebanyak 650 ribu rumah susun di wilayah tersebut. Sedangkan, Kilicdaroglu akan memberikan rumah gratis bagi korban gemba yang dimaksud.

Erdogan memandang keamanan adalah masalah utama. Sehingga, gerakan separtis Kurdi, ISIS, dan jaringannya adalah kelompok teroris yang harus dihancurkan. Mereka harus benar-benar tak bisa bergerak sama sekali atas usahanya. Di lain pihak, Kilicdaroglu beranggapan bahwa sebagian kekuatan terorisme adalah bekas sekutu Erdogan Sendiri. Terorisme harus diperangi bukan diajak negosiasi.

Erdogan berjanji akan memulangkan 1 juta pengungsi setelah menyelesaikan pembangunan perumahan di wilayah Suriah Utara yang dikuasainya. Sementara di pihak Kilicdaroglu berjanji mengembalikan pengungsi Suriah sebanyak 3,4 juta ke Tanah Air dalam jangka waktu 2 tahun.

Dari berbagai janji kampanye di atas, Pilpres Turki telah menjadi pertarungan gagasan yang konstruktif bagi masa depan demokrasi di sana. Rakyat ternyata tak disuguhi dengan isu politik identitas yang berbasis SARA. Meski, dua kekuatan politik yang bertarung berbasis ideologi yang berhadap-hadapan secara diametral.

Para kandidat calon, tim kampanye dan koalisi partai pengusung capres tak sampai terseret kampanye hitam dan kekerasan politik. Erdogan dan Kilicdaroglu sama-sama siap menerima keputusan rakyat yang tercermin dari hasil pemilu. Mereka siap menang dan siap kalah.

Dua hari Minggu di bulan Mei 2023 ini adalah hari yang sangat bersejarah bagi tumbuh dan berkembangannya demokrasi Ottoman. Dimana nilai-nilai demokrasi bisa tumbuh subur di negara mayoritas muslim. Padahal jamaknya, demokratisasi di negara-negara Timur Tengah bukan pilihan sukarela rakyat, namun hasil pemaksaan negara asing.

Selain Indonesia, Turki dapat menjadi role model bagi demokrasi dunia Islam yang berhasil mengawinkan idealisme Islam, liberalisme Eropa dan demokrasi Barat.

Harus diakui, Erdogan dengan kritik otokrasinya berhasil membangun demokrasi yang elegan. Dan Kilicdaroglu dengan kritik ultranasionalisnya berhasil pula membuat tapak tilas demokrasi modern bagi Turki.

*Penulis adalah Pendiri Eksan Institute

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya